Tampilkan postingan dengan label Kandangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kandangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Mei 2013

Datu Pujung Membangun Mesjid

Kalau kita ingin menceritakan tentang Datu Pujung, maka ceritanya cukup banyak. Tapi yang ingin saya ceritakan adalah kisah tentang Datu Pujung sewaktu beliau hendak mendirikan mesjid. Masjid yang didirikan masih ada sampai sekarang. Perlu diketahui bahwa Datu Pujung yang diceritakan ini termasuk orang yang berpengetahuan tentang agama.
Sebenarnya Datu Pujung kadang-kadang berada di daerah ini, kadang-kadang di negeri sebelah yaitu dunia datu-datu. Setiap datu tentu mempunyai kejayaan masing-masing, tetapi mereka tidak bermusuhan.
Pada suatu hari beliau datang ke desa Ulin kandangan, yaitu akan mengundang Datu Ulin untuk bergotong royong membangun mesjid, “Apa kabar?” kata Datu Ulin. “kabar baik”, “sesungguhnya lama kita tidak bertemu, mungkin ada yang ingin dibicarakan?”
Sebagimana dua orang saudara angkat yang lama tidak bertemu, maka keduanya asik bercakap-cakap. Ada-ada saja yang mereka perbicarakan, sehingga tidak terasa matahari sudah tinggi. Hampir setengah hari lamanya mereka bercakap-cakap.
Karena meresa perut sudah lapar, berkatalah Datu Ulin kepada sahabatnya, “sekarang apa yang kita lakukan?” “terserah.” Kata Datu Pujung. “aku sebagai tamu mengikuti saja apa yang diinginkan tuan rumah.” “kalau begitu kita masak nasi. Untuk lauknya kita menggulai paku.” “Baiklah”.
Datu Pujung menyangka, yang akan digulai Datu Ulin adalah paku pakis sebagaimana lazimnya. Tetapi ternyata Datu Ulin menggulai paku sungguhan, paku besi. Diam-diam saja karena merasa salah omong.
Setelah sekian lamanya, Datu Ulin segera mengajak sahabatnya itu untuk bersantap. Datu Ulin memakan paku itu dengan nikmatnya, keakan-akan paku itu benda yang lemas dan enak tanpa takut ketulangan. Maklumlah Datu Ulin seorang yang punya kesaktian. Tetapi Datu Pujung tidak berani berbuat demikian. Dalam hati ia berpikir, sungguh keterlaluan sahabatnya ini bergurau. Saya sendiri tidak pernah bebuat demikian. Tetapi ingat, pikir pujung dalam hati, nanti kamu merasa sendiri akibat dari perbuatan ini.
Setelah selesai makan, keduanya duduk-duduk sambil mengisap rokok. Tiba-tiba Datu Pujung berkata, “setiap yang berasal dari besi itu keras”. Sehabis ia mengatakan keras tersebut tiba-tiba paku yang dimakan Datu Ulin mengeras dan menembus perutnya. Tetapi tidak malu kalau dikatakan Datu Ulin seorang yang sakti, karena dengan satu tepukannya, paku-paku itu kembali lemas.
Datu pujung kemudian mengutarakan maksudnya untuk mendirikan mesjid dan mengundang Datu Ulin untuk datang membantu. Sementara itu orang-orang di kampung sudah mempersiapkan segala pekakas bangunan. Ada yang menyumbang tiang, batok, dan segala ramuan yang diperlukan untuk mendirikan mesjid. Papan dibeli dikota Negara. Sedangkan untuk keperluan atap, orang-orang bergotong royong mengumpulkan daun rumbia.setelah semua tersedia, Datu Pujung berkata, “besok kita akan mulai bekerja”.
Untuk melaksanakan pekerjaan, selain penduduk sana, dari tempat lain juga diundang orang-orang yang terkenal kekuatan tenaganya. Pada hari yang ditentukan semua sudah hadir, terutama untuk mendirikan tiang guru. Secara adat semua undangan ditanggung makan minumnya. Tambahan pula Datu Pujung terkenal sebagai Datuk Padi. Artinya dimana beliau berada maka di kampung itu hasil panen akan menjadi berlimpah ruah. Apabila beliau tidak berada ditempat itu maka hasil padi akan berkurang. Apa sebabnya demikian, tak seorang pun tahu. Jadi kalau sekiranya empat puluh orang yang dijamu hingga ratusan orang pun tidak merupakan persoalan besar. Dua tiga warga sudah dapat menyediakannya.
jadi semua orang giat bekerja. ada yang memahat, ada yang membuat pasak untuk tiang dan bermacam-macam pekerjaan lagi. Orang perempuan tidak mau ketinggalan. Mereka bermarai-ramai menghambit, yaitu membuat atap daun rumbia. karena pada zaman bahari yang ada hanya atap daun. Tak ada yang berpaku tangan untuk membangun mesjid tersebut. Orang-orang yang mempunyai tenaga besar, lain pula yang dikerjkannya. Kelihatan mereka saling memerlukan kekuatannya. Kalau dilihat seseorang mengankat tiang yang empat sampai liam depa panjangnnya, maka yang lain bukan hanya sebatang tetapi dua batang sekali angkat. Padahal tiang yang diangkat bukanlah kecil, bahkan ada yang sepemeluk besarnya. Apalagi yang dinamakan tiang guru. karena banyaknya perja yang bertanga besar luar biasa, hanya kira-kira sepuluh orang orang tiang itu sudah bisa diangkat dan didirikan. Setelah itu barulah membuat kuda-kuda belandar dan akhirnya siap untuk dipasang atap.
Hampir tidak terasa waktu lohor telah tiba. Pembangunan mesjid telah selesai. Lalu tibalah waktu untuk bersantap. Ketika akan menyiapkan hidangan, ternyata ikannya tidak cukup. Bagaimana akal. Ikan tidak cuku untuk semua yang hadir.
"Kalau demikian", kata Pujung, "Tunggulah sebentar. Kita tunda dulu makan tengah hari. Saya akan pergi sebentar mencari ikan". Semua orang tak ada yang berani menyangkal kemauan beliau, karena Datu Pujung yang menjadi pemimpin di sana.
"Ke mana datu akan mencari ikan?", tanya seseorang. Menurut cerita, waktu itu Pujung akan mencari ikan ke Negara.
Orang-orang sama bertanya-tanya satu sama lain. bagaimana mungkin tempat yang sejauh itu dapat dicapai pulang pergi dalam waktu singkat. Melihat keraguan orang-orang yang hadir, Pujung berkata, "jangan kuatir, sebentar saja aku sudah kembali".
"Baiklah".
Pujung kemudian menurunkan jukung ke air dan mengambil pengayuh. Menurut cerita, dia mengayuh jukung sangat laju. sekali menrangkuh dayung dia dapat melewati satu rantauan. Dengan kecepatan demikian, tidak lama kemudian sampailah ke Negara.
Sepeninggal Datu Pujung orang-orang kembali ramai membicarakan soal hidangan. Nasi sudah masak. Ditunggu seperempat jam hingga setengah jam, Datu Pujung belum juga tiba. Padahal undangan yang datang dari jauh perlu diberi makan lebih dahulu karena merak bermaksud akan pulang. Kalau demikian lebih baik dimakan seadanya dulu. Nanti apabila beliau datang barulah penduduk setempat makan bersama-sama. Yang penting undangan perlu didahulukan.
Kembali cerita kepada perjalanan Datu Pujung. Tidak berapa lama kemudian setibanya di daerah Negara dia mencari lubuk yang dalam dan banyak ikannya. Dengan membawa sebila rotan yang panjang dia menyelam ke dalam air. Ikan ditangkap denga tangan dan langsung ditusuk dengan rotan. Begitulah kejayaan Datu Pujung. Dia bisa bertahan dalam air, dan mengankap ikan tanpa mempergunakan tombak atau alat lainnya. Dipilihnya ikan yang besar-besar seperti tauman, haruan (gabus), baung dan bermacam-macam ikan lainnya. Tidak lama kemudian cukuplah ikan yang diperolehnya. Ikan dimasukkan ke dalam jukung, dan akhirnya datu pulang dengan kembali ke kampungnya.
Ketika Datu Pujung sampai di tempatnya semula, ternyata sebagian ada yang sudah selesai bersantap, tetapi ada pula yang belum. Melihat demikian Datu Pujung terkejut.
"Bah, ke mana saja orang-orang yang kita undang", seru Pujung. Orang-orang berpandang.
"Sebagian sudah pulang. Undangan yang jauh sudah pulang, tetapi penduduk belum lagi makan, dan masih berada di sekitar ini."
Rupanya beliau sangat marah. Ia bersusah payah mencari ikan ke tempat yang begitu jauh untuk kepentingan semua orang. Setelah ikan yang begitu banyak diperolehnya, ternyata seakan-akan tidak diperdulikan sama sekali.
"Susah kuktakan sedari tadi, tungguh aku dulu baru makanan dihidangkan. Mengapa tidak ada yang mau mendengar kataku. Kalau demikian berarti kalian sama sekali tidak memandang sebelah mata pun padaku. Berati kalian tidak memerlukanku lagi."
Setelah berkata demikian, Datu Pujung kemudian berdiri di muka mesjid yang baru dibangun itu, tidak ambil peduli terhadap orang banyak. Lalu Pujuk meletakkan sebelah kakinya ke mesjid itu, dan menekan ke bawah. Begitu pijakanya, sebagian lantainya amblas ke dalam tanah. Setelah melampiaskan kemarahannya demikian, ia pun menghilang. Orang tidak tahu ke mana perginya setelah itu.
Semua orang ribut dan saling menyalahkan, tetapi apa boleh buat, semua telah terlanjut. Dengan sedih mereka lalu membenahi sisa perkakas bangunan yang tidak terpakai.
Mesjid yang didirikan itu ialah mesjid yang terletak di kampung Banua Halat (dekat kampung penulis blog ini, yaitu di kampung gadung), tidak jauh dari Kota Rantau. Sampai sekarang mesjid itu masih berdiri. Menurut cerita, Datu Pujung kadang-kadang datang ke mesjid itu. Itulah sebabnya mengapa mesjid itu dikeramatkan orang. Kita dapat mengetahui kalau Datu Pujung berada di mesjid tersebut. Caranya. Pada malam Jum'at setelah sembahyang Isya, kipas yang ada di mesjid itu disisihkan ke tepi. Jangan ada yang ketinggalan. Besok, apabila di samping mimbar terdapat sebuah kipas berarti beliau datang bersembahyang disana. Apabila hingga pagi tidak terdapat perubahan, berarti beliau tidak datang bertandang.
Adapula sebuah cerita tentang mesjid Banua Halat yang dianggap keramat itu. Pada zaman penjajahan Belanda, pernah sepasukan tentara datang ke kampung Banua Halat. Ketika mereka melihat bangunan mesjid tersebut mereka bermaksud membakarnya. Tetapi mesjid yang dimaksud bukan mesjid yang dibangun oleh Datu Pujung, tetapi bangunan yang telah dibina untuk ketiga kalinya.
Ketika mereka menyulut mesjid itu dengan api, ternyata tidak mau terbakar. Apa akal. Salah seorang dari tentara Belanda itu mengambil lemak babi dan kemudian barulah mesjid itu dapat mereka bakar. Salah satu tiang yang hangus itu masih ada sampai sekarang. Bila kami masuk ke dalam mesjid itu sekarang, akan tetapi terlihat sebuah tiang yang berwarna hitam bekas terbakar itulah tiangnya.
 
read more...

Senin, 13 Mei 2013

Bacakut Papadaan, Fenomena Perilaku Politik Urang Banjar…

“BAHUAL WAN BUBUHAN JUA…” 

Bacakut papadaan adalah sebuah sinonim yang berkonotasi jelek. Ba-cakut, menurut istilah Banjar Hulu atau ba-kalahi menurut istilah Banjar Kuala, bermakna berkelahi. Sedang papadaan bisa dimaknai sebagai sesama kita. Jadi istilah bacakut papadaan bisa diartikan sebagai perbuatan atau perkelahian antar sesama.
Tetapi sebenarnya bacakut papadaan lebih tepat bila dikatakan sebagai sebuah istilah, yaitu istilah yang menggambarkan tingkah laku atau sifat. Yang dimaksud “sesama” disini bisa sesuku, sebangsa, senegara, sesaudara, sekeluarga, sealiran, sekeyakinan, seagama, seorganisasi dan sesama-sesama lainnya.
Entah bila diartikan ke dalam bahasa Jawa atau Bugis misalnya, karena saya tak pandai berbahasa Jawa dan Bugis. Lagipula kita tidak sedang berbicara masalah bahasa, melainkan mencoba menelaah konteks bacakut papadaan sebagai sebuah perilaku atau sikap dan sifat urang Banjar dalam khazanah perpolitikan di banua ini.

Istilah bacakut papadaan bagi urang banua (baca: masyarakat Banjar) bukanlah hal yang asing. Dalam keseharian kita sering mendengar, bahkan mengucapkan istilah tesebut. Istilah itu disebutkan, manakala mendengar, melihat perselisihan atau pertengkaran antar sesama yang biasanya terjadi adalah antara saudara.
Sekarang ini, istilah bacakut papadaan tidak hanya berlaku pada suatu keadaan dimana terjadi sebuah pertengkaran atau perkelahian yang bersifat riil dan kasat mata. Tapi pada jajaran elite politik kita, berlaku pula istilah tersebut. Dimana pada konteks ini, perselisihan terjadi semata-mata dalam upaya untuk mempertahankan kedudukan atau usaha mencapai kedudukan dan tujuan. Baik bersifat kelembagaan atau organisasi, maupun orang perorangan. Biasanya perselisiahan yang terjadi tidak tampak riil, tetapi aura dan nuansanya dapat dirasakan melalui tingkah laku, perbuatan dan ucapan atau statement yang dikeluarkan.
Pada atmosfir perpolitikan dibanua ini sering kita temui elite politik bersaing dan saling menjatuhkan satu sama lain. Padahal kalau diurut-urut, ternyata pihak yang bacakut adalah orang yang bernaung dalam wadah yang sama. Bahkan tak jarang berasal dari wilayah asal yang sama. Dalam konteks mempertahankan jabatan atau upaya untuk meraihnya, ada kecendrungan untuk menghalalkan segala cara. Pada kondisi ini seringkali norma-norma pertemanan dan kaidah-kaidah politik yang berlaku diabaikan begitu saja. Ibarat pepatah Banjar, nang kaya kodok, tangan manyimbah batis manyipak. Orang tersingkir dan terjungkal sedang dia meloncat maju, tak peduli teman dan cara yang digunakan.

Situasi tersebut, menyebabkan nilai-nilai historis pertemanan yang pernah terjalin ketika sama-sama berjuang, akhirnya tinggal kenangan belaka. Tak jarang kenangan tersebut dijadikan pula sebagai senjata untuk meraih kemenangan. Seringkali elite politik mengeluarkan statement atau pernyataan yang sifatnya menjelekkan musuh politik, berlindung dibalik alasan hutang budi dengan maksud menjatuhkan dan mempengaruhi massa untuk mendapatkan dukungan.

Ada fenomena lucu yang belaku ketika dua orang bakalakuan (berperilaku, red) bacakut papadaan. Ada kalanya disaat dua orang tersebut larut dalam suasana persaingan, akan muncul tokoh lain yang memanfaatkan keadaan. Berusaha tampil mengedepankan kharisma yang seolah bersih, arif dan bijaksana. Pada kondisi ini, salah satu pihak yang sedang bacakut biasanya akan berputar jukung (berputar haluan, red) dan memberi dukungan pada sang pemain baru. Dan ketika tiba saat pengumuman pemenang, kedua pihak yang tadinya gencar bacakutpun terhempas kalah.

Disinilah keunikan tersebut muncul. Dimana kedua pihak yang bacakut justru senang, meski sangat jelas bila mereka tersingkir setelah semua orang tahu aib dan kejelekan mereka. Kondisi ini kemudian memunculkan istilah baru “Nyam ha lucung badudua, dari pada sorang kakalahan”(Lebih sama-sama kalah daripada hanya aku yang kalah, red). Kondisi itu memunculkan suatu fenomena baru tentang kalakuan (prilaku, red) urang Banjar yang kada mau kalah (tidak mau kalah, red), amun saurang kalah mintu jua musuh (Bila memang harus kalah, musuhpun begitu, red). Mun mati, mati ai badudua (Bila harus mati, mati bersama-sama, red).
Sifat dan sikap yang dimunculkan tersebut sekaligus penggambaran akan perilaku tidak sportif dan tidak bisa menerima kekalahan dengan alasan apapun. Ada semacam kepuasan, ketika melihat saingan tidak mendapatkan apa-apa, walaupun ianya diapun tidak mendapatkan apa-apa. Sebuah kepuasan yang absurd sebenarnya.

Sejarah Banjar mencatat banyak peristiwa bacakut papadaan. Bagaimana Pangeran Samudera berselisih dengan Pangeran Arya Temanggung yang nota bene adalah pamannya sendiri alias papadaan atawa bubuhan jua (kerabat/masih bertalian darah, red), yang mengikut sertakan orang Jawa sebagai mediator. Atau perselisihan dan perebutan kekuasaan antara Pangeran Hidayatullah dengan Tamjidillah yang mambawai (mengikutsertakan, red) Belanda untuk campur tangan. Jauh sebelum itu, juga ada peristiwa bacakut papadaan ditanah “Sultan” ini. Yaitu ketika Lambung Mangkurat membunuh dua orang keponakannya, Bambang Sukmaraga dan Bambang Patmaraga, demi sebuah kekuasaan dan permainan politik.

Sejarah kelam bangsa Indonesia yang sukses dijajah Belanda selama 350 tahun, sedikit banyak mempengaruhi sikap, tingkah laku dan pola pikir masyarakat kita. Apalagi dalam upayanya menguasai segenap lini kehidupan bangsa, termasuk banua Banjar, Belanda dengan stategi liciknya menerapkan politik Devide Et Empire. Sebuah strategi politik adu domba dikalangan masyarakat, tokoh penting, jajaran penguasa, raja-raja, sultan dan bahkan dikalangan rakyat jelata. Strategi itu, sukses membentuk karakter dan mentalitas manusia Indonesia untuk tidak mempercayai papadaan atawa bubuhan. Karena memang itulah maksud dan tujuan yang ingin dicapai dengan penerapan strategi tersebut.

Kurun waktu penekanan sistem kolonial yang demikian lama pada aspek-aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya, bagaimanapun juga ikut merubah nilai-nilai yang berkembang. Secara tidak langsung ikut pula memupuk dengan subur perilaku-perilaku buruk yang sudah ada. Ada anggapan sebagian orang, bahwa bacakut papadaan adalah budaya dan perilaku atau streotip dari urang Banjar. Saya pribadi sebagai urang Banjar, tidak sepenuhnya setuju dengan anggapan tersebut. Hanya karena istilah tersebut divokalkan dengan bahasa Banjar bukan berarti ia hanya milik urang Banjar. Saya yakin pada masyarakat luar Banjarpun mempunyai istilah sendiri untuk perilaku bacakut papadaan ini.

Bisa kita amati, betapa khazanah perpolitikan dinegeri Indonesia Raya tercinta yang konon katanya gemah ripah loh jinawi ini, penuh dengan polemik, trik dan intrik. Yang bila diperhatikan, dapat dilihat sebagai manifestasi kalakuan bacakut papadaan jua. Perpecahan yang terjadi ditubuh organisasi politik di Indonesia, ianya disebabkan oleh adanya persaingan intern ditubuh organisasi tersebut. Yang menampilkan ego masing-masing personalnya dan bila di Banjarkan, pasti disambat (dikatakan, red) sebagai perilaku bacakut papadaan pula.

Fenomena bacakut papadaan dibanua ini tak bisa lepas dari kalakuan urang Banjar yang suka manimpakul dan mailung larut (istilah Banjar, artinya kurang lebih suka ikut-ikutan, red). Adanya anggapan bahwa bacakut papadaan merupakan sifat dan budaya urang Banjar dan dianggap sudah ajal (sudah dari sononya, jar urang Jawa), tanpa disadari telah membentuk sikap apatisme yang pada gilirannya menghambat usaha untuk meluruskannya.

Sejarah perpolitikan ditanah Sultan yang senantiasa diwarnai dengan konflik antar sesama, dimana dalam penyelesaiannya selalu merujuk pada pihak ketiga sebagai mediator (Jawa dan Belanda), menimbulkan anggapan negatif terhadap urang Banjar itu sendiri. Hingga akhirnya, urang Banjar dianggap tidak mampu bekerja sama dengan sesama atau bubuhan. Memang, pada era otonomi daerah sekarang ini yang menjadi leader dari tingkatan terendah sampai pada tingkatan tertinggi hampir seluruhnya urang Banua. Namun sangat disayangkan, kalakuan bacakut papadaan senantiasa menyertai perjalanan kepemimpinan mereka sehingga tidak bertahan lama.

Belum lagi masalah-masalah yang timbul dan sengaja ditimbulkan untuk mengganjal kepemimpinan yang ada. Perseteruan, persaingan dan perbedaan pendapat didunia politik adalah hal yang lumrah adanya. Namun ketika hal tersebut dikaitkan dengan istilah katuju bacakut papadaan pada urang Banjar, menimbulkan sebuah image buruk yang bersifat universal. Akibat dari penafsiran yang salah terhadap istilah bacakut papadaan dan sulitnya upaya untuk meluruskannya. Karena bacakut papadaan terlanjur dianggap sifat, sikap dan budaya serta sudah ajal tadi.

Sebenarnya, urang Banjar kental dengan budaya dan sikap kebersamaan. Yang mana terlihat dari adanya istilah samuak saliur, sarantang saruntung, yang nyata-nyata sebagai gambaran wujud kebersamaan. Ada fenomena menarik manakala bubuhan Banjar madam ka banua urang (orang Banjar ketika berkelana ke negeri orang, red). Ada pembagian job discriftion unik manakala urang Kandangan dan rantau dirujuk sebagai pelindung, urang Martapura sebagai imam dan urang Amuntai/Halabiu selaku kaum pebisnis. Job discription baku yang entah berdasarkan persetujuan dari pihak mana. Tetapi nyatanya mendapatkan semacam legalitas dikalangan masyarakat Banjar. Dan hal itu masih berlangsung serta melekat kuat dikalangan Banjar perantauan seperti pada masyarakat Banjar di Tembilahan, Riau maupun mereka yang berada di Malaysia atau Brunei Darussalam, misalnya.

Dari fenomena diatas, terlihat betapa urang Banjar sangat menjunjung tinggi azas kebersamaan. Namun entah kenapa, azas tersebut menjadi surut ketika berkutat di banua saurang (dinegeri sendiri, red). Nah, itulah urang Banjar…
***


Seurce : Myrasta’s Blog
read more...

Sajam Dalam Perspektif Budaya dan Perilaku Urang Banua ( Bagian 2 Habis )

*Sajam Dalam Perspektif Budaya dan Perilaku Urang Banua
Bagian Kedua

Budaya ini, dikalangan urang Rantau dan Kandangan boleh saja dianggap biasa dan bukan tabu, karena faktor-faktor tadi. Namun kondisi ini, bagaimanapun juga memunculkan paradigma baru dikalangan sub etnis Banjar lainnya. Karena mereka tak bersentuhan dengan budaya ini, maka orang yang membawa belati dianggap sebagai urang harat (orang yang hebat, red) atau wani (berani, red).

Pada urang Rantau dan Kandangan, terjadi penilaian terbalik. Di sub etnis ini, justru budaya membawa belati menandakan yang bersangkutan kada harat atau kada wani (tidak hebat, tidak berani, red). Dalam perspektif mereka, urang nang wani dan harat (orang yang berani dan hebat, red) tidak mengandalkan keberadaan belati. Karena pada urang harat dan wani, tercakup kemampuan akan Kuntau (semacam Pencak Silat, red), jagau (jagoan, pemberani,  red) dan taguh (kebal, red), sehingga tidak tergantung pada keberadaan sebuah belati.

Aspek geografis yang membentuk pola hidup, dipandang pengamat Sosial Kemasyarakatan dari FISIP UNLAM Banjarmasin, Taufik Arbain, sebagai faktor dominan pembentukan karakter keras dan budaya belati pada sub etnis Banjar ini.

“Konsep bubuhan yang ada pada urang Rantau dan Kandangan, disatu sisi memunculkan sikap solidaritas yang sangat tinggi. Hingga pada masyarakat Banjar, muncul pribahasa samuak saliur (pribahasa Banjar, artinya kurang lebih sama dengan senasib sepenanggungan, red) dan makanan dimuntung gin diluak sagan kawan (makanan dimulutpun diberikan untuk teman, red) bagi urang Rantau dan Kandangan atau kada titik banyu diganggaman (istilah bahasa Banjar untuk orang yang pelit, red) bagi urang Halabiu,” ujar Taufik yang juga pengamat politik dan Ketua Litbang Dewan Kesenian Kalimantan Selatan.
Karakteristik alam yang keras membentuk jiwa, budaya dan perilaku keras dan tegas pada urang Rantau dan Kandangan. Konsep bubuhan dengan letak pemukiman yang berjauhan, mengharuskan mereka berbicara dengan keras, tegas dan nyaring. 

Budaya belati dan tingkat solidaritas pertemanan yang tinggi dikalangan urang Rantau dan Kandangan, memang tak bisa dipungkiri. Berbeda dengan sub etnis Banjar pesisir yang lebih berorientasi kepada bisnis. Yang mana pada sub etnis ini lebih mengutamakan perhitungan untung rugi dan tawar menawar.
Budaya belati semakin konkrit manakala urang Rantau dan Kandangan dihadapkan pada masalah yang prinsifil dan bersinggungan dengan harga diri. Mungkin tak banyak yang tahu, bahwa bangsa Belanda hanya mempercayakan pembukaan lahan perkebunan tembakau, sekitar abad ke-18, di Sumatra kepada urang Kandangan saja. Bukan kepada urang Jawa, Sulawesi atau sub etnis Banjar yang lain. Bagaimanapun juga, Belanda mengakui kehebatan urang Kandangan dalam merambah hutan. Peristiwa itu akhirnya membuka jalan migrasi bagi sub etnis Banjar lainnya ke Tembilahan, Riau dan Malaysia. 

Tapi karena kerasnya karakteristik dan ketegasan sikap urang Kandangan, mereka enggan menjadi pekerja yang berada dibawah kekuasaan. Hingga mereka lebih memilih sebagai pekerja tanpa ikatan.
Kekerasan dan ketegasan yang ditampil urang Rantau dan Kandangan pulalah  yang akhirnya memicu terjadinya migrasi mereka kebeberapa wilayah, seperti ke Kota Gambut misalnya. Ketika ditempat asal dikuasai oleh satu pihak, mereka lebih memilih madam (pindah/migrasi, red) daripada tunduk pada kekuasaan tersebut.

Akhirnya mungkin dapat ditarik satu benang merah, dimana perilaku dan budaya belati pada urang Rantau dan Kandangan, terbentuk karena keharusan untuk survive yang disebabkan oleh faktor geografis. Dimana hal tersebut, akhirnya menjadikan mereka lebih lambat dalam menerima transformasi budaya luar.
Kekuatan paradigma itu akhirnya terbawa hingga sekarang. Pertentangan aturan yang dibuat pemerintah, tak sanggup melunturkan nilai budaya nenek moyang mereka. Karena peran orang tua bahari yang menyuruh anaknya untuk membawa belati bila bepergian, lebih kental dan lebih kuat tertanam dari pada dogma pemerintah, yang bagi sebagian mereka dianggap sebagai penguasaan atau penaklukan dalam bentuk baru.

Bawa balati tu nah mun bajalan. Mun ada apa-apa ngalih kaina. Lain mun urang nang wani, ayuha kada bagagaman (Bawa belati bila mau bepergian. Susah nanti kalau ada apa-apa. Kalau  orang yang berani tidak apa-apa pergi tanpa senjata),”. Inilah dogma terbesar dan mendasar hingga membuat budaya belati melekat dengan erat dikalangan urang Rantau dan Kandangan.
Tamat

Seurce : Myrasta’s Blog

read more...

Sajam Dalam Perspektif Budaya dan Perilaku Urang Banua


*Sajam Dalam Perspektif Budaya dan Perilaku Urang Banua

Bagian Pertama

Diranah Banjar, terdapat beberapa sub etnis dengan budaya, perilaku dan kearifan lokal masing-masing. Sudah jamak disini, ketika muncul ketentuan baku yang entah mendapatkan legalitas dari mana, tentang pembagian keahlian berdasarkan sub etnis dan perilaku yang dianut. Bagaimana dimasyarakat Banjar, urang (penduduk, red) Rantau dan Kandangan diidentikkan sebagai pelindung, urang Barabai, Amuntai dan Nagara sebagai kaum pebisnis, urang Kelua sebagai ahli perkebunan dan urang Martapura sebagai imam.
Semua tak lepas dari budaya, perilaku dan kearifan lokal yang dianut setiap sub etnis yang ada. Salah satunya adalah perilaku (atau budaya?) urang Rantau dan Kandangan yang tak terpisah dari senjata tajam (disini dikatakan sebagai belati, karena sajam bermakna universal atas senjata, sedang urang kita banua mengistilahkan sajam yang sering dibawa, lebih spesifik lagi dengan sebutan belati atau balati bila dilafalkan dalam bahasa Banjar Pahuluan).

Sebelum berbicara tentang membawa belati sebagai suatu perilaku dan budaya masyarakat, perlu digarisbawahi bahwa urang Rantau dengan urang Kandangan adalah satu kesatuan sub etnis Banjar. Hal itu dibuktikan dengan kesamaan atau kemiripan budaya, bahasa dan ciri fisik.
Mereka menjadi berbeda ketika terpisahkan oleh batas teritorial administratif pemerintahan akibat dari pemekaran wilayah. Dari asal katanya, Rantau yang berarti perantauan, terlihat bila daerah itu dihuni oleh sub etnis terdekatnya yaitu Kandangan, bukan sub etnis yang berbeda. Atau misalnya dari segi bahasa, dimana terdapat kemiripan antara bahasa urang Rantau dengan bahasa urang Sungai Raya, Kandangan, dengan ciri bahasa yang cepat, tinggi dan keras.

Dalam hal membawa belati pada urang Rantau dan Kandangan, disebabkan dua aspek yang saling berhubungan, yaitu sosiologis kultural dan geografis. Secara sosiologis kultural, urang Rantau dan Kandangan memiliki keterlambatan dalam hal transpormasi budaya. Keterlambatan itu sendiri, disebabkan letak geografis wilayah Rantau dan Kandangan yang lebih kedaratan atau pedalaman.
Etnis Banjar yang mendiami daerah pesisir, seperti Banjar sendiri, Nagara, Amuntai dan Alabiu, mengalami transpormasi nilai budaya yang lebih cepat. Karena merekalah yang pertama berinteraksi dengan pihak luar. Berbeda dengan urang Rantau dan Kandangan. Letak geografis yang lebih kedarat, membuat sub etnis ini mempunyai tatanan hidup lebih keras dan toleransi budaya lebih kaku.

Kondisi itu akhirnya membentuk pola dan tatanan hidup yang harus disesuaikan dengan kondisi alam. Hal tersebut berpengaruh langsung pada pola mata pencarian, yaitu berkebun, berhuma dan berburu. Pola itu akhirnya mengharuskan masyarakat dari sub etnis ini senantiasa berlaku protektif dengan membekali diri dengan senjata tajam.

Hal tersebut dikuatkan oleh pandangan dari H Rody Ariadi Noor, seorang tokoh masyarakat Kota Rantau. Dikatakannya, budaya membawa belati pada urang Rantau karena patokan harga diri yang sangat tinggi dan sikap protektif terhadap keluarga.

“Tingginya patokan harga diri pada urang Rantau, menjadikan mereka terkadang over protektif terhadap keluarga. Bila ada keluarga atau kawan yang diganggu orang, mereka siap tampil untuk membela. Ini salah satu penyebab budaya belati yang melekat pada diri urang Rantau,” ujarnya.

Letak geografis dan pola hidup yang keras, memunculkan sebuah konsep bubuhan (kekerabatan, red). Dimana konsep bubuhan ini hanya terdapat pada urang Rantau dan Kandangan. Sedang pada sub etnis Banjar yang lain, seperti sub etnis Banjar pesisir dan Banjar sendiri, mempunyai igelilter atau tingkat toleransi yang lebih tinggi terhadap pengaruh luar.

Tuntutan pola pencarian yang mengharuskan mereka berinteraksi dengan pendatang, membuat sub etnis ini lebih terbuka terhadap transformasi budaya. Selain itu, pada sub etnis Banjar yang nota bene adalah kalangan istana ini, mengharuskan mereka menganut budaya sopan santun yang lebih kental.
Pola hidup berburu dan berkebun pada urang Rantau dan Kandangan, menjadikan resestensi kehidupan mereka kental dengan budaya membawa senjata tajam, dalam hal ini belati. Namun penggunaan belati disini, lebih merujuk kepada upaya untuk survive, karena kondisi alam yang keras.

Hal itu diperkuat pernyataan Madi, seorang warga Rantau yang sering membawa belati. Menurutnya, budaya belati pada urang Rantau semata untuk menjaga diri. “Bagi urang Rantau, belati adalah teman. Bila tidak membawa belati seakan tidak berteman. Karena menurut keyakinan mereka, hanya belati yang mampu melindungi bila sesuatu terjadi. Sedang kawan bisa saja lari,” ujarnya.

bersambung

Seurce : Myrasta’s Blog
read more...

Jumat, 10 Mei 2013

Asal-Usul Banyu Barau Parincahan Hulu Sungai Selatan

Cerita tentang sikap perlawanan anak bangsa, putera Hulu Sungai Selatan yang ada di desa Parincahan (Banyu Barau sekarang) melawan penjajah Ulanda (Belanda) di masa itu.
Ketika itu pihak polisi Ulanda menerima laporan bahwa masyarakat desa Parincahan, tidak mentaati perintah dan tidak mau membayar pajak kepala. Perlawanan ini justru dipimpin oleh “pangerak” (jabatan setingkat Ketua LK sekarang) sendiri.

Atas laporan ini, komandan polisi Ulanda segera melaporkan ke Tuan Kantolor (asisten Kontroler), namun tuan Kantolor sedang berada di Banjarmasin. Sementara menunggu perintah dari tuan kantolor, komandan polisi melakukan konsolidasi dan koordinasi pasukan, guna menyusun siasat dan strategi penyerangan ke kampung Parincahan. Rencana penyerangan ini ternyata bocor dan diketahui oleh masyarakat setempat. Pangerak dan tetuha masyarakat Princahan segera mengadakan “pahadring” (rapat untuk membahas kesiapan menghadapi serangan ini.

Dalam rapat tersebut, disusun rencana yang cukup sederhana namun efektif. Di pinggiran desa arah ke jalan raya dibuat danau cukup luas, namun tidak terlalu dalam. Di sisinya dibuat jamban-jamban besar dari pohon kayu (batang) untuk keperluan MCK (mandi, cucui, kakus). Di tepi danau didirikan sebuah bangunan/balai yang sangat besar, dengan tiang-tiang tinggi terbuat dari pohon pinang. Di tengah bangunan tersebut digantung sebuah ayunan yang juga dalam ukuran besar. Beberapa buah drum minyak tanah tersedia berjejer di tepi danau. Kemudian masyarakat juga menumpuk paku besi dalam beberapa tumpukan di seberang danau laiknya tumpukan sayur.

Tertundanya waktu serangan, dikarenakan menunggu perintah tuan kantolor, memungkinkan masyarakat kampung untuk mengadakan persiapan tersebut.
Sementara itu polisi Ulanda mengumpulkan berbagai informasi tentang situasi desa dan masyarajatnya.
Waktu serangan pun tiba, polisi Ulanda di bawah pimpinan komandannya (satu-satunya Ulanda asli) tentara anggotanya kesemuanya “Ulanda hirang”), segera berangkat menuju desa Parincahan dengan bersenjatakan lengkap, yakni senapan “barujuk”, bayonet dan klewang.
Untuk menuju lokasi desa, pasukan polisi Ulanda dipandu oleh salah seorang warga, yang sebenarnya merupakan anggota kelompok masyarakat yang akan diserang.
Pasukan pun tiba di tepi danau buatan. Setibanya di sana mereka kaget dan tercengang menyaksikan pemandangan yang ada.

Di seberang danau, dibangunan besar, terlihat seorang anak bayi yang berwarna putih bertubuh sangat besar, sebesar orang dewasa, sedang “dipukung”/diayun. Mereka juga menyaksikan tumpukan paku di tepi danau, permukaan danan yang menyala dan jamban-jamban/batang dengan ukuran raksasa.
Dalam keadaan kaget dan ada rasa takut, segera menanyakan keanehan ini kepada penunjuk jalan.
Si penunjuk jalan menceritakan, bahwa:

1. Bayi yang sedang dipukung tersebut adalah anak pangerak.
2. Air danau yang menyala (banyu barau), memang merupakan kebutuhan air penduduk sehari-hari untuk minum, memasak dan mandi/cuci.
3. Jamban-jamban raksasa adalah tempat penduduk desa mandi, mencucui dan buang air.
4. Tumpukan paku merupakan bahan sayur-mayur untuk keperluan makan penduduk sehari-hari.
Mendengar penjelasan tersebut, komandan polisi Ualnda dan anggotanya merasa sangat takut. Rupanya penduduk desa Parincahan yang bakal mereka serang ini adalah para raksasa, dan bukan lawan mereka.
Komandan polisi Ulanda segera mengambil keputusan bahwa serangan dibatalkan, dan memerintahkan pasukan untuk kembali.

Desa tersebut akhirnya diberi nama desa Banyu Barau, dan sang bayi yang tidak lain adalah pangerak itu sendiri yang memamng berpostur tubuh besar, diberi gelar Datu Putih.
Ketika Datu Putih meninggal dunia, beliau dimakamkan di tempat beliau diayun dengan ukuran makam yang luas biasa besarnya, dan sampai sekarang tetap dibina oleh masyarakat setempat dan diberi cat warna putih. Makam ini dikenal dengan nama makam Datu Putih, dan sampai sekarang masih ada.

Seurce : Fiksi Kompasiana
read more...

Selasa, 06 November 2012

Masjid Su'ada Termasuk Masjid Tertua di Kalimantan Selatan

Masjid Sua,ada termasuk masjid tua yang dibangun tahun 1908. Masjid ini terletak di Wasah Hilir, Simpur, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Pendiri masjid ini adalah Syekh Abbas bin Syekh Abdul Jalil dan Syeh Muhammad Said bin Syekh Sa’dudin, dibantu oleh H. Banan (Pambakal Wasah Hilir) dan H.Ishaq (Penghulu Wasah Hilir), Asmail, Burahat, Jala H. Aman, dan H. Mandu. Didirikan diatas tanah wakaf dari Mirun bin Udin dan Asmail bin Abdullah seluas 1047,25 m2. Semua bahan terdiri dari kayu ulin (kayu besi) yang dahulu masih banyak di rimba hutan Kalimantan.
 
 
Masjid Su'ada (Masjid Baangkat) difoto dari samping belakang.

Selasar keliling masjid yang dipagari.

 
Pagar ulin dengan motif kembang.

 
Pintu masjid sangat tinggi dengan kaligrafi dibagian atas.


Gambar dari sudut.



Masjid Sua'ada lebih terkenal dengan nama Masjid Baangkat, artinya masjid panggung, karena kontruksi tongkat masjid berupa panggung.

 
Karena berbentuk bangunan panggung, maka di pintu masuk ada tangga.

 
Plafon kubah yang sangat tinggi.

 
Bedug atau dauh (bahasa Banjar).

 
Tampak depan.

 
Ruangan induk masjid dengan tiang kayu ulin.



Mihrab masjid dengan ukiran motif bunga.

 
Gerbang ruangan imam dengan ukiran.



Penunjuk waktu sholat dengan bantuan sinar matahari. Tertulis Masjid Wasah Ilir tahun 1908 M.



Kontruksi atas bertumpang.


Kubah Syeh H. Abbas bin Syeh Abdul Jalil, yang juga cicit Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Beliau bersama Syeh Muhammad Said bin Syekh Sa’dudin (cicit Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari)
read more...

Jumat, 02 November 2012

Wisata Yang Ada Di Kabupaten Hulu Sungai Selatan

Di bumi Antaludin Kabupaten Hulu Sungai Selatan terdapat beraneka ragam obyek wisata, seperti obyek wisata air panas Tanuhi, air terjun Haratai, air terjun Hanai, goa Berangin Malutu, Goa Mandala, gunung Kentawan, Goa batu Bini, Kalang Hadangan, situs amuk Hantarukung, rumah bersejarah Durian Rabung, rumah Banjar Bumbungan Tinggi, Benteng Madang, pemaningan ikan, Mesjid baangkat, dan lain-lain. Pada masa-masa tertentu dan telah menjadi tradisi rakyat dilaksanakan kegiatan yang mampu menghasilkan gaya magnet untuk menarik wsnu dan wisman serta masyarakat sekitar, seperti aruh ganal, lomba perahu tradisional, begasing, layang-layang hias, layang-layang dandang, bagarakan sahun, malam takbiran, dan arung jeram.



Obyek-obyek wisata dan event tahunan tersebut terhampar pada sebelas kecamatan yang terdapat di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, diantaranya ada yang terletak di pegunungan, di daratan, di rawa, dan di sungai. Semua obyek wisata dan event tahunan yang berada di bumi Antaludin ini merupakan anugerah Allah Yang Maha Kaya, Tuhan sekalian alam yang teramat besar manfaatnya bagi kesejahteraan manusia jika dibina dan dikelola secara profesional.
Informasi tentang keberadaan dan kondisi obyek-obyek wisata dan event tahunan ini akan kami sajikan dengan rangkaian kata yang sederhana. Kedepan, buku informasi wisata ini akan selalu disempurnakan dan ditulis dalam dua bahasa (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) seiring dengan kebutuhan dan dinamika pembangunan kepariwisataan yang ramah lingkungan dan berorientasi pada sapta pesona.


Loksado terletak kurang lebih 40 Km di sebelah timur Kandangan, di kawasan Pegunungan Meratus merupakan wilayah yang menjadi tempat tinggal sisa-sisa masyarakat/orang banjar (orang dayak) yang sebagian besar masih menganut Kepercayaan animisme. Di sekitar Loksado terdapat sejumlah Desa yang dihuni oleh orang Dayak. Mereka tinggal di rumah panjang (Balai) yang merupakan rumah tradisional orang Dayak di wilayah ini. Kemajuan peradapan akibat dari arus informasi yang mengglobal menyebabkan orang-orang Dayak Loksado yang dulunya tinggal di Balai saat ini sebagian kecil sudah memiliki rumah sendiri sebagaimana kebanyakan rumah-rumah di pedalaman lainnya. Sehingga Balai digunakan mereka untuk melaksanakan Aruh Ganal.



Loksado merupakan desa pasar yang cukup penting bagi wilayah sekitarnya. Desa ini merupakan satu-satunya tempat yang masih bisa dicapai dengan mobil. Tempat ini merupakan titik awal bagi wisatawan untuk memulai trekking jika ingin mengeksplorasi wilayah ini.



Kurang lebih 8 Km sebelum Loksado terdapat sebuah desa yang memiliki sumber air panas bernama Air Panas Tanuhi. Di tempat ini telah dibangun cottage dengan arsitektur yang unik yang dilengkapi dengan kolam renang, kolam air panas berendam, kolam air panas gelembung, cafeteria, kantor pengelola, jalan dan jembatan, sanitasi dan loket pos jaga (security), lapangan tenis, tempat santai/istirahat, 10 buah cottage yang mampu menampung 20 orang wisatawan, lanscafe Area. Apabila kita berada di lokasi ini, maka kita akan banyak memperoleh keunggulan, karena disamping menikmati air panas, berenang, berolah raga, juga dengan leluasa dapat memandang alam Loksado yang dikelilingi dengan pegunungan. Di sini pikiran kita jadi jernih, hati kita terasa damai dan tubuh kita terasa nyaman. Oleh karena itu ayo kita tamasya ke Air Panas Tanuhi.



Obyek wisata ini terletak di desa Telaga Bidadari Kecamatan Sungai Raya dengan jarak kurang lebih 8 Km dari kota Kandangan yang dapat ditelusuri dengan mobil. Apabila kita jalan-jalan ke desa Telaga Bidadari kita akan menemukan sumur tua yang tidak akan kering walapun kemarau panjang yang disebut orang Telaga Bidadari.



Telaga ini berukuran 3 x 2 M dengan kedalaman 2 meter, terletak di kawasan tanah pematang yang diteduhi pepohonan. Disepanjang jalan menuju Telaga Bidadari terdapat berbagai macam home industri yang memproduksi ku kering, dodol, kuaci bigi waluh dan ketupat Kandangan. Cerita tentang Telaga Bidadari yang lebih terurai dapat dibaca pada buku Legenda Telaga Bidadari.



Jika anda jalan-jalan ke kecamatan Padang Batung sebalah utara akan bertemu dengan sebuah desa yang bernama Madang dengan dataran cukup tinggi menyerupai sebuah gunung. Dataran tinggi tersebut kemudian di tata dan dibuat oleh Tumenggung Antaluddin atas permintaan dari Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman kemudian dijadikan benteng pertahanan pasukan Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman dalam menghadapi serangan serdadu Belanda.
Tercatat ada lima kali serangan yang dilakukan oleh serdadu belanda dan semuanya dapat dikalahkan oleh pasukan Pangeran Hadayatullah dan Demang Lehman. Serangan-serangan serdadu Baelanda dilakukan pada tanggal 3,4,13,18 dan 22 september 1860. Pada serangan yang keempat tanggal 18 September 1860, pasukan infantry serdadu bgelanda yang dipimpin oleh Kapten Koch dihajar habis-habisan oleh pasukan Pangeran Hidayatullah dan Demang lehman, sehingga banyak serdadu Belanda yang tewas termasuk Kapten Koch.
Saat ini Benteng Madang telah ditata dan direnovasi oleh Pemda HSS dengan anak tangga lebih dari 400 buah dan dapat dijelajahi dengan menggunakan mobil dengan jarak ± 8 Km dari Kota Kandangan.



Jika anda ke Kabupaten Hulu Sungai Selatan, jangan lupa ke desa Hantarukung yang jaraknya ± 7 Km dari kota Kandangan dengan kondisi jalan yang cukup baik (beraspal).
Pada tanggal 18 September 1899 telah terjadi pemberontakan Amuk Hantarukung yang dipelopori oleh Bukhari, Landuk dan Matamin guna menjunjung titah Sultan Muhammad Seman putera Pangeran Antasari dengan semboyan “Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing”. Rakyat Hantarukung tidak bersedia lagi mengerjaka penggalian “garis” Amandit-negara yang diperintahkan oleh Kolonial belanda. Dalam peristiwa ini telah terbunuh Mr. Controler Domes dan Adspranti Wehonleshen serta seorang anak emasnya.
Kejadian terbunuhnya Controler dan Adspirant tersebut segera sampai kepada pejabat Belanda di Kandangan. Pejabat Belanda itu itu sangat marah dan pada tanggal 19 September sekitar pukul 13.00 siang pasukan Belanda datang untuk mengadakan pembalasan dan terjadilah pertempuran sengit antara pasukan Belanda dengan penduduk yang di pelopori oleh bukhari, Landuk dan H. Matamin
Peristiwa ini berlanjut dengan terjadinya pembersihan secara kejam oleh pasukan Belanda terhadap penduduk di Desa hantarukung, Hamparaya, Ulin, Wasah Hilir dan Simpur.
Pada pertempuran tersebut telah gugur sebagai kusuma bangsa dan insya Allah Syahid disisi Allah yakni Bukhari, H.Matamin, Landuk dan Pangeran Yuya. Selain mereka ada juga yang ditangkap oleh Belanda sebanyak 23 orang, diantaranya ada yang mati dalam penjara, ada yang mati digantung dan ada yang dibuang ke luar daerah. Mereka yang mati digantung dikuburkan dipekuburan “Bawah Tandui” di Desa Hantarukung dan dipekuburan “Telaga Gajah” di Desa Amparaya Kecamatan simpur.



Makam Tumpang Talu terletak di Kampung Parincahan Kecamatan Kandangan, berjarak sekitar 1 Km dari pusat kota Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Makam ini adalah makam tiga orang pejuang yakni Bukhari, Landuk dan H.Matamin dalam satu lubang yang gugur pada peristiwa pemberontakan Amuk Hantarukung tanggal 19 September 1899.



Rumah bersejarah ini terletak di desa Durian Rabung Kecamatan Padang Batung, berjarak sekitar 8 Km dari kota Kandangan. Rumah ini milik H.Abdul Kadir yang digunakan sebagai tempat Rapat Pimpinan Markas Besar ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan. Kadang-kadang Bapak Gerilya Kalimantan Brigjen H. Hassan Basry beristirahat di rumah ini.
Kondisi rumah besejarah ini sukup memprihatinkan dan secara bertahap telah direnovasi baik oleh Pemda Hulu Sungai Selatan maupun Pemda Propinsi Kalimantan Selatan tanpa merubah bentuk dantata ruang. Di halaman bagian depan rumah bersejarah ini telah dibangun Tugu Peringatan peristiwa Rapat Pimpinan markas Besar ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan.



Jika anda berwisata ke bumi antaludin, maka mampirlah di makam Al Allamah Syekh H. Sa’dudin (H.M Thayib) di Taniran Kecamatan angkinang yang jaraknya ± 8 km dari kota Kandangan. Beliau merupakan buyut dari pengarang kitab Sabilal Muhtadin, Datu Kelampayan Syekh Maulana H.Muhammad Arsyad Al Banjari. Beliau termasuk sala seorang wali Allah SWT yang sepanjang hidupnya digunakan untuk da’wah agama Islam guna menegakkan kalimat Tauhid agar manusia selamat dunia dan akhirat. Untuk lebih jelasnya mengenai keadaan beliau dimasa hidupnya dapat dipelajari melalui biografi atau manakib beliau.
Makam/kubah Datu Taniran ini merupakan makam yang paling sering dan banyak dikunjungi orang, jika dibandingkan dengan makam/kubah lainya yang terdapat di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.



Al Allamah Syekh H. Akhmad (Datu Akhmad) bin H. M. As’ad bin Syarifah binti Syekh Maulana H. Muhammad Arsyad Al Banjari merupakan ulama yang selama hidupnya mengabdikan diri kepada allah SWT yakni menegakkan dan menyebarkan agama Islam. Beliau mengajarkan Al Qur’an dan Ilmu Tauhid di Desa Balimau Kecamatan Kalumpang Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang letaknya pada daerah perairan yang diapit oleh sungan Balimau dan padang hutan persawahan.
Ibunya bernama Hamidah penduduk asli Desa Balimau, adapun kakak Datu Akhmad yaitu:
a. Al Allamah Syekh H. Abu Thalhah, meninggal dan di makamkan di Kutai, Kalimantan Timur
b. Al Allamah Syekh H. Abdul Hamid, meninggal dan di makamkan di Sampit, Kalimantan Tengah
c. Al Allamah Syekh H. M. Arsyad, meninggal dan di makamkan di Pagatan, Kalimantan Selatan
Sedangkan adik datu Akhmad yakni Al Allamah Syekh H. M. Thayyib (H.Sa’dudin), meninggal dan di makamkan di Taniran, Kecamatan Angkinan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, propinsi Kalimantan Selatan.
Al Allamah Syekh H. Akhmad, diperkirakan meninggal pada abad ke-18 dan dan di makamkan di Pematang Darat komplek kuburan umum. Tatkala akan diadakan haulan, maka pada suatu malam cucu beliau bernama H. Suleman Kuderi di Amuntai, bermimpi bahwa Datu Akhmad merasa kepanasan dan minta dipindahkanmakamnya ke tempat lain, setelah itu sang cucu Shalat sunat dua rakaat untuk meminta petunjuk Allah SWT, kemudian diperiksa di atas kuburan/makam ternyata terdapat tanda putih. Selanjutnya digalilah kuburan/makam tersebut, ternyata jasad/tubuhnya tetap utuh seperti semula. Kemudian kuburannya/makamnya dipindahkan ke Desa Balimau sekitar 40 m dari jalan raya Balimau berseberangan dengan Mesjid dan jauhnya ± 15 km dari kota Kandangan.
Pada tahun 1915 di atas makam itu dibangun kubah dengan ukuran 4 x 8 m. Saat ini makam tersebut sering dan banyak diziarahi ummat Islam, baik berasal dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan maupun luar Kabupaten Hulu Sungai Selatan, terutama pada tanggal 17 Rabiul Awal saat haulan dilaksanan yang dipimpin oleh Al Allamah al arifbillah K. H. Muhammad Zaini Gani guru sekumpul Martapura Kalimantan Selatan.



Mesjid Su’ada atau Mesjid baangkat didirikan oleh Al Allamah Syekh H. Abbas dan Al Allamah Syekh H. Said bin Al Allamah Syekh H. Sa’dudin pada tanggal 28 Zulhijjah 1328 H bersamaan dengan tahun 1908 M yang terletak di desa Wasah Hilir Kecamatan Simpur yang jaraknya ± 7 km dari kota Kandangan. Mesjid ini didirikan di atas tanah wakaf milik Mirun bin Udin dan Asmail bin Abdullah seluas 1047,25 m persegi.
Bentuk bangunan induk mesjid su’ada yakni persegi empat, bertingkat tiga, mempunyai loteng menutup gawang/puncah dan petala/petaka yang megah. Semua itu memunyai makna tertentu sebagai berikut:
a. Tingkat pertama mengandung makna Syariat
b. Tingkat kedua mengandung makna Thariqat
c. Tingkat ketiga mengandung makna Hakikat
d. Loteng mengandung makna Ma’rifat
e. Petala/petaka yang megah berkilauan yang dihiasi oleh cabang-cabang yang sdang berbunga dan berbuah melambangkan kesempurnaan Ma’rifat
Banyak peristiwa yang terjadi seolah-olah aneh, tidak rasional tapi nyata ketika akan dan sedang dalam pembangunan Mesjid tersebut, seperti angina topan bertiup luar biasa keras dan derasnya yang menyebabkan sebatang pohon asam yang besar telah condong sekali akan minmpa rumah Al Allamah Syekh H. M. Said (pendiri Mesjid Su’ada). Dilihat kejadian ini, Al Allamah tersebut mendekati pohon tersebut dan mendorongnya dengan berlawanan arah, maka dengan pertolongan Allah SWT angin topan yang dahsyat itu berbalik arah sehingga pohon asam ini tumbang dan selamatlah ulama tersebut.
Kejadian lain yakni salah satu tiang utama Mesjid kurang panjang ± 10 cm, sehingga mengalami kesulitan untuk pendirian bangunan Mesjid. Dengan izin Allah, keesokkan harinya tiang tersebut menjadi bertambah panjang sesuai kebutuhan. Peristiwa lainnya, yakni ditengah perjalanan antara Kalumpang dan Negara, rombongan Al Allamah Syekh H. M. Said kehabisan ikan untuk makan, tiba-tiba seekor ikan besar melompat ke perahu mereka dan akhirnya mereka mempunyai ikan untuk makan bersama. Kejadian lainnya yakni rombongan tersebut pada malam hari di perahu tidak bisa tidur karena kenyamukan, tiba-tiba dengan pertolongan Allah SWT, ternyata nyamuk tersebut menghilang, sehingga rombongan Al Allamah Syekh H. M. Said dapat tidur.

Wisata Budaya



Melalui intervieu berstruktur dengan pengurus PERMADA (Persatuan Masyarakat Dayak) Loksado dib alai Informasi (sekretarian PERMADA) diperoleh informasi bahwa ada tiga kalai aruh ganal yang dilaksanakan oleh masing-masing balai di atas pada setiap tahun. Aruh ganal tersebut dilaksanakan pada malam hari yaitu:
1. Aruh Basambu
Aruh ganal ini biasanya dilaksanakan pada bulan Februari, yakni ketika orang dayak selesai melaksanakan tanam padi (behuma / menugal).
2. Aruh Bawanang Lalaya
Aruh ganal ini biasanya dilaksanakan pada bulan Juni, yakni ketika masyarakat dayak melaksanakan panen padi.
3. Aruh Bawang Banih Halin
Aruh ganal ini biasanya dilaksanakan pada bulan September. Aruh ini merupakan aruh penutup karena masarakat dayak Loksado telah selesai melaksanakan panen padi.



Acara aruh ganal diisi dengan berbagai tarian adat yang lamanya antara 3 sampai 9 hari. Tarian adat yang disajikan pada aruh ganal tersebut seperti Batandik, tari Kanjar dan tari Bangsai. Perlengkapan yang dipergunakan pada tari batandik yakni sarung, ikat pinggang kain putih, gelang hiayang, laung, gendang, manyan, kapur, baju dan celana. Pada tari kanjar perlengkapan yang diperguanakan yakni baju lengan panjang, ikat pinggang kuning, laung dan celana, sedangkan pada tari bangsai dengan penarinya khusus wanita menggunakan baju kebaya, kakamban, dan tapih bahalai.

Kegiatan tradisional yang dimiliki oleh orang dayak Loksado yang masih akses sampai sekarang yakni:
1. Naik dari manau (bersifat ghaib)
2. Tari kurung-kurung
3. Basambui (orang sakit diobati secara kebathinan)
4. Sumbiyang (membuat orang jadi sakit kemudian disembuhkan).

Sekian dahulu informasi wisata di Kandangan, semoga di lain kesempatan informasi ini dapat di update dengan info terbaru.

Sumber: Dinas Pariwisata dan Budaya kabupaten Hulu Sungai Selatan.
read more...

Asal Mula Nama Marabahan


Marabahan adalah salah satu ibukota kabupaten di Kalimantan Selatan yaitu Kabupaten Barito Kuala. Kabupaten ini merupakan satu-satunya kabupaten yang 100% rawa-rawa, seluruh wilayahnya terletak di daerah aliran sungai Barito.
Asal nama Marabahan memiliki dua versi cerita. Versi pertama adalah sebagai berikut : nama Marabahan berasal dari kata Muara Bahan, karena letaknya di persimpangan sungai besar yaitu Sungai Barito dan Sungai Nagara. Setiap musim hujan air bah yang sampai ke Muara Bahan selalu membawa kayu-kayu hutan di hulu Barito yang hanyut sampai ke hilir. Oleh masyarakat setempat kayu-kayu ini diambil dan disimpan, saking banyaknya sehingga daerah ini terkenal dengan nama asal bahan-bahan kayu. Sehingga setiap orang menyebut daerah ini dengan Muara Bahan. Akhirnya setelah mengalami beberapa perubahan kata menjadilah nama Marabahan sebagai sebutan daerah tersebut.
Versi kedua adalah sebagai berikut :
Pada jaman dahulu di daerah hulu sungai yaitu disekitar Kandangan, tumbuh sebuah pohon ulin (kayu besi) yang sangat tinggi dan besar. Pada mulanya, masyarakat di sekitar pohon ulin merasa tidak terganggu, namun sejak kehadiran seekor burung besar yang bersarang di pohon tersebut, masyarakat merasa terganggu dengan suara burung yang terus memkik sepanjang malam. atas kesepatan masyarakat, akhirnya diputuskan pohon ulin tersebut di tebang dengan harapan burung besar tersebut akan berpindah.
dimulailah penebangan pohon ulin oleh masyarakat dengan alat tardisional. Karena pohon yang ditebang sangat besar, penebangan memakan waktu berminggu-mingu, namun masyarakat terus berupaya sampai akhirnya pohon ulin tersebut tumbang ke arah selatan. Saking tingginya pohon tersebut pucuknya sampai menimpa daerah yang sekarang dinamanakan Marabahan. Artinya daerah ini mengalami "karabahan" pohon ulin. Tempat tumbuhnya pohon ulin tersebut sekarang dinamakan Kampung Ulin, yaitu sekitar 7 km arah barat Kandangan.
Demikian legenda nama asal mula Marabahan, terlepa dari benar tidaknya cerita ini, Wallahu 'alam.

seurce
read more...

Kamis, 18 Oktober 2012

KATUPAT KANDANGAN


Siapa yang kada tahu lawan katupat kandangan, bilang kaliwaran banar kalau kada tahu. Katupat sudah manjadi cirri khas hagan kandangan selain dodol atau kuliner lainnya. Apalagi wayahni sudah ada tugu hari jadi Kab. HSS yang ibu kotanya Kandangan. Di tugunya ada katupatnya dua biji, sampai anak cucu 7 turunan kada habis tu katupat dimakani barataan. Tugu ni adanya di Desa Hamalau Kec Sungai Raya
Keberadaan Tugu Hari jadi yang menggunakan symbol Katupat Kandangan semakin memperkuat posisi Katupat sebagai kuliner ciri khas dan unggulan dari Kandangan, Hal ini sesuai dengan visi Kabupaten HSS yang Mandiri, Unggul dan Religius. Simbol katupat ini juga ada di Bundaran Jl. H.M Yusi  yang menuju ke Terminal Bus Kandangan.
Ketupat Kandangan atau orang Banjar biasa menyebutnya Katupat Kandangan merupakan kuliner khas yang berasal dari daerah Kandangan, Kab. Hulu Sungai Selatan,Kalimantan Selatan. Seperti ketupat pada umumnya, bahan untuk membuat ketupat berasal dari beras, yang dimasukkan dalam ayaman daun kelapa yang berbentuk seperti limas, yang selanjutnya direbus. Yang membedakan dengan jenis ketupat lainnnya adalah penggunaan ikan gabus (haruan) sebagai menu pelengkap. Ikan Gabus sebelumnya harus di panggang dulu sebelum direbus menggunakan santan. Kemudian, Ikan Gabus beserta kuahnya disiramkan ke ketupat. Kuliner ini dapat dimakan untuk makan pagi, siang atau malam. Kuah agak kental dengan rasa yang sangat khas gurih. Kadang-kadang orang juga senang makan katupat kandangan ini dengan telur asin.
read more...

Rabu, 07 Maret 2012

Legenda Batu Bangkai ( Loksado )

Loksado adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, Indonesia. Di daerah ini terdapat sebuah gunung yang memiliki nama yang cukup unik, yaitu Gunung Batu Bangkai. Masyarakat setempat menamakannya demikian, karena di gunung tersebut ada sebuah batu yang mirip dengan bangkai manusia. Konon, kehadiran batu bangkai tersebut berasal dari sebuah cerita legenda yang sampai saat ini masih berkembang di kalangan masyarakat Banjar Hulu di Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Cerita legenda ini mengisahkan tentang seorang anak laki-laki bernama Andung Kuswara yang durhaka kepada umanya. Karena kedurhakaannya, Tuhan menghukum si Andung menjadi batu.

Konon pada zaman dahulu, di suatu tempat di Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, hiduplah seorang janda tua bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Andung Kuswara. Ia seorang anak yang baik dan pintar mengobati orang sakit. Ilmu pengobatan yang ia miliki diperoleh dari abahnya yang sudah lama meninggal. Andung dan umanya hidup rukun dan saling menyayangi. Setiap hari mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Andung mencari kayu bakar atau bambu ke hutan untuk membuat lanting untuk dijual, sedangkan umanya mencari buah-buahan dan daun-daunan muda untuk sayur.

Suatu hari, Andung pergi ke hutan seorang diri. Karena keasyikan bekerja, tak terasa waktu telah beranjak senja, maka ia pun bergegas pulang. Di tengah perjalanan, ia mendengar jeritan seseorang meminta tolong. Andung segera berlari menuju arah suara itu. Ternyata, didapatinya seorang kakek yang kakinya terjepit pohon. Andung segera menolong dan mengobati lukanya. “Terima kasih banyak, anakku!” kata orang tua itu. Dia kemudian mengambil sesuatu dari lehernya. “Hanya benda ini yang dapat kai berikan sebagai tanda terima kasih. Mudah-mudahan kalung ini membawa keberun¬tungan bagimu,” ucap kakek itu seraya mengulurkan sebuah kalung kepada Andung. Setelah mengobati kakek itu, Andung bergegas pulang ke rumahnya.

Sesampai di rumah, Andung menceritakan kejadian tadi kepada umanya. Usai bercerita, Andung menyerahkan kalung pemberian kakek itu sambil berkata, “Uma, tolong simpan kalung ini baik-baik”. Umanya menerima dan memerhatikan benda itu dengan saksama. “Sepertinya ini bukan kalung sembarangan, Nak. Lihatlah, sungguh indah!” kata Uma Andung dengan takjub. Setelah itu, Uma Andung menyimpan kalung tersebut di bawah tempat tidurnya.

Kehidupan terus berjalan. Pada suatu hari, Andung terlihat termenung seorang diri. “Ya Tuhan, apakah kehidupanku akan seperti ini selamanya? Aku ingin hari depanku lebih baik daripada hari ini. Tapi…bagaimana caranya?” kata Andung dalam hati. Sejenak ia berpikir mencari jalan keluar. Tiba-tiba, terlintas dalam pikiran Andung untuk pergi merantau. “Hmm…lebih baik aku merantau saja. Dengan begitu aku dapat mengamalkan ilmu pengobatan yang telah aku peroleh dari abah dulu. Siapa tahu dengan merantau akan mengubah hidupku,” gumam Andung dengan semangat. Namun, apa yang ada dalam pikirannya tidak langsung ia utarakan kepada umanya. Rasa ragu masih menyelimuti hati dan pikirannya. Jika ia pergi merantau, tinggallah umanya sendiri. Tetapi, jika ia hanya mencari kayu bakar dan bambu setiap hari, lalu kapan kehidupannya bisa berubah. Pikiran-pikiran itulah yang ada dalam benaknya.

Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Andung benar-benar sudah tidak tahan lagi hidup miskin. Keraguannya untuk meninggalkan umanya pun lenyap. Dorongan hati Andung untuk merantau sudah tak terbendung lagi. Suatu hari, ia pun mengutarakan maksud hatinya kepada umanya. “Uma, Andung ingin mengubah nasib kita. Andung memutuskan untuk merantau ke negeri seberang. Oleh karena itu, Andung mohon izin dan doa restu, Uma,” kata Andung dengan hati-hati memohon pengertian umanya. “Anakku, sebenarnya Uma sudah bersyukur dengan keadaan kita saat ini. Tetapi, jika keinginan hatimu sudah tak terbendung lagi, dengan berat hati Uma akan melepas kepergianmu,” sahut Uma Andung memberikan izin.

Setelah mendapat restu dari umanya, Andung segera berkemas dengan bekal seadanya. Andung membawa masing-masing sehelai kain, baju dan celana. Memang hanya itu yang ia miliki. Ketika Andung hendak meninggalkan gubuk reotnya, Uma berpesan kepadanya. “Andung ..., ingatlah Uma! Ingat kampung halaman dan tanah leluhur kita. Jangan pernah melupakan Tuhan Yang Mahakuasa. Walau berat, Uma tak bisa melarangmu pergi. Jika takdir menghendaki, kita tentu akan berkumpul kembali,” kata sang Uma dengan sedihnya.

Mendengar nasihat umanya, Andung tak kuasa menahan air matanya. “Andung, bawalah kalungmu ini. Siapa tahu kelak kamu memerlukannya,” ujar Uma Andung melanjutkan. Setelah menerima kalung itu, Andung kemudian berpamitan kepada umanya. Andung mencium tangan umanya, lalu umanya membalasnya dengan pelukan erat. Sesaat, suasana haru pun meliputi hati keduanya. Ketika Uma memeluk Andung, beberapa tetes air mata menyucur dari kelopak matanya, jatuh di atas pundak Andung. “Maafkan Andung, Uma! Andung berjanji akan segera kembali jika sudah berhasil,” kata Andung memberi harapan kepada umanya. “Iya Nak. Cepatlah kembali kalau sudah berhasil! Hanya kamulah satu-satunya milik Uma di dunia ini,” jawab Uma penuh harapan. Beberapa saat kemudian, Uma berucap kepada Andung. “Segeralah berangkat Andung, agar kamu tak kemalaman di tengah hutan.”

Andung mencium tangan umanya untuk terakhir kalinya, lalu pamit. Andung berangkat diiringi lambaian tangan Uma yang sangat dikasihinya. “Selamat jalan, anakku. Jangan lupa cepat kembali,” teriak Uma dengan suara serak. “Tentu, Uma!” sahut Andung sambil berjalan menoleh ke arah umanya. “Jaga diri baik-baik, Uma! Selamat tinggal! Uma baru beranjak dari tempatnya setelah Andung yang sangat disayanginya hilang di balik pepohonan hutan. Sejak itu, tinggallah Uma Andung sendirian di tengah hutan belantara.

Berbulan-bulan sudah Andung meninggalkan umanya. Andung terus berjalan. Banyak kampung dan negeri telah dilewati. Berbagai pengalaman didapat. Ia juga telah mengobati setiap orang yang memerlukan bantuannya.

Suatu siang yang terik, tibalah Andung di Kerajaan Basiang yang tampak sunyi. Saat menyusuri jalan desa, Andung bertemu dengan seorang petani yang kulitnya penuh dengan koreng dan bisul. Andung kemudian mengobati petani itu. Dari orang tersebut Andung mengetahui jika Negeri Basiang sedang tertimpa malapetaka berupa wabah penyakit kulit. Karena berhutang budi kepada Andung, orang itu mengajak Andung tinggal di rumahnya. Setiap hari, penduduk yang terjangkit penyakit berdatangan ke rumah orang tua itu untuk berobat kepada Andung. Seluruh penduduk yang telah diobati oleh Andung sembuh dari penyakitnya. Berita perihal kepandaian Andung dalam mengobati pun menyebar ke seluruh negeri.

Suatu hari, berita kepandaian Andung mengobati penyakit tersebut akhirnya sampai ke telinga Raja Basiang. Sang Raja pun mengutus hulubalang menjemput Andung untuk mengobati putrinya. Beberapa lama kemudian, hulubalang tersebut sudah kembali ke istana bersama Andung. Andung yang miskin dan kampungan itu sangat takjub melihat keindahan bangunan istana. Ia berjalan sambil mengamati setiap sudut istana yang dihiasi ratna mutu manikan. Tak disadari, ternyata sang Raja sudah ada di hadapannya. Andung pun segera memberi salam dan hormat kepadanya. “Salam sejahtera, Tuanku,” sapa Andung kepada Baginda.

Sang Raja menyambut Andung dengan penuh harapan. Dia kemudian menyampaikan maksudnya kepada Andung. “Hai anak muda! Ketahuilah, putriku sudah dua minggu tergolek tak berdaya. Semua tabib di negeri ini sudah saya kerahkan untuk mengobatinya, namun tak seorang pun yang mampu menyembuhkannya. Apakah kamu bersedia menyembuhkan putriku?” tanya sang Raja. “Hamba hanya seorang pengembara miskin. Pengetahuan obat-obatan yang hamba miliki pun sedikit. Jika nantinya hamba gagal menyembuhkan Tuan Putri, hamba mohon ampun Paduka,” kata Andung merendah.

Andung pun dipersilakan masuk ke kamar Putri. Putri tergolek kaku di atas pembaringannya. Wajahnya pucat pasi dan bibirnya tertutup rapat. Walupun pucat pasi, wajah sang Putri tetap memancarkan sinar kecantikannya. “Aduhai, cantik sangat sang Putri,” ucap Andung menaruh hati kepada sang Putri. Sesaat kemudian, Andung pun mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk membangunkan sang Putri. Namun, sang Putri tetap tak bergerak. Andung mulai panik. Tiba-tiba, hati Andung tergerak untuk mengambil kalung pemberian kakek yang ditolongnya dulu. Andung meminta kepada pegawai istana agar disiapkan air dalam mangkuk. Setelah air tersedia, lalu Andung segera merendam kalungnya beberapa saat. Kemudian air rendaman diambil dan dibacakan doa, lalu ia percikkan beberapa kali ke mulut sang Putri. Tak berapa kemudian, sang Putri pun terbangun. Matanya yang kuyu perlahan-lahan terbuka. Wajahnya segar kembali. Akhirnya, Putri dapat bangkit dan duduk di pembaringan.

Semua penghuni istana turut bergembira dan merayakan kesembuhan sang Putri. Paduka Raja sangat berterima kasih atas kesembuhan putri satu-satunya yang sangat ia cintai Atas jasanya tersebut, Andung kemudian dinikahkan dengan sang Putri. Pesta perkawinan dilaksanakan tujuh hari tujuh malam. Semua rakyat bersuka ria merayakannya. Putri tampak berbahagia menerima Andung sebagai suaminya. Demikian pula Andung yang sejak pandangan pertama sudah jatuh cinta pada sang Putri. Mereka berdua melalui hari-hari dengan hidup bahagia.

Minggu dan bulan terus berganti. Istri Andung pun hamil. Dalam kondisi hamil muda sang Putri mengidam buah kasturi yang hanya tumbuh di Pulau Kalimantan. Karena cintanya kepada sang Putri begitu besar, Andung pun mengajak beberapa hulubalang dan prajurit untuk ikut bersamanya mencari buah kasturi ke Pulau Kalimantan.

Setibanya di Pulau Kalimantan, Andung berangkat ke daerah Loksado untuk mencari sebatang pohon kasturi yang dikabarkan sedang berbuah di sana. Alangkah terkejutnya Andung, karena pohon kasturi itu berada tepat di depan rumahnya dulu. Andung segera mengajak hulubalang dan para prajuritnya kembali. Rupanya ia tidak mau bertemu dengan umanya.

Mendengar keributan di luar rumahnya, seorang nenek tua renta berjalan terseok-seok menuju ke arah rombongan tersebut. “Andung..., Andung Anakku...!” suara nenek tua yang serak memanggil Andung. Dengan terbungkuk-bungkuk nenek itu mengejar rombongan Andung.

Andung menoleh. Ia tersentak kaget melihat sang Uma yang dulu ditinggalkannya sudah tua renta. Karena malu mengakui sebagai umanya, Andung membentak, “Hai nenek tua! Aku adalah raja keturunan bangsawan. Aku tidak kenal dengan nenek renta dan dekil sepertimu! ujar Andung kemudian memalingkan muka dan pergi.

Hancur luluh hati sang Uma dibentak dan dicaci maki oleh putra kandungnya sendiri. Nenek tua yang malang itu pun berdoa, “Ya, Tuhan Yang Mahakuasa, tunjukkanlah kekuasaan dan keadilan-Mu,” tua renta itu berucap pelan dengan bibir bergetar. Belum kering air liur tua renta itu berdoa, halilintar sambar-menyambar membelah bumi. Kilat sambung-menyambung. Langit mendadak gelap gulita. Badai bertiup menghempas keras. Tak lama kemudian, hujan lebat tumpah dari langit. Andung berteriak dengan keras, “Maafkan aku, Uma...!” Tapi siksa Tuhan tak dapat dicabut lagi. Tiba-tiba Andung berubah menjadi batu berbentuk bangkai manusia.

Sejak itu, penduduk di sekitarnnya menamai gunung tempat peristiwa itu terjadi dengan sebutan Gunung Batu Bangkai, karena batu yang mirip bangkai manusia itu berada di atas gunung. Gunung Batu Bangkai ini dapat dijumpai di Kecamatan Loksado, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

Lanting : rakit kecil.
Uma : ibu
Kai : kakek
Abah : ayah

Sumber : Sumber Cerita
read more...