Tampilkan postingan dengan label All About Banjar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label All About Banjar. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juli 2015

LIRIK LAGU BANJAR PAMBATANGAN & VIDEO BY RADJA

Matan di hulu
Mambawa rakit bagandengan
Bahanyut matan di udik Barito
Awal hari baganti minggu

            Siang dan malam
            Waktu hari baganti hari
            Istilah urang mancari rajaki
            Kada talapas lawan gawi

Panas hujan kada manjadi papantangan
Kada heran tatap dirasaakan
Mananjak batang sambil barami-ramian
Akhirnya sampai katujuan a..a..a..


          Inilah nasib manjadi urang pambatangan
          Amun nasib sudah ditantuakan
          Insya Allah ada harapan 

2x (Repeat)
read more...

Senin, 13 Mei 2013

Bacakut Papadaan, Fenomena Perilaku Politik Urang Banjar…

“BAHUAL WAN BUBUHAN JUA…” 

Bacakut papadaan adalah sebuah sinonim yang berkonotasi jelek. Ba-cakut, menurut istilah Banjar Hulu atau ba-kalahi menurut istilah Banjar Kuala, bermakna berkelahi. Sedang papadaan bisa dimaknai sebagai sesama kita. Jadi istilah bacakut papadaan bisa diartikan sebagai perbuatan atau perkelahian antar sesama.
Tetapi sebenarnya bacakut papadaan lebih tepat bila dikatakan sebagai sebuah istilah, yaitu istilah yang menggambarkan tingkah laku atau sifat. Yang dimaksud “sesama” disini bisa sesuku, sebangsa, senegara, sesaudara, sekeluarga, sealiran, sekeyakinan, seagama, seorganisasi dan sesama-sesama lainnya.
Entah bila diartikan ke dalam bahasa Jawa atau Bugis misalnya, karena saya tak pandai berbahasa Jawa dan Bugis. Lagipula kita tidak sedang berbicara masalah bahasa, melainkan mencoba menelaah konteks bacakut papadaan sebagai sebuah perilaku atau sikap dan sifat urang Banjar dalam khazanah perpolitikan di banua ini.

Istilah bacakut papadaan bagi urang banua (baca: masyarakat Banjar) bukanlah hal yang asing. Dalam keseharian kita sering mendengar, bahkan mengucapkan istilah tesebut. Istilah itu disebutkan, manakala mendengar, melihat perselisihan atau pertengkaran antar sesama yang biasanya terjadi adalah antara saudara.
Sekarang ini, istilah bacakut papadaan tidak hanya berlaku pada suatu keadaan dimana terjadi sebuah pertengkaran atau perkelahian yang bersifat riil dan kasat mata. Tapi pada jajaran elite politik kita, berlaku pula istilah tersebut. Dimana pada konteks ini, perselisihan terjadi semata-mata dalam upaya untuk mempertahankan kedudukan atau usaha mencapai kedudukan dan tujuan. Baik bersifat kelembagaan atau organisasi, maupun orang perorangan. Biasanya perselisiahan yang terjadi tidak tampak riil, tetapi aura dan nuansanya dapat dirasakan melalui tingkah laku, perbuatan dan ucapan atau statement yang dikeluarkan.
Pada atmosfir perpolitikan dibanua ini sering kita temui elite politik bersaing dan saling menjatuhkan satu sama lain. Padahal kalau diurut-urut, ternyata pihak yang bacakut adalah orang yang bernaung dalam wadah yang sama. Bahkan tak jarang berasal dari wilayah asal yang sama. Dalam konteks mempertahankan jabatan atau upaya untuk meraihnya, ada kecendrungan untuk menghalalkan segala cara. Pada kondisi ini seringkali norma-norma pertemanan dan kaidah-kaidah politik yang berlaku diabaikan begitu saja. Ibarat pepatah Banjar, nang kaya kodok, tangan manyimbah batis manyipak. Orang tersingkir dan terjungkal sedang dia meloncat maju, tak peduli teman dan cara yang digunakan.

Situasi tersebut, menyebabkan nilai-nilai historis pertemanan yang pernah terjalin ketika sama-sama berjuang, akhirnya tinggal kenangan belaka. Tak jarang kenangan tersebut dijadikan pula sebagai senjata untuk meraih kemenangan. Seringkali elite politik mengeluarkan statement atau pernyataan yang sifatnya menjelekkan musuh politik, berlindung dibalik alasan hutang budi dengan maksud menjatuhkan dan mempengaruhi massa untuk mendapatkan dukungan.

Ada fenomena lucu yang belaku ketika dua orang bakalakuan (berperilaku, red) bacakut papadaan. Ada kalanya disaat dua orang tersebut larut dalam suasana persaingan, akan muncul tokoh lain yang memanfaatkan keadaan. Berusaha tampil mengedepankan kharisma yang seolah bersih, arif dan bijaksana. Pada kondisi ini, salah satu pihak yang sedang bacakut biasanya akan berputar jukung (berputar haluan, red) dan memberi dukungan pada sang pemain baru. Dan ketika tiba saat pengumuman pemenang, kedua pihak yang tadinya gencar bacakutpun terhempas kalah.

Disinilah keunikan tersebut muncul. Dimana kedua pihak yang bacakut justru senang, meski sangat jelas bila mereka tersingkir setelah semua orang tahu aib dan kejelekan mereka. Kondisi ini kemudian memunculkan istilah baru “Nyam ha lucung badudua, dari pada sorang kakalahan”(Lebih sama-sama kalah daripada hanya aku yang kalah, red). Kondisi itu memunculkan suatu fenomena baru tentang kalakuan (prilaku, red) urang Banjar yang kada mau kalah (tidak mau kalah, red), amun saurang kalah mintu jua musuh (Bila memang harus kalah, musuhpun begitu, red). Mun mati, mati ai badudua (Bila harus mati, mati bersama-sama, red).
Sifat dan sikap yang dimunculkan tersebut sekaligus penggambaran akan perilaku tidak sportif dan tidak bisa menerima kekalahan dengan alasan apapun. Ada semacam kepuasan, ketika melihat saingan tidak mendapatkan apa-apa, walaupun ianya diapun tidak mendapatkan apa-apa. Sebuah kepuasan yang absurd sebenarnya.

Sejarah Banjar mencatat banyak peristiwa bacakut papadaan. Bagaimana Pangeran Samudera berselisih dengan Pangeran Arya Temanggung yang nota bene adalah pamannya sendiri alias papadaan atawa bubuhan jua (kerabat/masih bertalian darah, red), yang mengikut sertakan orang Jawa sebagai mediator. Atau perselisihan dan perebutan kekuasaan antara Pangeran Hidayatullah dengan Tamjidillah yang mambawai (mengikutsertakan, red) Belanda untuk campur tangan. Jauh sebelum itu, juga ada peristiwa bacakut papadaan ditanah “Sultan” ini. Yaitu ketika Lambung Mangkurat membunuh dua orang keponakannya, Bambang Sukmaraga dan Bambang Patmaraga, demi sebuah kekuasaan dan permainan politik.

Sejarah kelam bangsa Indonesia yang sukses dijajah Belanda selama 350 tahun, sedikit banyak mempengaruhi sikap, tingkah laku dan pola pikir masyarakat kita. Apalagi dalam upayanya menguasai segenap lini kehidupan bangsa, termasuk banua Banjar, Belanda dengan stategi liciknya menerapkan politik Devide Et Empire. Sebuah strategi politik adu domba dikalangan masyarakat, tokoh penting, jajaran penguasa, raja-raja, sultan dan bahkan dikalangan rakyat jelata. Strategi itu, sukses membentuk karakter dan mentalitas manusia Indonesia untuk tidak mempercayai papadaan atawa bubuhan. Karena memang itulah maksud dan tujuan yang ingin dicapai dengan penerapan strategi tersebut.

Kurun waktu penekanan sistem kolonial yang demikian lama pada aspek-aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya, bagaimanapun juga ikut merubah nilai-nilai yang berkembang. Secara tidak langsung ikut pula memupuk dengan subur perilaku-perilaku buruk yang sudah ada. Ada anggapan sebagian orang, bahwa bacakut papadaan adalah budaya dan perilaku atau streotip dari urang Banjar. Saya pribadi sebagai urang Banjar, tidak sepenuhnya setuju dengan anggapan tersebut. Hanya karena istilah tersebut divokalkan dengan bahasa Banjar bukan berarti ia hanya milik urang Banjar. Saya yakin pada masyarakat luar Banjarpun mempunyai istilah sendiri untuk perilaku bacakut papadaan ini.

Bisa kita amati, betapa khazanah perpolitikan dinegeri Indonesia Raya tercinta yang konon katanya gemah ripah loh jinawi ini, penuh dengan polemik, trik dan intrik. Yang bila diperhatikan, dapat dilihat sebagai manifestasi kalakuan bacakut papadaan jua. Perpecahan yang terjadi ditubuh organisasi politik di Indonesia, ianya disebabkan oleh adanya persaingan intern ditubuh organisasi tersebut. Yang menampilkan ego masing-masing personalnya dan bila di Banjarkan, pasti disambat (dikatakan, red) sebagai perilaku bacakut papadaan pula.

Fenomena bacakut papadaan dibanua ini tak bisa lepas dari kalakuan urang Banjar yang suka manimpakul dan mailung larut (istilah Banjar, artinya kurang lebih suka ikut-ikutan, red). Adanya anggapan bahwa bacakut papadaan merupakan sifat dan budaya urang Banjar dan dianggap sudah ajal (sudah dari sononya, jar urang Jawa), tanpa disadari telah membentuk sikap apatisme yang pada gilirannya menghambat usaha untuk meluruskannya.

Sejarah perpolitikan ditanah Sultan yang senantiasa diwarnai dengan konflik antar sesama, dimana dalam penyelesaiannya selalu merujuk pada pihak ketiga sebagai mediator (Jawa dan Belanda), menimbulkan anggapan negatif terhadap urang Banjar itu sendiri. Hingga akhirnya, urang Banjar dianggap tidak mampu bekerja sama dengan sesama atau bubuhan. Memang, pada era otonomi daerah sekarang ini yang menjadi leader dari tingkatan terendah sampai pada tingkatan tertinggi hampir seluruhnya urang Banua. Namun sangat disayangkan, kalakuan bacakut papadaan senantiasa menyertai perjalanan kepemimpinan mereka sehingga tidak bertahan lama.

Belum lagi masalah-masalah yang timbul dan sengaja ditimbulkan untuk mengganjal kepemimpinan yang ada. Perseteruan, persaingan dan perbedaan pendapat didunia politik adalah hal yang lumrah adanya. Namun ketika hal tersebut dikaitkan dengan istilah katuju bacakut papadaan pada urang Banjar, menimbulkan sebuah image buruk yang bersifat universal. Akibat dari penafsiran yang salah terhadap istilah bacakut papadaan dan sulitnya upaya untuk meluruskannya. Karena bacakut papadaan terlanjur dianggap sifat, sikap dan budaya serta sudah ajal tadi.

Sebenarnya, urang Banjar kental dengan budaya dan sikap kebersamaan. Yang mana terlihat dari adanya istilah samuak saliur, sarantang saruntung, yang nyata-nyata sebagai gambaran wujud kebersamaan. Ada fenomena menarik manakala bubuhan Banjar madam ka banua urang (orang Banjar ketika berkelana ke negeri orang, red). Ada pembagian job discriftion unik manakala urang Kandangan dan rantau dirujuk sebagai pelindung, urang Martapura sebagai imam dan urang Amuntai/Halabiu selaku kaum pebisnis. Job discription baku yang entah berdasarkan persetujuan dari pihak mana. Tetapi nyatanya mendapatkan semacam legalitas dikalangan masyarakat Banjar. Dan hal itu masih berlangsung serta melekat kuat dikalangan Banjar perantauan seperti pada masyarakat Banjar di Tembilahan, Riau maupun mereka yang berada di Malaysia atau Brunei Darussalam, misalnya.

Dari fenomena diatas, terlihat betapa urang Banjar sangat menjunjung tinggi azas kebersamaan. Namun entah kenapa, azas tersebut menjadi surut ketika berkutat di banua saurang (dinegeri sendiri, red). Nah, itulah urang Banjar…
***


Seurce : Myrasta’s Blog
read more...

Jumat, 10 Mei 2013

Asal-Usul Banyu Barau Parincahan Hulu Sungai Selatan

Cerita tentang sikap perlawanan anak bangsa, putera Hulu Sungai Selatan yang ada di desa Parincahan (Banyu Barau sekarang) melawan penjajah Ulanda (Belanda) di masa itu.
Ketika itu pihak polisi Ulanda menerima laporan bahwa masyarakat desa Parincahan, tidak mentaati perintah dan tidak mau membayar pajak kepala. Perlawanan ini justru dipimpin oleh “pangerak” (jabatan setingkat Ketua LK sekarang) sendiri.

Atas laporan ini, komandan polisi Ulanda segera melaporkan ke Tuan Kantolor (asisten Kontroler), namun tuan Kantolor sedang berada di Banjarmasin. Sementara menunggu perintah dari tuan kantolor, komandan polisi melakukan konsolidasi dan koordinasi pasukan, guna menyusun siasat dan strategi penyerangan ke kampung Parincahan. Rencana penyerangan ini ternyata bocor dan diketahui oleh masyarakat setempat. Pangerak dan tetuha masyarakat Princahan segera mengadakan “pahadring” (rapat untuk membahas kesiapan menghadapi serangan ini.

Dalam rapat tersebut, disusun rencana yang cukup sederhana namun efektif. Di pinggiran desa arah ke jalan raya dibuat danau cukup luas, namun tidak terlalu dalam. Di sisinya dibuat jamban-jamban besar dari pohon kayu (batang) untuk keperluan MCK (mandi, cucui, kakus). Di tepi danau didirikan sebuah bangunan/balai yang sangat besar, dengan tiang-tiang tinggi terbuat dari pohon pinang. Di tengah bangunan tersebut digantung sebuah ayunan yang juga dalam ukuran besar. Beberapa buah drum minyak tanah tersedia berjejer di tepi danau. Kemudian masyarakat juga menumpuk paku besi dalam beberapa tumpukan di seberang danau laiknya tumpukan sayur.

Tertundanya waktu serangan, dikarenakan menunggu perintah tuan kantolor, memungkinkan masyarakat kampung untuk mengadakan persiapan tersebut.
Sementara itu polisi Ulanda mengumpulkan berbagai informasi tentang situasi desa dan masyarajatnya.
Waktu serangan pun tiba, polisi Ulanda di bawah pimpinan komandannya (satu-satunya Ulanda asli) tentara anggotanya kesemuanya “Ulanda hirang”), segera berangkat menuju desa Parincahan dengan bersenjatakan lengkap, yakni senapan “barujuk”, bayonet dan klewang.
Untuk menuju lokasi desa, pasukan polisi Ulanda dipandu oleh salah seorang warga, yang sebenarnya merupakan anggota kelompok masyarakat yang akan diserang.
Pasukan pun tiba di tepi danau buatan. Setibanya di sana mereka kaget dan tercengang menyaksikan pemandangan yang ada.

Di seberang danau, dibangunan besar, terlihat seorang anak bayi yang berwarna putih bertubuh sangat besar, sebesar orang dewasa, sedang “dipukung”/diayun. Mereka juga menyaksikan tumpukan paku di tepi danau, permukaan danan yang menyala dan jamban-jamban/batang dengan ukuran raksasa.
Dalam keadaan kaget dan ada rasa takut, segera menanyakan keanehan ini kepada penunjuk jalan.
Si penunjuk jalan menceritakan, bahwa:

1. Bayi yang sedang dipukung tersebut adalah anak pangerak.
2. Air danau yang menyala (banyu barau), memang merupakan kebutuhan air penduduk sehari-hari untuk minum, memasak dan mandi/cuci.
3. Jamban-jamban raksasa adalah tempat penduduk desa mandi, mencucui dan buang air.
4. Tumpukan paku merupakan bahan sayur-mayur untuk keperluan makan penduduk sehari-hari.
Mendengar penjelasan tersebut, komandan polisi Ualnda dan anggotanya merasa sangat takut. Rupanya penduduk desa Parincahan yang bakal mereka serang ini adalah para raksasa, dan bukan lawan mereka.
Komandan polisi Ulanda segera mengambil keputusan bahwa serangan dibatalkan, dan memerintahkan pasukan untuk kembali.

Desa tersebut akhirnya diberi nama desa Banyu Barau, dan sang bayi yang tidak lain adalah pangerak itu sendiri yang memamng berpostur tubuh besar, diberi gelar Datu Putih.
Ketika Datu Putih meninggal dunia, beliau dimakamkan di tempat beliau diayun dengan ukuran makam yang luas biasa besarnya, dan sampai sekarang tetap dibina oleh masyarakat setempat dan diberi cat warna putih. Makam ini dikenal dengan nama makam Datu Putih, dan sampai sekarang masih ada.

Seurce : Fiksi Kompasiana
read more...

Minggu, 05 Mei 2013

Special Memories Of PS. Barito Putera

Era Galatama
Liga Galatama sebagai wahana bagi klub (unit bisnis) diharapkan akan dapat menggantikan fungsi perserikatan. Klub-klub yang berada di bawah label Liga Galatama diharapkan akan tumbuh dan berkembang tak terbatas karena pendirian dan pembentukan klub dapat direalisasikan oleh setiap individu maupun kelompok seperti unit-unit bisnis umumnya di berbagai lapangan industri.
Liga sepakbola Indonesia yang dalam hal ini Liga Galatama ini berlangsung secara kontinu hingga 13 musim (atau 15 tahun) yang berakhir pada tahun 1994. Namun dalam perjalanannya liga (semi)profesional ini tertatih-tatih. Alasannya, ketua komisi silih berganti (enam ketua), belum meresap sebagai profesi, jumlah penonton semakin menurun, publikasi kurang, sponsor minim dan keanggotaan sangat fluktuatif (Tempo, 1994). Juga karena pemain klub banyak yang masuk pelatnas jangka panjang (dan lama) yang berpotensi mengganggu jadwal pertandingan terkait dengan turnamen yang diikuti oleh PSSI. Alasan lainnya adanya isu suap yang terkait dengan pengaturan skor pertandingan yang menciderai fairplay.
PS. BARITO PUTERA GALATAMA berlaga di 5 Musim Liga Sepak Bola Utama yaitu sejak musim 88/89, 90, 90/92, 92/93, dan musim 93/94.

Era LIGINA
Setelah melakukan evaluasi sepakbola Indonesia dan keinginan membangun Sepakbola yang lebih modern (internasional), maka melalui perencanaan dan pembahasan yang dilakukan berkali-kali oleh Pengurus PSSI termasuk mempersiapkan perangkat peraturan pendukungnya akhirnya diputuskan kompetisi Perserikatan yang sudah berusia 63 tahun dan kompetisi Liga Galatama yang telah bergulir selama 14 tahun (13 musim) disatukan menjadi kompetisi baru yang disebut Liga Indonesia (disingkat Ligina) dan dilaksanakan pada tahun 1994. Ligina ini merupakan terobosan strategis dalam pengorganisasian dan pembinaan sepakbola nasional melalui klub dan kompetisi yang berjalan secara reguler. Lauching kompetisi Ligina I (1994-1995) diadakan pada tanggal 27 November 1994 yang secara simbolik di Stadion Utama Senayan.
Dalam perjalanannya di LIGINA, PS Barito Putera sempat menggebrak pada Liga Indonesia I musim 1994. Saat itu Barito Putera berhasil menembus babak 8 Besar lalu masuk ke Semifinal. Sayangnya PS. Barito Putera kalah 0-1 dari Persib Bandung. Peristiwa ini memang sangat mengecewakan supporter dan pecinta Barito Putera, namum kebanggan terhadap tim tetap terjaga sampai sekarang. bahkan kepulangan mereka dari Jakarta pada waktu itu disambut dengan lautan manusia berbaju merah (sesuai warna kaos tim mereka saat itu) yang menyemut dari bandara Syamsuddin Noor, banjarbaru hingga ke kota Banjarmasin.

Degragdasi ke Divisi I
Sebenarnya, Barito Putera cukup eksis bertahan di papan atas (8 Besar) divisi Utama pada jaman Liga Bank Mandiri. Prestasi fenomenal lain saat itu adalah seorang penyerangnya, Bakko Sadisso berhasil meraih sepatu emas / top skor Liga Indonesia pada tahun 2002. Sayangnya, selepas itu prestasi Barito Putera tiba-tiba menurun bahkan jatuh ke jurang degragdasi. Menurut kabar burung yang beredar, hal ini akibat terjadinya kesulitan finansial pada tim barito Putera ini, bukan hanya tim nya, tapi juga melanda perusahaan Hasnur Grup yang dimiliki sang owner, H. Sulaiman HB. Sempat diberitakan bubar ditahun-tahun kelam itu, namun kemudian sang manager, Hasnuryadi Sulaiman mengirim press release kepada media-media di Banjarmasin dan mengabarkan kalau Barito Putera masih ada, dan tidak bubar serta akan membangun tim baru untuk kembali berlaga dipercaturan sepakbola Indonesia.
Liga Bank Mandiri edisi 2002/2003, Barito Putera ditangani oleh pelatih Rohanda. Pemain-pemainnya saat itu antara lain adalah Lourival Lima Filho atau yang akrap disapa Junior Lima, ditopang gelandang Novianto dan Bona Simanjuntak atau Nasrin Ambon serta kiper M. Anwar. di Akhir musim itu PS Barito Putera akhirnya harus meinggalkan kasta tertinggi Liga Indonesia dan terdegragdasi ke Divisi I

Degragdasi ke Divisi II
Ketidakberuntungan masih melanda Barito Putera pada musim berikutnya, Divisi I Liga Indonesia musim 2003/2004 PS Barito Putera harus terusir ke Divisi II. 3 Tim terbawah diisi oleh sesama Borneo, Mitra Kukar Dengan nilai 25 yang dihasilkan dari 22 pertandingan selama satu musim kompetisi. Mitra Kukar berada di posisi 10 dari 12 tim yang berlaga dalam kompetisi Divisi I Liga Indonesia Wilayah Timur. Sesuai dengan ketentuan dari PSSI, tiga tim peringkat bawah dari masing-masing wilayah harus terdegradasi ke Divisi II Liga Indonesia pada musim kompetisi mendatang, tak terkecuali Mitra Kukar yang berada di posisi 10.
Selain Mitra Kukar, dua tim Wilayah Timur lainnya yang degradasi dari Divisi I Liga Indonesia adalah Barito Putra Banjarmasin yang menempati posisi 11 dan Perseman Manokwari yang menempati posisi juru kunci.

Juara Divisi II
Pada musim 2008/2009, PS Barito Putera berhasil keluar sebagai Juara Divisi II. (walaupun Kompetisi Divisi II musim 2008/2009 itu berkahir di 31 oktober 2008). Pada laga di Stadion 17 Mei Banjarmasin, Jumat (31/10), Barito menang 1-0 atas PSCS Cilacap. Alhasil, "Laskar Antasari" itu menjadi juara dan PSCS harus puas sebagai runner-up. Kedua tim memerakan permainan menyerang sejak peluit kick-off berbunyi. Tetapi petaka bagi tim tamu datang pada menit ke-16, ketika terjadi pelanggaran di dalam kotak penalti sehingga wasit memberikan hukuman tendangan penalti bagi tuan rumah.
Andri Joko yang diberi kepercayaan sebagai eksekutor dengan sempurna menjalankan tugasnya. Pemain dengan nomor punggung 22 itu mampu memperdaya penjaga gawang PSCS, Samsul Arifin, dan skor menjadi 1-0 yang bertahan sampai pertandingan usai. Dengan hasil ini maka PS. Barito Putera berhak promosi dan berlaga di Divisi I Liga Indonesia musim 2009/2010.

Divisi I kembali
Pada musim 2009/2010 PS Barito Putera berlaga di Divisi I. Saat itu Barito Putera bersama 58 klub lain berlaga untuk memperebutkan tiket Promosi ke Divisi Utama. Di babak pertama Barito Putera lolos sebagai juara grup VII yang bertanding dengan sistem Home Tournamen di Stadion 17 Mei Banjarmasin, yaitu :
Barito Putra (Banjarmasin) Persepam (Pamekasan) Persebi (Bima) Perst (Tabanan)
Setelah itu Barito Putera lolos ke babak ke II yang kembali berlaga di Stadion 17 Mei Banjarmasin, saat itu terjadi Derby kalsel antara PS Barito Putera dan Persiko Kotabaru. Adapun tim yang bertanding di babak kedua Grup K adalah :
Barito Putra (Banjarmasin) Persiko (Kotabaru) Persepar (Palangkaraya) Persikubar (Kutai Barat)

Barito Putera pun lolos ke Babak 8 Besar yang bertanding di Stadion Mandala Krida Jogjakarta & Stadion Sultan Agung Bantul. Sayang Barito Putera kalah bersaing dan hanya menempati peringkat ke 3 di Grup N sehingga gagal masuk semifinal. Tim yang berlaga di Grup N saat itu adalah :

Perseru (Serui) Persemalra (Tual) Barito Putra (Banjarmasin) Persikubar (Kutai Barat)
Syukurnya, sukses menapaki 8 Besar Divisi I itu membawa Barito Putera lolos ke Divisi Utama pada musim berikutnya, Liga Ti-Phone 2010/2011

Divisi Utama
Tiket Promosi ke Divisi Utama 2010/2011 adalah saat yang sangat prestisius bagi klub kebanggaan urang banua. Salahuddin, mantan pemain Barito Putera berhasil membawa Barito Putera dari keterpurukan di Divisi II hingga kembali ke Divisi Utama. Namun hal yang berbeda adalah, Divisi Utama semenjak musim 2008/2009 adalah kasta kedua dibawah Indonesia Super League. Sehingga walau Barito kembali ke kasta Divisi Utama, masih ada 1 tangga lagi sebelum tim ini kembali ke kasta tertinggi seperti tahun 90an sampai 2000an.
Musim pertama di Divisi Utama 2010/2011, saat itu Perusahaan ponsel, Ti-Phone yang jadi sponsor utama sehingga namanya menjadi Liga Ti-Phone. Barito Putera belum menggebrak dilaga kandang awal, Persiba Bantul berhasil menahan imbang PS. Barito Putera di stadion 17 Mei Banjarmasin 0-0. Saat itu barito belum diperkuat pemain asing. Selepas itu, seluruh laga kandang di Stadion 17 Mei Banjarmasin berhasil diamankan oleh anak asuh Salahuddin. Sayangnya, kondisi terbalik dilaga tandang, Barito tak pernah meraih poin penuh di kandang lawan. Hanya ada 1 poin yang bisa dicuri dari PSMP Mojokerto (walaupun hal itu harus dibayar mahal dengan kerusuhan yang terjadi), selebihnya harus pulang dengan tertunduk lesu tanpa poin.
Barito Putera masih tertahan di Divisi Utama pada musim 2010/2011.
Musim 2011/2012, kekacauan terjadi di tubuh PSSI. Ceritanya memang panjang, tapi pada intinya Barito Putera pun sempat mengalami kebingungan. PSSI menyatakan bahwa kompetisi akan direset dan klub akan di verifikasi ulang. Barito Putera sempat berada dijajaran nominasi Pro 1. Akhirnya PSSI menyatakan kasta tertinggi adalah Indonesian Premier League (IPL) dengan campuran klub ISL musim sebelumnya + promosi Divisi Utama + Degragdasi terbaik + Ex LPI + Titipan sponsor + tim bersejarah. Perseteruan dengan PT. Liga Indonesia pun akhirnya pecah dan akhirnya ada kompetisi kembar di Indonesia. Di kasta tertinggi ada IPL (dibawah PSSI & PT. LPIS) dan ISL (dibawah PT. LI).
Perjalanan di Divisi Utama PT.LI Musim 2011/2012 bermula dibulan Januari 2012. Barito Putera harus menjalani di Tour Papua menghadapi tim-tim dari timur jauh Indonesia. Dan sangat mengejutkan sekali, 6 poin penuh diraih di awal laga. Hingga akhirnya barito putera lolos ke 8 besar sebagai juara Grup, walau grafik nya menurun di 8 besar namun akhirnya lolos ke semifinal dan bahkan akhirnya jadi juara.

 Sumber ( Kaskus Regional Kalimantan )
read more...

Selasa, 16 April 2013

TUMENGGUNG ANTALUDDIN

TUMENGGUNG ANTALUDDIN
 
Tumenggung Antaluddin adalah seorang Panglima Perang dalam Perang Banjar dengan pusat perjuangan di kawasan Gunung Madang Kandangan di kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.Pada masa itu Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman meminta kepada Tumenggung Antaluddin untuk membuat benteng pertahanan di Gunung Madang. Pasukan Pangeran Hidayatullah, Demang Lehman dan pasukan Tumenggung Antaludin terkumpul di sekitar benteng ini pada bulan September 1860.
read more...

Jumat, 12 April 2013

PSSI akan mempelajari rekaman pertandingan antara Mitra Kukar vs Barito Putra ( Adung Psyco )

Wakil Ketua Umum PSSI, La Nyalla Mattalitti bertekad memberantas mafia sepakbola di Indonesia. Niat itu ditegaskan dalam rapat Komite Eksektuif di Hotel Shangri- La, Surabaya, 9 April 2013. La Nyalla menjamin, PSSI tidak pandang bulu membersihkan mafia judi sepakbola di Tanah Air.

Tidak main-main, PSSI akan menyeret oknum yang terlibat praktek terlarang itu ke jalur hukum, termasuk wasit. “Salah satu terobosan PSSI adalah, memastikan nama wasit dan perangkatnya satu minggu sebelum pertandingan bisa diakses publik,” jelas La Nyalla. “Sudah ada beberapa wasit yang kami non- aktifkan karena terindikasi melakukan penyimpangan.

Tiga tahun lagi mereka baru bisa bertugas. Berapa jumlah persisnya, PT Liga Indonesia yang tahu,” ungkap pria yang juga menjabat Ketua Kadin Jawa Timur itu. Menurut La Nyalla, sindikat judi di lapangan harus dicermati semua pihak.“Kami akan sweeping hingga ke dalam stadion. Pasti penjudi ada di dalam stadion,” sambung dia.

Dalam kesempatan itu, La Nyalla menjelaskan PSSI dan PT Liga tengah mempelajari rekaman pertandingan antara Mitra Kukar vs Barito Putra, Minggu 7 April 2013. Laga yang digelar di Stadion Haji Imbut itu dimenangkan Mitra Kukar dengan skor tipis 1-0. Hanya beberapa detik sebelum bubar, wasit Mochamad Adung memberikan keputusan kontroversial, memberikan penalti kepada Mitra karena Esteban Herrera dianggap mendapat dorongan dari pemain Barito di kotak terlarang.

Sontak, pemain Barito langsung melakukan protes. “Seperti kemenangan Mitra Kukar itu, kami masih selidiki. Masukan yang saya terima kemarin, diving itu memang menipu namun akhirnya keterusan,” ungkap Nyalla.

Sumber : http://us.m.bola.viva.co.id/
read more...

Selasa, 09 April 2013

BANJARBARU MENUJU IBUKOTA PROVINSI





Kota Banjarbaru adalah salah satu kota pemerintahan di Provinsi Kalimantan Selatan, dipimpin oleh seorang walikota. Usianya relatif muda yakni berdiri pada tanggal 20 April 1999 berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1999. Akan tetapi tetapi perjuangannya untuk menjadi kota yang berdiri sendiri sangatlah panjang. Dari sebuah kampung kecil bernama Gunung Apam, berkembang menjadi sebuah kecamatan, kotamadya administratif, dan kini menjadi Kota setingkat Kabupaten. Kondisi kini kota Banjarbaru tidak terlepas dari peran perjuangan para pendahulu yang belum selesai, yakni keinginan untuk memindahkan ibukota Provinsi Kalimantan (Selatan) dari Banjarmasin ke Banjarbaru sejak tahun 1950-an silam.
Di tahun 2006, yakni ketika Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan berencana memindahkan pusat perkantoran dari Banjarmasin ke Banjarbaru yang diawali dengan kajian untuk menentukan alternatif lokasi di Banjarbaru, tanggapan pro dan kontra bermunculan. Beberapa diskusi digelar, media ramai memberitakan, dan pihak pemerintah provinsi pun sibuk menjelaskannya.

Banyak yang mengira bahwa yang akan dilakukan adalah memindahkan ibukota sehingga memunculkan usulan alternatif lokasi perpindahannya, akan tetapi tidak sedikit pula yang memahami bahwa yang dipindah bukanlah ibukota melainkan perkantorannya. Pada tahap awal ibukota tetap di Banjarmasin, namun perkantorannya saja yang dipindah ke Banjarbaru. Setelah semua tahapan perpindahan kantor ke Banjarbaru diselesaikan maka tahapan selanjutnya adalah memperjuangkan perpindahan ibukota provinsi ke Banjarbaru. Demikian tahapan rencana strategi yang akan ditempuh.

Keinginan untuk memindahkan kantor gubernur ke Banjarbaru, memang tidak terlepas dari Visi dan Misi Gubernur terpilih 2005-2010 (H. Rudy Ariffin yang berpasangan dengan H. Rosehan NB) yang tertuang dalam RPJMD 2006-2010. Dalam RPJMD itu menyebutkan bahwa salah satu prioritas pembangunan 2006-2010 adalah mempersiapkan dan merealisasikan proses pemindahan ibukota Provinsi Kalimantan Selatan dari Banjarmasin ke Banjarbaru.


Keinginan untuk merealisasikan pemindahan ibukota sebenarnya bukan sekedar untuk merealisasikan janji politik, namun juga dilandasi oleh pertimbangan matang yang terkait dengan berbagai aspek seperti aspek legalitas, teknis, aspek manajemen dan organisasi, aspek ekonomis, aspek kesehatan lingkungan, dan juga aspek historis.

Dari aspek legalitas, di era otonomi daerah, Pemerintah Provinsi memiliki hak dan wewenang untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Seperti halnya kebijakan pemindahan Kantor Gubernur sebagai pusat pemerintahan Provinsi Kalimantan Selatan merupakan kewenangan penuh Gubernur sebagai kepala daerah dengan persetujuan DPRD yang dituangkan dalam Peraturan Daerah.

Dilihat dari aspek historis, keinginan Gubernur H. Rudy Ariffin untuk melakukan pemindahan pusat pemerintahan Provinsi Kalimantan Selatan dari kota Banjarmasin ke kota Banjarbaru tidak timbul secara seketika tetapi melalui proses sejarah yang panjang dan lama.
Jika lembaran sejarah kembali dibuka, gagasan untuk memindahkan ibukota dari Banjarmasin ke Banjarbaru sebenarnya sudah ada sejak tahun 1950-an yakni ketika Gubernur kedua Provinsi Kalimantan dijabat oleh dr. Murdjani (1950-1953). Sebagai seorang dokter yang memahami kesehatan lingkungan saat itu, ditambah pengalamannya sebagai Gubernur Jawa Barat (1946) dan Gubernur Jawa Timur Surabaya (1947), ia menganggap kondisi lingkungan kota Banjarmasin tidak layak sebagai ibukota provinsi dan merencanakan pemindahannya ke daerah Gunung Apam, Banjarbaru sekarang.
Rencana Murdjani (Murdjani Plan) terus dilanjutkan oleh Gubernur RTA Milono (1953-1957) dengan membangun beberapa sarana perkantoran di Banjarbaru, diantaranya: gedung Kantor Gubernur, Kantor Pekerjaan Umum, Kantor Pertanian Rakyat, Kantor Perindustrian Rakyat, dan Kantor Perikanan Darat.
Meski sudah berselang lebih dari 50 tahun, ternyata aspek kesehatan lingkungan yang dahulu menjadi alasan Gubernur Murdjani, kini juga menjadi salah satu menjadi alasan Gubernur H. Rudy Ariffin untuk memindahkan pusat perkantoran ke Banjarbaru, terlebih lagi jika melihat kondisi lingkungan di lokasi perkantoran gubernur di Banjarmasin sekarang. Beban kota Banjarmasin sebagai ibukota provinsi semakin lama semakin tinggi karena kualitas lingkungan yang di bawah standar akibat kondisi tanah rawa, maka sepantasnya kantor gubernur dipindahkan ke lokasi lain yang lebih baik.
Dilihat dari aspek manajemen dan organisasi, kondisi perkantoran berbagai SKPD yang terpencar menyebabkan proses pembinaan pegawai, fungsi pemerintahan dan pelayanan masyarakat menjadi tidak efektif dan efisien. Pemindahan kantor gubernur ke Banjarbaru dalam satu lokasi diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut.

Dilihat dari aspek sosial budaya pemindahan kantor gubernur ke Banjarbaru dalam satu lokasi akan menimbulkan dampak sosial dan budaya baik berupa dampak positif maupun negatif. Untuk Banjarbaru: terdorongnya penduduk luar Banjarbaru untuk pindah ke kota Banjarbaru. Untuk Banjarmasin: dapat dihindarinya efek negatif akibat dari akumulasi kekuasaan yang berinteraksi langsung dengan dunia bisnis komersial, berkurangnya beban kota baik dari segi kehidupan sosial maupun lingkungan perkotaan.
Sedangkan dilihat dari aspek ekonomi, maka dampak yang akan terjadi untuk Banjarbaru adalah terpicunya pertumbuhan pembangunan dan pengembangan sumber daya alam dan manusia, naiknya harga tanah di sekitar lokasi pusat pemerintahan provinsi, bertambahnya beban anggaran pembangunan daerah untuk secara cepat membangun fasilitas-fasilitas yang diperlukan. Sedangkan untuk Banjarmasin: dihilangkannya beban pembiayaan protokoler dapat membantu pendanaan untuk mengatasi masalah lingkungan, bekas fasilitas-fasilitas instansi pemerintahan provinsi yang akan dipindahkan dapat dimanfaatkan sebagai sarana promosi dan pemberdayaan kegiatan perekonomian.

Berbagai pertimbangan atau aspek yang telah dikemukakan itu merupakan kesimpulan dari hasil kajian. Ketika Gubernur H. Rudy Ariffin berencana merealisasikan rencana perpindahan perkantoran maka beliau menghendaki bahwa kebijakan itu harus dilandasi oleh hasil penelitian. Kerjasama antara Balitbangda Provinsi Kalimantan Selatan dan Lembaga Penelitian Universitas Lambung Mangkurat diwujudkan dengan membentuk sebuah tim peneliti. Tim bertugas melakukan kajian rencana itu dari berbagai aspek, salah satunya adalah untuk mendapatkan alternatif lokasi Kantor Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru dengan berbagai kriteria beserta analisis dampak yang akan ditimbulkan jika perpindahan dilakukan dari Banjarmasin ke Banjarbaru.

Berdasarkan parameter penilaian yang diambil dari kriteria yang telah ditentukan didapatkan hasil penilaian alternatif lokasi, yang mana lokasi Guntung Upih-Palam dengan nilai skor tertinggi ditetapkan sebagai lokasi pembangunan Kantor Gubernur di Banjarbaru. Dan sejak itulah secara bertahap gedung Kantor Gubernur beserta Sekretariat Daerah Kalimantan Selatan mulai dibangun di lokasi terpilih, dan secara bertahap pula PNS Provinsi yang semula berkantor di Banjarmasin menempati bangunan baru di Banjarbaru.
Seolah mengamini prediksi atau analisis para tim peneliti mengenai dampak sosial, budaya, dan ekonomi bagi Banjarbaru, maka kini di sekitar lokasi perkantoran Gubernur di Banjarbaru berkembang pesat. Permukiman penduduk, gedung perkantoran, dan fasilitas sosial ekonomi bermunculan dan harga tanah pun melambung tinggi. Derap kemajuan Kota Banjarbaru semakin terpicu dengan adanya kantor gubernur itu dan kini terus berkembang semakin maju. Dengan adanya perkantoran Gubernur di Banjarbaru, maka jalan menuju ibukota provinsi menjadi semakin terbuka lebar.

Membuka lembaran kembali dinamika sejarah Kota Banjarbaru dan membandingkannya dengan perkembangan kondisi faktualnya, seakan terasa bahwa gagasan dan perjuangan para pendahulu untuk menjadikan Banjarbaru sebagai ibukota provinsi sudah mendekati kenyataan. Ketika pusat perkantoran Gubernur sudah ada di Banjarbaru, maka perjuangan tinggal selangkah lagi yakni berjuang memindah ibukota Provinsi Kalimantan Selatan ke Banjarbaru. Jika berhasil maka keberhasilan itu akan menjadi ‘sejarah baru’ namun jika gagal maka ‘sejarah kembali berulang’. Kini tinggal memilih: berhasil atau gagal. Tapi akankah semudah itu? Akankah keinginan untuk menjadikan Banjarbaru sebagai ibukota provinsi bakal terwujud? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Oleh Wajidi
read more...

Selasa, 06 November 2012

Riwayat Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari ( Datuk Kelampayan )


Yang disebut Datu Kalampayan tidak lain adalah Maulana syekh Muhammad Arsyad bin Abbdullah Al-Banjari lahir 15 shafar 1122 H bertepatan dengan 19 Maret 1710 M di Lok Gabang,dan wafat di Dalam Pagar 6 syawaal 1227 H bertepatan dengan 13 Oktober 1812 h dalam usia 105 tahun dan dimakamkan di tanah kebun beliau yaitu desa Kalampayan ( sekitar 56 km dari Banjarmasin).

Maulana syekh Muhammad Arsyad adalah seorang ulama yang sangant berpengaruh dan mempunyai peran penting dalam sejarah pengembangan siar agana Islam,khususnya di bumi Kalimantan .Seorang yang sangat gigih mempertahankan dan mengembangkan faham Ahlus Sunah Wal jama'ah dengan faham Asy'ariah untuk Ilmu Tauhid,dan Mazhab Imam syafi'i untuk bidang Ilmu fiqih.Beliu juga seorang mufti (penasehat agama) pada Kesultanan Banjar,dan juga seorang penulis yang produktif.

Maulana syekh Muhammad Arsyad ketika kecilnya bernama Ja'far,adalah anak tertua dari lima bersaudara hasil perkawinan Abdullah dengan Siti Aminah.Adapun anak Abdullah dengan Siti Aminah adalah Muhammad Arsyad, Zainal Abidin, Abidin, Diang Panangah, dan
5. Normin

Sejak kecil, tepatnya paa umur sekitar 7 tahun Muhammad Arsyad kecil sudah fasih dalam membaca Al-Quran.Bakat tulis-menulis juga sudah mulai nampak terlihat padanya dikala itu.Karenanya beliau dipelihara dan dikumpulkan oleh sultan bersama dengan anak-anak dan cucu-cucu keluarga kerajaan

Karena bakat dan kepandaian beliau dalam mempelajari ilmu agama,maka menjelang usia 30 tahun Muhammad Arsyad diberangkatkan ketanah suci Mekkah untuk memperdalam ilmu agama dengan biaya sultan (kerajaan),karena sultan berharap dengan ilmu yang diperolehnya ditanah suci itu kelak akan dapat membimbing dan mengajarkan kepada rakyat Banjar dan sekitarnya dalam hal ke agamaan (Islam)

Di tanah Suci Mekkah dan Madinah beliau belajar kepada para ulama yang terkenal, antara lain:

1. Syekh Athaillah bin Ahmab Al-Mihsri Al-Azhar
2. Sekh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi.Madinah.(pengarang kitab Hawasyil
madaniyyah)
3. Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Sammany Al-Madany,dalam bidang
tasawuf yang akhirnya mendapatkan Ijazah dengan kedudukan Khalifah
(wakil).
4. Syekh Ahmad bin Abdul Mun'im Ad-Damanhuri.
5. Syekh Sayyid Abul Faydi Muhammad Murtadha' Az-Zabidi
6. Syekh Hasan bin Ahmad 'Akisy Al-Yamani
7. Syekh Salim bin Abdullah Al-Bashr.
8. Syehk Shiddiq bin Umar Khan.
9. Syekh Abdullah bin Hijazi bin Asy-Syarqawi
10. Syekh Abdurrahman bin Abdul Aziz Al-Maghrabi.
11. Syekh Sayyid Abdurrahman bin Sulaiman Al-Ahdal.
12. Syekh Abdurrahman bin Abdul Mubin Al-Fathani.
13. Syekh Abdul Ghani bin Syekh Muhammad Hilal.
14. Syekh 'Abid As-Shindi.
15. Syekh Abdul Wahab Ath-thanthawi.
16. Syekh Maulana Sayyid Abdurrrahman Mirghani.
17. Syekh Muhammad bin Ahmad Al-jawahir.
18. Syekh Muhammad Zayn bin Faqih Jalaludin Aceh.

Ketika di Mekkah beliau berkenalan dan bersahabat dengan penuntut-penuntut setengah air,antara lain: Abdul Wahhab Bugis dari Makasar,Abdus Samad dari Palembang (pengarang kitab Siyarus Salikin dan Hidayatus Salikin) dan Abdur Rahman Masri dari Betawi (jawi).Konon di Mekkah itu pula sempat berkenalan dan sekaligus berguru kepada Datu Sanggul (Abdus Samad),yang pada akhirnya beliu diberi kitab yang terkenal dengan sebutan Kitab Barencong oleh Datu Sanggul.

Setelah lebih 30 tahun belajar ditanah suci beliau akhirnya dapat menguasai keahlian diberbagai bidangilmu agama seperti:ilmu fiqih,ilmu tasawuf,usul fiqih,cabang -cabang bahasa Arab seperti: nahwu,sharaf,balaghah dan lain-lain,serta ilmu falak (astronomi) dan ilmu umum seperti politik serta pemerintahan . Selesai mempelajari yang disebut diatas beliau pulang ketanah air bersama kawan-kawannya.

Sebenarnya beliau dan kawan - kawan tidak ingin pulang ketanah air tetapi ingin melanjutkan belajar di Mesir,namun maksud tersebut terpaksa dibatalkan karena Syekh sulaiman Al-kurdi menyatakan bahwa ilmu mereka sudah dalam dan luas,lebih penting pulang ketanah air untuk memberi pelajaran dan membimbing masyarakat didaerah masing-masing.

akhirnya mereka menuruti nasehat guru mereka itu.Setiba ditanah betawi (Jakarta) Muhammad Arsyad dan kawan-kawan disambut oleh para ulama dan orang banyak dengan gembira. Selama 60 hari berada di betawi (jakarta),beliau berkunjung kebeberapa mesjid.Berikut beberapa karamah (keahlian)yang beliau miliki,beliau dapat membetulkan arah kiblat mesjid yang kurang tepat.mesjid yang beliau perbaiki arahkiblatnya adalah mesjid Jembatan Lima,Mesjid Luar Batang, dan Mesjid Pekojan.

Selanjutnyabeliau menuju banjar masin dengan menumpang kapal Belanda. Sampai ditengah laut jawa.kapten kapal bertanya. "ya Tuan haji besar! berapakah kedalaman laut jawa ini?" kata kapten kapal.(Haji Bear adalah gelar kehormatan bagi tuan guru yang menuntut ilmu di tanah Suci Mekkka). Sebelum menjawab beliau memandangi air laut jawa tersebut,kemudian beliau berkata "200 meter"jawab syekh Muhammad Arsyad.

Kapten kapal tersebut tidak langsung percya dengan jawaban Syekh Muhammad Arsyad itu,kemudian dia mengambil meteran panjang dan mengukur kedalaman air laut tersebut.Setelah diukur ternyata kedalaman air laut tersebut tepat 200 meter,sedikitpun tidak kurang atau lebih, Kapten kapal Belanda itu menggelengkan kepala mendengar jawaban Syekh Muhammad Arsyad. "tuan Haji Besar, asnda orang hebat !" puji kapten kapal..'Dari warna airnya,bila air laut berwarna putih kebiruan kedalamannya 200 meter,seperti laut jawa ini bila kebiru-biruan maka kedalamannya mencapai 2000 meter,dan bila berwarna biru kedalamannya mencapai 2000 meter lebih' jawab Syekh Muhammad Arsyad dengan mantap."Tuan ,Betul".kata kapten kapal belanda itu kagum akan kecerdasan dan ilmu yang dimiliki beliau.

Pada bulan Ramadhan 1186 h. (1773 M.) sampailah beliau ditanah Banjar. Kedatangan beliau disambut meriah oleh kerajaan beserta seluruh masyarakat.

Supaya Syekh Muhammad Arsyad leluasa mengembangkan ilmu yang telah diperolehnya ,oleh sultan Tahmiddulah II beliau diberi sebidang tanah belukar diluar kota Martapura ,tepat di tepi sungai menuju Banjarmasin.tanah belukar itu dijadikan perkampungan tempat tinggal dan ditempat itu pula beliau dapat mengajarkan ilmu-ilmu yang yang telah didapatnya dengan membuka pengajian-pengajian. Disamping mengajar beliau juga seorang pengarang yang produktif,beliau mengarang kitab-kitab agama untuk bahan pelajaran bagi para penuntut ilmu, seperti:
1. Sabillal Muhtadin. Berisi tentang fiqih.
2. Risalah ushuluddin. Kitab tauhid bahasa melayu tulisan arab.
Ditulis pada tahun 1188 H.
3. Tuhfatur Raghibin.Berisi tentang tauhid.ditulis pada tahun 1188 H.
4. Kanzul Ma'rifah.Berisi tentang ilmu tasawuf.
5. Luqthatul'Ajilan.Kitab khusus membahas fiqih tentang perempuan
6. Kitab Faraid.Berisi tentang tata cara pembagian waris.
7. Al-Qawlul Mukhatashar.Berisi tentang Imam Mahdi.
Ditulis pad tahun 1196 H.
8. Kitab ilmu falak.Berisi tentang astronomi.
9. Fatwa Sulayman Kurdi. Berisi tentang fatwa-fatwa guru beliau sulayman kurdi
10. Kitabun Nikah. Berisi tentang tata cara perkawinan dalam syariat islam.

Selain itu ada pula karya tulisan beliau dalam ukuran besar dan AL_QUR'AN
tulisantangan beliau dalam ukuran besar dan dengan khath yang sangat indah di Museum nasional Banjarbaru Kalimantan Selatan.

Kitab - kitab beliau tersebut sampai sekarang masih dijadikan bahan kajian dan pelajaan ,bahkan sebagai bahan pegangan dalam melaksanakan ibadat,terutama kitab Sabilal Muhtadin.Kitab Sabilal Muhtadin ini tersiar luas di Asia Tenggara bahkan sampai ke Mekkah dan Mesir , dan ini merupakan salah satu karamah ( kemulian ) beliau.

maulan Syekh Muhammad Arsyad Al-banjari mempunyai 11 (sebelas) orang istri,dan mempunyai 30 (tiga puluh ) orang anak,istri-istri beliau adalah:

1. Tuan Bajut.
2. Tuan Bidur.
3. Tuan Lipur.
4. Tuan Guwat.
5. Tuan ratu Aminah.
6. Tuan Gandar Manik.
7. Tuan Palung.
8. Tuan Turiah.
9. Tuan Daiy.
10. Tuan markidah.
11. Tuan Liyuh.

Karamah (Kemulian) beliau adalah makam beliau yang sampai sekarang sangat ramai diziarahi orang.Dengan ziarahnya orang-orang yang datang dari segala penjuru Kalimantan dan Luar Kalimantan,mereka membagi - bagikan hadiah pada penduduk Kalampayan yang ada disekitar makam itu.Hal ini adalah nikmat dan rizeki bagi masyarakat sekitar makam beliau,dengan kata lain,walau beliau sudah lama meninggal dunia, beliau masih dapat membantu penduduk kampung sekitar makam beliau.
read more...

Masjid Su'ada Termasuk Masjid Tertua di Kalimantan Selatan

Masjid Sua,ada termasuk masjid tua yang dibangun tahun 1908. Masjid ini terletak di Wasah Hilir, Simpur, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Pendiri masjid ini adalah Syekh Abbas bin Syekh Abdul Jalil dan Syeh Muhammad Said bin Syekh Sa’dudin, dibantu oleh H. Banan (Pambakal Wasah Hilir) dan H.Ishaq (Penghulu Wasah Hilir), Asmail, Burahat, Jala H. Aman, dan H. Mandu. Didirikan diatas tanah wakaf dari Mirun bin Udin dan Asmail bin Abdullah seluas 1047,25 m2. Semua bahan terdiri dari kayu ulin (kayu besi) yang dahulu masih banyak di rimba hutan Kalimantan.
 
 
Masjid Su'ada (Masjid Baangkat) difoto dari samping belakang.

Selasar keliling masjid yang dipagari.

 
Pagar ulin dengan motif kembang.

 
Pintu masjid sangat tinggi dengan kaligrafi dibagian atas.


Gambar dari sudut.



Masjid Sua'ada lebih terkenal dengan nama Masjid Baangkat, artinya masjid panggung, karena kontruksi tongkat masjid berupa panggung.

 
Karena berbentuk bangunan panggung, maka di pintu masuk ada tangga.

 
Plafon kubah yang sangat tinggi.

 
Bedug atau dauh (bahasa Banjar).

 
Tampak depan.

 
Ruangan induk masjid dengan tiang kayu ulin.



Mihrab masjid dengan ukiran motif bunga.

 
Gerbang ruangan imam dengan ukiran.



Penunjuk waktu sholat dengan bantuan sinar matahari. Tertulis Masjid Wasah Ilir tahun 1908 M.



Kontruksi atas bertumpang.


Kubah Syeh H. Abbas bin Syeh Abdul Jalil, yang juga cicit Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Beliau bersama Syeh Muhammad Said bin Syekh Sa’dudin (cicit Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari)
read more...

Jumat, 02 November 2012

Wisata Yang Ada Di Kabupaten Hulu Sungai Selatan

Di bumi Antaludin Kabupaten Hulu Sungai Selatan terdapat beraneka ragam obyek wisata, seperti obyek wisata air panas Tanuhi, air terjun Haratai, air terjun Hanai, goa Berangin Malutu, Goa Mandala, gunung Kentawan, Goa batu Bini, Kalang Hadangan, situs amuk Hantarukung, rumah bersejarah Durian Rabung, rumah Banjar Bumbungan Tinggi, Benteng Madang, pemaningan ikan, Mesjid baangkat, dan lain-lain. Pada masa-masa tertentu dan telah menjadi tradisi rakyat dilaksanakan kegiatan yang mampu menghasilkan gaya magnet untuk menarik wsnu dan wisman serta masyarakat sekitar, seperti aruh ganal, lomba perahu tradisional, begasing, layang-layang hias, layang-layang dandang, bagarakan sahun, malam takbiran, dan arung jeram.



Obyek-obyek wisata dan event tahunan tersebut terhampar pada sebelas kecamatan yang terdapat di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, diantaranya ada yang terletak di pegunungan, di daratan, di rawa, dan di sungai. Semua obyek wisata dan event tahunan yang berada di bumi Antaludin ini merupakan anugerah Allah Yang Maha Kaya, Tuhan sekalian alam yang teramat besar manfaatnya bagi kesejahteraan manusia jika dibina dan dikelola secara profesional.
Informasi tentang keberadaan dan kondisi obyek-obyek wisata dan event tahunan ini akan kami sajikan dengan rangkaian kata yang sederhana. Kedepan, buku informasi wisata ini akan selalu disempurnakan dan ditulis dalam dua bahasa (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) seiring dengan kebutuhan dan dinamika pembangunan kepariwisataan yang ramah lingkungan dan berorientasi pada sapta pesona.


Loksado terletak kurang lebih 40 Km di sebelah timur Kandangan, di kawasan Pegunungan Meratus merupakan wilayah yang menjadi tempat tinggal sisa-sisa masyarakat/orang banjar (orang dayak) yang sebagian besar masih menganut Kepercayaan animisme. Di sekitar Loksado terdapat sejumlah Desa yang dihuni oleh orang Dayak. Mereka tinggal di rumah panjang (Balai) yang merupakan rumah tradisional orang Dayak di wilayah ini. Kemajuan peradapan akibat dari arus informasi yang mengglobal menyebabkan orang-orang Dayak Loksado yang dulunya tinggal di Balai saat ini sebagian kecil sudah memiliki rumah sendiri sebagaimana kebanyakan rumah-rumah di pedalaman lainnya. Sehingga Balai digunakan mereka untuk melaksanakan Aruh Ganal.



Loksado merupakan desa pasar yang cukup penting bagi wilayah sekitarnya. Desa ini merupakan satu-satunya tempat yang masih bisa dicapai dengan mobil. Tempat ini merupakan titik awal bagi wisatawan untuk memulai trekking jika ingin mengeksplorasi wilayah ini.



Kurang lebih 8 Km sebelum Loksado terdapat sebuah desa yang memiliki sumber air panas bernama Air Panas Tanuhi. Di tempat ini telah dibangun cottage dengan arsitektur yang unik yang dilengkapi dengan kolam renang, kolam air panas berendam, kolam air panas gelembung, cafeteria, kantor pengelola, jalan dan jembatan, sanitasi dan loket pos jaga (security), lapangan tenis, tempat santai/istirahat, 10 buah cottage yang mampu menampung 20 orang wisatawan, lanscafe Area. Apabila kita berada di lokasi ini, maka kita akan banyak memperoleh keunggulan, karena disamping menikmati air panas, berenang, berolah raga, juga dengan leluasa dapat memandang alam Loksado yang dikelilingi dengan pegunungan. Di sini pikiran kita jadi jernih, hati kita terasa damai dan tubuh kita terasa nyaman. Oleh karena itu ayo kita tamasya ke Air Panas Tanuhi.



Obyek wisata ini terletak di desa Telaga Bidadari Kecamatan Sungai Raya dengan jarak kurang lebih 8 Km dari kota Kandangan yang dapat ditelusuri dengan mobil. Apabila kita jalan-jalan ke desa Telaga Bidadari kita akan menemukan sumur tua yang tidak akan kering walapun kemarau panjang yang disebut orang Telaga Bidadari.



Telaga ini berukuran 3 x 2 M dengan kedalaman 2 meter, terletak di kawasan tanah pematang yang diteduhi pepohonan. Disepanjang jalan menuju Telaga Bidadari terdapat berbagai macam home industri yang memproduksi ku kering, dodol, kuaci bigi waluh dan ketupat Kandangan. Cerita tentang Telaga Bidadari yang lebih terurai dapat dibaca pada buku Legenda Telaga Bidadari.



Jika anda jalan-jalan ke kecamatan Padang Batung sebalah utara akan bertemu dengan sebuah desa yang bernama Madang dengan dataran cukup tinggi menyerupai sebuah gunung. Dataran tinggi tersebut kemudian di tata dan dibuat oleh Tumenggung Antaluddin atas permintaan dari Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman kemudian dijadikan benteng pertahanan pasukan Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman dalam menghadapi serangan serdadu Belanda.
Tercatat ada lima kali serangan yang dilakukan oleh serdadu belanda dan semuanya dapat dikalahkan oleh pasukan Pangeran Hadayatullah dan Demang Lehman. Serangan-serangan serdadu Baelanda dilakukan pada tanggal 3,4,13,18 dan 22 september 1860. Pada serangan yang keempat tanggal 18 September 1860, pasukan infantry serdadu bgelanda yang dipimpin oleh Kapten Koch dihajar habis-habisan oleh pasukan Pangeran Hidayatullah dan Demang lehman, sehingga banyak serdadu Belanda yang tewas termasuk Kapten Koch.
Saat ini Benteng Madang telah ditata dan direnovasi oleh Pemda HSS dengan anak tangga lebih dari 400 buah dan dapat dijelajahi dengan menggunakan mobil dengan jarak ± 8 Km dari Kota Kandangan.



Jika anda ke Kabupaten Hulu Sungai Selatan, jangan lupa ke desa Hantarukung yang jaraknya ± 7 Km dari kota Kandangan dengan kondisi jalan yang cukup baik (beraspal).
Pada tanggal 18 September 1899 telah terjadi pemberontakan Amuk Hantarukung yang dipelopori oleh Bukhari, Landuk dan Matamin guna menjunjung titah Sultan Muhammad Seman putera Pangeran Antasari dengan semboyan “Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing”. Rakyat Hantarukung tidak bersedia lagi mengerjaka penggalian “garis” Amandit-negara yang diperintahkan oleh Kolonial belanda. Dalam peristiwa ini telah terbunuh Mr. Controler Domes dan Adspranti Wehonleshen serta seorang anak emasnya.
Kejadian terbunuhnya Controler dan Adspirant tersebut segera sampai kepada pejabat Belanda di Kandangan. Pejabat Belanda itu itu sangat marah dan pada tanggal 19 September sekitar pukul 13.00 siang pasukan Belanda datang untuk mengadakan pembalasan dan terjadilah pertempuran sengit antara pasukan Belanda dengan penduduk yang di pelopori oleh bukhari, Landuk dan H. Matamin
Peristiwa ini berlanjut dengan terjadinya pembersihan secara kejam oleh pasukan Belanda terhadap penduduk di Desa hantarukung, Hamparaya, Ulin, Wasah Hilir dan Simpur.
Pada pertempuran tersebut telah gugur sebagai kusuma bangsa dan insya Allah Syahid disisi Allah yakni Bukhari, H.Matamin, Landuk dan Pangeran Yuya. Selain mereka ada juga yang ditangkap oleh Belanda sebanyak 23 orang, diantaranya ada yang mati dalam penjara, ada yang mati digantung dan ada yang dibuang ke luar daerah. Mereka yang mati digantung dikuburkan dipekuburan “Bawah Tandui” di Desa Hantarukung dan dipekuburan “Telaga Gajah” di Desa Amparaya Kecamatan simpur.



Makam Tumpang Talu terletak di Kampung Parincahan Kecamatan Kandangan, berjarak sekitar 1 Km dari pusat kota Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Makam ini adalah makam tiga orang pejuang yakni Bukhari, Landuk dan H.Matamin dalam satu lubang yang gugur pada peristiwa pemberontakan Amuk Hantarukung tanggal 19 September 1899.



Rumah bersejarah ini terletak di desa Durian Rabung Kecamatan Padang Batung, berjarak sekitar 8 Km dari kota Kandangan. Rumah ini milik H.Abdul Kadir yang digunakan sebagai tempat Rapat Pimpinan Markas Besar ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan. Kadang-kadang Bapak Gerilya Kalimantan Brigjen H. Hassan Basry beristirahat di rumah ini.
Kondisi rumah besejarah ini sukup memprihatinkan dan secara bertahap telah direnovasi baik oleh Pemda Hulu Sungai Selatan maupun Pemda Propinsi Kalimantan Selatan tanpa merubah bentuk dantata ruang. Di halaman bagian depan rumah bersejarah ini telah dibangun Tugu Peringatan peristiwa Rapat Pimpinan markas Besar ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan.



Jika anda berwisata ke bumi antaludin, maka mampirlah di makam Al Allamah Syekh H. Sa’dudin (H.M Thayib) di Taniran Kecamatan angkinang yang jaraknya ± 8 km dari kota Kandangan. Beliau merupakan buyut dari pengarang kitab Sabilal Muhtadin, Datu Kelampayan Syekh Maulana H.Muhammad Arsyad Al Banjari. Beliau termasuk sala seorang wali Allah SWT yang sepanjang hidupnya digunakan untuk da’wah agama Islam guna menegakkan kalimat Tauhid agar manusia selamat dunia dan akhirat. Untuk lebih jelasnya mengenai keadaan beliau dimasa hidupnya dapat dipelajari melalui biografi atau manakib beliau.
Makam/kubah Datu Taniran ini merupakan makam yang paling sering dan banyak dikunjungi orang, jika dibandingkan dengan makam/kubah lainya yang terdapat di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.



Al Allamah Syekh H. Akhmad (Datu Akhmad) bin H. M. As’ad bin Syarifah binti Syekh Maulana H. Muhammad Arsyad Al Banjari merupakan ulama yang selama hidupnya mengabdikan diri kepada allah SWT yakni menegakkan dan menyebarkan agama Islam. Beliau mengajarkan Al Qur’an dan Ilmu Tauhid di Desa Balimau Kecamatan Kalumpang Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang letaknya pada daerah perairan yang diapit oleh sungan Balimau dan padang hutan persawahan.
Ibunya bernama Hamidah penduduk asli Desa Balimau, adapun kakak Datu Akhmad yaitu:
a. Al Allamah Syekh H. Abu Thalhah, meninggal dan di makamkan di Kutai, Kalimantan Timur
b. Al Allamah Syekh H. Abdul Hamid, meninggal dan di makamkan di Sampit, Kalimantan Tengah
c. Al Allamah Syekh H. M. Arsyad, meninggal dan di makamkan di Pagatan, Kalimantan Selatan
Sedangkan adik datu Akhmad yakni Al Allamah Syekh H. M. Thayyib (H.Sa’dudin), meninggal dan di makamkan di Taniran, Kecamatan Angkinan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, propinsi Kalimantan Selatan.
Al Allamah Syekh H. Akhmad, diperkirakan meninggal pada abad ke-18 dan dan di makamkan di Pematang Darat komplek kuburan umum. Tatkala akan diadakan haulan, maka pada suatu malam cucu beliau bernama H. Suleman Kuderi di Amuntai, bermimpi bahwa Datu Akhmad merasa kepanasan dan minta dipindahkanmakamnya ke tempat lain, setelah itu sang cucu Shalat sunat dua rakaat untuk meminta petunjuk Allah SWT, kemudian diperiksa di atas kuburan/makam ternyata terdapat tanda putih. Selanjutnya digalilah kuburan/makam tersebut, ternyata jasad/tubuhnya tetap utuh seperti semula. Kemudian kuburannya/makamnya dipindahkan ke Desa Balimau sekitar 40 m dari jalan raya Balimau berseberangan dengan Mesjid dan jauhnya ± 15 km dari kota Kandangan.
Pada tahun 1915 di atas makam itu dibangun kubah dengan ukuran 4 x 8 m. Saat ini makam tersebut sering dan banyak diziarahi ummat Islam, baik berasal dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan maupun luar Kabupaten Hulu Sungai Selatan, terutama pada tanggal 17 Rabiul Awal saat haulan dilaksanan yang dipimpin oleh Al Allamah al arifbillah K. H. Muhammad Zaini Gani guru sekumpul Martapura Kalimantan Selatan.



Mesjid Su’ada atau Mesjid baangkat didirikan oleh Al Allamah Syekh H. Abbas dan Al Allamah Syekh H. Said bin Al Allamah Syekh H. Sa’dudin pada tanggal 28 Zulhijjah 1328 H bersamaan dengan tahun 1908 M yang terletak di desa Wasah Hilir Kecamatan Simpur yang jaraknya ± 7 km dari kota Kandangan. Mesjid ini didirikan di atas tanah wakaf milik Mirun bin Udin dan Asmail bin Abdullah seluas 1047,25 m persegi.
Bentuk bangunan induk mesjid su’ada yakni persegi empat, bertingkat tiga, mempunyai loteng menutup gawang/puncah dan petala/petaka yang megah. Semua itu memunyai makna tertentu sebagai berikut:
a. Tingkat pertama mengandung makna Syariat
b. Tingkat kedua mengandung makna Thariqat
c. Tingkat ketiga mengandung makna Hakikat
d. Loteng mengandung makna Ma’rifat
e. Petala/petaka yang megah berkilauan yang dihiasi oleh cabang-cabang yang sdang berbunga dan berbuah melambangkan kesempurnaan Ma’rifat
Banyak peristiwa yang terjadi seolah-olah aneh, tidak rasional tapi nyata ketika akan dan sedang dalam pembangunan Mesjid tersebut, seperti angina topan bertiup luar biasa keras dan derasnya yang menyebabkan sebatang pohon asam yang besar telah condong sekali akan minmpa rumah Al Allamah Syekh H. M. Said (pendiri Mesjid Su’ada). Dilihat kejadian ini, Al Allamah tersebut mendekati pohon tersebut dan mendorongnya dengan berlawanan arah, maka dengan pertolongan Allah SWT angin topan yang dahsyat itu berbalik arah sehingga pohon asam ini tumbang dan selamatlah ulama tersebut.
Kejadian lain yakni salah satu tiang utama Mesjid kurang panjang ± 10 cm, sehingga mengalami kesulitan untuk pendirian bangunan Mesjid. Dengan izin Allah, keesokkan harinya tiang tersebut menjadi bertambah panjang sesuai kebutuhan. Peristiwa lainnya, yakni ditengah perjalanan antara Kalumpang dan Negara, rombongan Al Allamah Syekh H. M. Said kehabisan ikan untuk makan, tiba-tiba seekor ikan besar melompat ke perahu mereka dan akhirnya mereka mempunyai ikan untuk makan bersama. Kejadian lainnya yakni rombongan tersebut pada malam hari di perahu tidak bisa tidur karena kenyamukan, tiba-tiba dengan pertolongan Allah SWT, ternyata nyamuk tersebut menghilang, sehingga rombongan Al Allamah Syekh H. M. Said dapat tidur.

Wisata Budaya



Melalui intervieu berstruktur dengan pengurus PERMADA (Persatuan Masyarakat Dayak) Loksado dib alai Informasi (sekretarian PERMADA) diperoleh informasi bahwa ada tiga kalai aruh ganal yang dilaksanakan oleh masing-masing balai di atas pada setiap tahun. Aruh ganal tersebut dilaksanakan pada malam hari yaitu:
1. Aruh Basambu
Aruh ganal ini biasanya dilaksanakan pada bulan Februari, yakni ketika orang dayak selesai melaksanakan tanam padi (behuma / menugal).
2. Aruh Bawanang Lalaya
Aruh ganal ini biasanya dilaksanakan pada bulan Juni, yakni ketika masyarakat dayak melaksanakan panen padi.
3. Aruh Bawang Banih Halin
Aruh ganal ini biasanya dilaksanakan pada bulan September. Aruh ini merupakan aruh penutup karena masarakat dayak Loksado telah selesai melaksanakan panen padi.



Acara aruh ganal diisi dengan berbagai tarian adat yang lamanya antara 3 sampai 9 hari. Tarian adat yang disajikan pada aruh ganal tersebut seperti Batandik, tari Kanjar dan tari Bangsai. Perlengkapan yang dipergunakan pada tari batandik yakni sarung, ikat pinggang kain putih, gelang hiayang, laung, gendang, manyan, kapur, baju dan celana. Pada tari kanjar perlengkapan yang diperguanakan yakni baju lengan panjang, ikat pinggang kuning, laung dan celana, sedangkan pada tari bangsai dengan penarinya khusus wanita menggunakan baju kebaya, kakamban, dan tapih bahalai.

Kegiatan tradisional yang dimiliki oleh orang dayak Loksado yang masih akses sampai sekarang yakni:
1. Naik dari manau (bersifat ghaib)
2. Tari kurung-kurung
3. Basambui (orang sakit diobati secara kebathinan)
4. Sumbiyang (membuat orang jadi sakit kemudian disembuhkan).

Sekian dahulu informasi wisata di Kandangan, semoga di lain kesempatan informasi ini dapat di update dengan info terbaru.

Sumber: Dinas Pariwisata dan Budaya kabupaten Hulu Sungai Selatan.
read more...

Asal Mula Nama Marabahan


Marabahan adalah salah satu ibukota kabupaten di Kalimantan Selatan yaitu Kabupaten Barito Kuala. Kabupaten ini merupakan satu-satunya kabupaten yang 100% rawa-rawa, seluruh wilayahnya terletak di daerah aliran sungai Barito.
Asal nama Marabahan memiliki dua versi cerita. Versi pertama adalah sebagai berikut : nama Marabahan berasal dari kata Muara Bahan, karena letaknya di persimpangan sungai besar yaitu Sungai Barito dan Sungai Nagara. Setiap musim hujan air bah yang sampai ke Muara Bahan selalu membawa kayu-kayu hutan di hulu Barito yang hanyut sampai ke hilir. Oleh masyarakat setempat kayu-kayu ini diambil dan disimpan, saking banyaknya sehingga daerah ini terkenal dengan nama asal bahan-bahan kayu. Sehingga setiap orang menyebut daerah ini dengan Muara Bahan. Akhirnya setelah mengalami beberapa perubahan kata menjadilah nama Marabahan sebagai sebutan daerah tersebut.
Versi kedua adalah sebagai berikut :
Pada jaman dahulu di daerah hulu sungai yaitu disekitar Kandangan, tumbuh sebuah pohon ulin (kayu besi) yang sangat tinggi dan besar. Pada mulanya, masyarakat di sekitar pohon ulin merasa tidak terganggu, namun sejak kehadiran seekor burung besar yang bersarang di pohon tersebut, masyarakat merasa terganggu dengan suara burung yang terus memkik sepanjang malam. atas kesepatan masyarakat, akhirnya diputuskan pohon ulin tersebut di tebang dengan harapan burung besar tersebut akan berpindah.
dimulailah penebangan pohon ulin oleh masyarakat dengan alat tardisional. Karena pohon yang ditebang sangat besar, penebangan memakan waktu berminggu-mingu, namun masyarakat terus berupaya sampai akhirnya pohon ulin tersebut tumbang ke arah selatan. Saking tingginya pohon tersebut pucuknya sampai menimpa daerah yang sekarang dinamanakan Marabahan. Artinya daerah ini mengalami "karabahan" pohon ulin. Tempat tumbuhnya pohon ulin tersebut sekarang dinamakan Kampung Ulin, yaitu sekitar 7 km arah barat Kandangan.
Demikian legenda nama asal mula Marabahan, terlepa dari benar tidaknya cerita ini, Wallahu 'alam.

seurce
read more...

Kamis, 18 Oktober 2012

KATUPAT KANDANGAN


Siapa yang kada tahu lawan katupat kandangan, bilang kaliwaran banar kalau kada tahu. Katupat sudah manjadi cirri khas hagan kandangan selain dodol atau kuliner lainnya. Apalagi wayahni sudah ada tugu hari jadi Kab. HSS yang ibu kotanya Kandangan. Di tugunya ada katupatnya dua biji, sampai anak cucu 7 turunan kada habis tu katupat dimakani barataan. Tugu ni adanya di Desa Hamalau Kec Sungai Raya
Keberadaan Tugu Hari jadi yang menggunakan symbol Katupat Kandangan semakin memperkuat posisi Katupat sebagai kuliner ciri khas dan unggulan dari Kandangan, Hal ini sesuai dengan visi Kabupaten HSS yang Mandiri, Unggul dan Religius. Simbol katupat ini juga ada di Bundaran Jl. H.M Yusi  yang menuju ke Terminal Bus Kandangan.
Ketupat Kandangan atau orang Banjar biasa menyebutnya Katupat Kandangan merupakan kuliner khas yang berasal dari daerah Kandangan, Kab. Hulu Sungai Selatan,Kalimantan Selatan. Seperti ketupat pada umumnya, bahan untuk membuat ketupat berasal dari beras, yang dimasukkan dalam ayaman daun kelapa yang berbentuk seperti limas, yang selanjutnya direbus. Yang membedakan dengan jenis ketupat lainnnya adalah penggunaan ikan gabus (haruan) sebagai menu pelengkap. Ikan Gabus sebelumnya harus di panggang dulu sebelum direbus menggunakan santan. Kemudian, Ikan Gabus beserta kuahnya disiramkan ke ketupat. Kuliner ini dapat dimakan untuk makan pagi, siang atau malam. Kuah agak kental dengan rasa yang sangat khas gurih. Kadang-kadang orang juga senang makan katupat kandangan ini dengan telur asin.
read more...

Hantu Anak Sima Bayi Pemakan Jantung ( Cerita rakyat pahuluan, Kalimantan Selatan )


Cerita rakyat Anak Sima ini penuh misteri, ada beberapa sumber yang saya temui menceritakan bahwa sewaktu beliau kecil memang pernah mendengar jeritan tangis Anak Sima. Cerita ini berkembang di daerah hulu sungai, waktu itu pernah menjadi cerita yang menghebohkan tetapi sekarang tidak banyak lagi anak muda yang mengetahui kisahnya.
Anak Sima berasal dari anak kapang (anak terlahir dari hubungan tidak sah), karena merupakan anak hubungan gelap maka ibu sang bayi membuangnya ke dalam hutan lebat setelah dilahirkan, untuk membuang rasa malu. Bayi yang baru lahir ini menangis sejadi-jadinya karena ia merasa lapar dan kedinginan. Berhari-hari menangis tidak ada seorang pun yang mendengar sehingga hampir mati.
Tiba-tiba saat itu lewatlah Takau (jenis hantu paling kuat dalam cerita rakyat Kalsel, bisa berubah bermacam bentuk dan ilmunya sangat tinggi). Takau yang lewat ini sangat kelaparan, saat ia mendengar tangisan bayi segera ia menuju ke sumber suara.
” aumm (takau dalam bentuk macan) laparnya ai parut ku, nyaman banar bisa bayi ngini lamun kumakan” geram Takau (lapar sekali perutku, sungguh lezat kalau bayi ini kumakan).
Takau pun segera mendekati bayi itu, bayi yang menangis disentuhnya tiba-tiba berhenti menangis. Takau terpesona melihat kecakapan anak ini. Rambutnya ikal,hidung mancung, matanya bulat, bibirnya merah delima, dan tersenyum dengan sangat manis. Takau berubah menjadi bentuk manusia, digendongnya dengan mesra bayi itu, di dalam hatinya tidak ada lagi maksud untuk memakan bayi ini.
“bah, baik ku bawa bulik haja bayi ngini, bungas banar, kujadiakan anakku, kusayangi wan kupalihara” kata Takau kegirangan (wah, sebaiknya kubawa pulang saja bayi ini, cantik sekali, aku jadikan anakku, aku sayangi dan aku pelihara). Bertahun-tahun Takau memelihara bayi yang diberinya nama Anak Sima, tetapi anehnya Anak Sima ini tidak bertambah dewasa bentuknya tetap seorang bayi. Karena dipelihara oleh hantu, maka Anak Sima pun memiliki ilmu hantu dari Takau. Takau dan Anak Sima selalu mengembara ke hutan-hutan, kadang digendong kadang dihambin(digendong di punggung/dibopong) Takau sangat menyayangi Anak Sima. Saat Anak Sima lapar maka ia akan pergi sendiri mencari makanannya. Jenis makanan yang paling disukai Anak Sima adalah jantung manusia hidup.
Anak Sima mempunyai ilmu yang lumayan hebat semacam ilmu pengasih, dengan tangisannya orang akan terpesona sehingga mencari-cari sumber suara, setelah orang itu mendekat Anak Sima dengan mesra akan memanggil orang itu ‘Uma-Uma’ (mama). Orang yang dipanggil akan merasa kasihan dan sayang sehingga tidak mampu menahan keinginan untuk menggendong Anak Sima.
Pada suatu ketika, ada seorang ibu tua yang sedang mengumpulkan kayu bakar memasak di hutan. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh bunyi suara tangisan bayi, meskipun dalam pikirannya bingung ada tangis bayi dalam hutan, tetapi tangisan itu sangat menggoda untuk dicari. Diperhatikannya sekeliling untuk mencari sumber tangisan itu, didekatinya, ketika sampai dibawah pohon dilihatnya ada seorang bayi yang sangat cantik rupanya.
“Uma” ujar bayi itu. Perempuan tua sangat terkejut mendengar panggilan itu. Langsung saja timbul rasa iba dan sayangnya pada bayi ini. Segera didekatinya bayi yang tadi memanggilnya dengan sebutan mama.
kur sumangat, anakku” ujarnya (semacam panggilan orang Melayu Banjar, maksudnya mengembalikan semangat yang hilang). Bayi ini segera digendongnya, tetapi anehnya si bayi hanya mau dihambin. Kehendaknya dituruti oleh ibu tua, dalam perjalanan pulang ke rumah dihambinnya bayi ini yang tak lain adalah Anak Sima.
Semakin jauh perjalanan, si perempuan tua semakin merasakan punggungnya berat dan pedih, padahal si bayi badannya ringan. Karena tidak tahan lagi ia pun menengok ke belakang, tetapi yang dilihatnya sangat mengerikan, Anak Sima sedikit demi sedikit memakan daging punggungnya sampai berlubang setelah itu diambilnya jantung kemudian dimakannya. Perempuan tua yang sudah diambil jantungnya segera ditinggalkan lari ke dalam hutan.
Begitulah cara Anak Sima menjerat korbannya. Begitu banyak korban berjatuhan di dalam hutan karena terpesona oleh Anak Sima ini. Semua korban ditemukan dalam keadaan yang hampir sama, tubuh bagian belakang berlubang dan jantungnya telah hilang.
Di daerah yang menjadi sumber cerita ini, sering terdengar bunyi tangisan bayi di samping rumah. Bayi ini menangis sambil memanggil Uma kepada orang di dalam rumah. Bagi yang sudah tahu maka akan menyahut “Aku lainan uma ikam. Uma ikam di anu / di kampung anu” (aku bukan ibumu, ibumu di anu / di kampung anu). Maka Anak Sima yang mendengar jawaban tadi akan segera pergi ke tempat yang disebutkan oleh yang punya rumah. Sehingga terhindarlah mereka dari ancaman Anak Sima.
Menurut kepercayaan, rambut Anak Sima mampu memberi ilmu. Barangsiapa yang memiliki rambut Anak Sima akan mempunyai ilmu menghilang, kebal senjata, dan kaya raya. Tetapi sampai saat ini menurut cerita tidak ada seorang pun yang mampu menangkap Anak Sima untuk dipotong rambutnya.
read more...