Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juli 2015

DESTINASI WISATA PULAU DERAWAN KALIMANTAN TIMUR

Siapa yang tidak mau liburan ke Pulau Derawan, di Kaltim? Bermain dengan penyu dan berenang di air laut yang jernih di sana, akan terasa menyenangkan. Bagi Anda yang mau liburan ke Derawan, ini nih cara hematnya!

Seperti destinasi kepulauan indah lain di Indonesia bagian Tengah dan Timur, biaya paling besar untuk menuju Pulau Derawan adalah biaya transportasi. Biaya untuk menetap di sana pun lumayan mahal. Tapi hal tersebut berbanding terbalik dengan keindahan alamnya, Kepulauan Derawan akan menghipnosis Anda dengan dunia bawah lautnya yang sangat indah.

Bagi traveler, khususnya yang berdomisili di luar Pulau Kalimantan, Anda harus merogoh kocek lebih dalam. Biaya transportasi udara, darat, dan laut, akan memakan banyak biaya. Mengutip pepatah, 'Banyak jalan menuju Roma', traveling ke Pulau Derawan pun ada banyak jalannya dan ada juga yang murah lho!

Kota terdekat dengan Pulau Derawan yang memiliki lapangan udara adalah Kota Berau dan Tarakan. Kedua kota ini terkenal sebagai titik awal sebelum menuju ke Derawan. Ongkos pesawat ke Tarakan lebih murah daripada ke Berau. Tapi sayangnya, tidak ada kapal reguler yang langsung menuju Pulau Derawan.

Apabila rombongan Anda mencapai 10 orang lebih, sewalah speedboat dari Kota Tarakan. Anda bisa patungan untuk menyewa speedboat dan lakukanlah penawaran jitu. Ingat, BBM di sana mahal, jadi ada baiknya Anda tidak menambahkan rute di tengah-tengah perjalanan. Dari Tarakan ke Derawan dengan speedboat memakan waktu lebih dari 3 jam.

Biaya tiket pesawat ke Kota Berau lebih mahal daripada ke Tarakan. Dari Berau, Anda dapat melakukan perjalanan dua jam menuju Tanjung Batu. Lalu dari sana, tinggal naik speedboat kecil dengan waktu tempuh 45 menit untuk tiba di Pulau Derawan. Dari Tanjung Batu itu, terdapat dermaga untuk speedboat penyeberangan ke Pulau Derawan. Tapi baru mau berangkat jika penumpang sudah penuh, biasanya minimal 4 orang.

Untuk mendapatkan tiket pesawat dengan harga murah ke kedua kota tersebut, tentu saja rajin-rajin cek promo maskapai penerbangan. Bahkan saya pernah melihat harga tiket promo yang sangat miring, dari Surabaya ke Berau. Lumayan untuk memangkas bujet!

Terkadang, selisih harga tiket pesawat ke Berau dan Tarakan beda jauh. Sehingga traveler cenderung memilih Kota Tarakan sebagai start point ke Derawan atau pulang dari Derawan.

Selain menyewa speedboat, ada alternatif lain untuk menuju Pulau Derawan dari Kota Tarakan. Cara ini menghabiskan waktu total kurang lebih 7 jam perjalanan, dengan rute Tarakan-Tanjung Selor dengan speedboat, lalu Tanjung Selor-Berau dengan taksi kijang, kemudian Berau-Tanjung Batu dengan taksi kijang, terakhir Tanjung Batu ke Pulau Derawan dengan speedboat.

Terkadang, dari Pelabuhan Tanjung Selor ada yang sanggup mengantar langsung ke Tanjung Batu. Hal itu tergantung kesepakatan dengan driver taksi. Rute ini berlaku untuk pulang pergi.

Jika harga pesawat ke Berau dan Tarakan lagi melambung, biasanya ketika musim liburan, Anda bisa coba jalur darat. Ingat, hal ini tidak direkomendasikan bagi traveler yang hanya mempunyai waktu liburan sedikit. Sebabnya, jalur darat menuju Berau masih buruk.

Aktualnya perjalanan darat dari Samarinda-Berau dapat ditempuh kurang dari 24 jam. Akan tetapi, terkadang curah hujan yang tinggi bisa membuat kendaraan terjebak di hutan selama berhari-hari. Namun, ini adalah rute yang sangat menghemat bujet dikala harga tiket pesawat melambung tinggi.

Rute untuk jalur darat tersebut adalah Balikapan ke Samarinda dengan bus, lalu Samarinda ke Berau dengan taksi kijang, kemudian Berau ke Tanjung Batu dengan taksi kijang, terakhir, Tanjung Batu ke Pulau Derawan dengan speedboat.

Setibanya di Pulau Derawan, Anda bisa menyewa speedboat untuk menuju Pulau Kakaban, Sangalaki, dan Maratua. Tapi ingat, harga sewa speedboat di sini sangat mahal karena langkanya BBM di sana. Ongkos sewa speedboat kecil ke 3 pulau tersebut untuk 1 hari saja bisa mencapai Rp 1,5 juta atau lebih.

Hal ini tentu sangat memberatkan Anda. Alternatifnya, Anda bisa meninggalkan pesan pada pengelola homestay, boat driver, atau pun pengelola tempat makan, untuk mengajak tamu lain yang bisa diajak bersama-sama keliling tiga pulau tersebut. Selain menekan bujet, cara ini tentunya menambah pertemanan.

Selain masalah transportasi, biaya makan di Derawan cukup mahal. Harga lauk di Derawan terutama makanan seafood sangat murah, tapi herannya harga makanan di sana tetap saja mahal. Ternyata, hal ini disebabkan oleh harga beras yang mahal di sana.

Agar lebih hemat, traveler bisa bawa beras secukupnya dan mini cooker multifungsi yang bisa dibawa ke mana saja. Dengan itu, Anda bisa memasak nasi, menggoreng, atau merebus menggunakan listrik gratis yang disediakan di kamar. Apalagi, sekarang listrik di Derawan sudah 24 jam.

Dengan cara ini, traveler bisa membeli lauknya saja untuk satu porsi yang bisa dibagi bersama. Anda bisa membeli aneka macam jenis seafood, seperti ikan kima, sotong, dan masih banyak lagi di pedagang-pedagang kaki lima dengan harga yang murah meriah.

Akan lebih hemat lagi, jika Anda membawa alat pancing sendiri ke Derawan. Tidak perlu yang mahal, alat yang sangat sederhana pun seperti benang dan kail bisa Anda bawa. Banyak penduduk lokal yang hobi memancing dengan peralatan sederhana itu di dermaga pulau Derawan menjelang sore hari. Bergabung saja dengan mereka, Anda bisa memancing sambil melihat sunset cantik. Masyarakatnya juga ramah lho!

Atau, traveler juga bisa menumpang kapal-kapal nelayan yang memancing di laut tidak jauh dari garis pantai. Hasil pancingannya bisa dimasak sendiri atau minta dimasakkan di rumah makan dengan imbalan ikan hasil pancinganmu yang lain. Dijamin sangat hemat dan perut kenyang!

Kalau mau lebih hemat lagi, traveler bisa beli beberapa botol air minum dari kota daripada beli di Derawan. Tentunya, bawaan Anda akan semakin berat. Tapi menurut saya itu bukan masalah, karena kita tidak jalan kaki dan tidak ada biaya tambahan kalau kelebihan bagasi di taksi kijang atau speedboat. Dan yang lebih hemat lagi, rebus saja air sendiri menggunakan mini cooker yang dibawa.

Dan kalau traveler mau mencoba hitchike atau menumpang kendaraan lain ke Derawan, bukannya tidak mungkin. Yang perlu diperhatikan, angkutan umum antar kota di sana menggunakan taksi kijang yang tidak ada bedanya dengan mobil pribadi. Jadi, kemungkinan besar mobil yang ingin Anda tumpangi bukanlah mobil pribadi, melainkan angkutan umum. Tanyakan dulu, ya!

Sebenarnya dari tips tersebut, semua tergantung dari bagaimana kreatifnya kita dalam hal menekan bujet. Percayalah, selalu ada celah di balik hal-hal yang sulit dan tidak mungkin. Buanglah gengsi, selama mendapatkannya dengan cara yang halal. Selamat jalan-jalan ke Derawan!


Seurce : Detik Travel
read more...

Minggu, 26 Februari 2012

Keelokan Loksado ( Kandangan, Hulu Sungai Selatan ) Kalsel

Jika ingin merasakan segala kebaikan alam, datanglah ke Loksado, pemukiman masyarakat Dayak-Meratus di hulu Sungai Amandit, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan. Selain alamnya yang asri, di sana juga terdapat rumah panjang suku Dayak (Balai Malaris), air terjun Haratai, Danau Bangkau, Bukit Kantawan dan pemandian air panas Tanuhi.

Masih banyak lagi objek wisata yang dapat Anda kunjungi. Tapi aktivitas paling menantang adalah bamboo rafting atau orang setempat menyebutnya balanting paring. Yakinlah, adrenalin Anda akan terpacu di tengah Sungai Amandit yang deras dan berbatu-batu.

Pengalaman itulah yang saya rasakan pertengahan Juni 2009 ini saat ”mencicipi” keelokan Loksado. Bersama seorang sahabat bernama Hajriansyah, kami bermobil menuju Loksado. Sebelum sampai ke sana, malamnya kami sudah sampai di Kandangan, ibukota Kabupaten HSS setelah menempuh perjalanan 133 km dari Banjarmasin.

Dari Kandangan, Loksado sudah dekat. Kami menginap di rumah Pak Burhanuddin Soebly, sastrawan Kalsel yang juga menjabat Kepala Seksi Pariwisata dan Budaya HSS. Dia telah mengontak joki lanting serta mencarikan kami seorang pemandu yang sekaligus berfungsi sebagai sopir cadangan.

Sekitar pukul 8.00 WITA, setelah menyantap ketupat Kandangan yang terkenal itu, kami mulai melaju menempuh jalur Kandangan-Batulicin. Kami melewati Desa Karang Jawa, yang pada masa gerilya merupakan basis ALRI pimpinan pejuang Hasan Basri. Markasnya yang tua masih berdiri di tepi jalan.

Selepas desa bersejarah ini, jalan mulai menanjak dan berkelok-kelok, pertanda kami memasuki kawasan Pegunungan Meratus. Jalannya yang mulus, dengan hutan di kiri-kanan, membuat perjalanan 38 km itu sungguh tak membosankan. Kami sengaja membuka kaca mobil menikmati kesejukan alam Meratus.

Tak lebih dua jam, kami sampai di kawasan Loksado dengan berbelok ke kiri di sebuah simpang. (Jika lurus, itu arah ke Batulicin, pelabuhan laut terbesar di Kalsel). Loksado sebenarnya juga dipakai sebagai nama kecamatan yang terdiri atas beberapa desa seperti Malino, Tanuhi, Haratai dan Loksado sendiri yang terletak di jalan raya yang dibangun tahun 1990-an itu. Seturut Khadafi, sang pemandu, kami langsung menuju Loksado.

DI depan pasar Loksado yang terletak di tepi Sungai Amandit, perjalanan bermobil harus diakhiri. Di sana sudah menunggu Acun, sang joki lanting yang sudah dikontak Pak Burhanuddin sebelumnya. Kami berkenalan dan memanggilnya Julak (paman). Dia meminta kami segera bersiap. Saya mengganti celana panjang dengan celana pendek, membungkus ponsel, dompet, dan kamera dengan kantong kresek. Hajriansyah tetap bercelana panjang. Persiapannya memang tak seketat arung jeram berperahu karet, yang dilengkapi baju renang dan helm itu.

Sebagian barang kami biarkan di dalam mobil, yang kemudian diambil-alih Khadafi. Ternyata inilah fungsi penting sang pemandu: begitu kami start dari Desa Loksado mobil harus menunggu di Desa Tanuhi, tempat finish. Jarak kedua desa 12 km. Lewat darat cukup ditempuh setengah jam kurang, tapi lewat sungai 2,5 jam lebih! Jangan khawatir jika Anda tidak membawa kendaraan. Sebab dari Tanuhi, desa terdekat di gerbang kawasan, ada banyak ojek motor yang siap mengantar Anda ke tempat start di dermaga Loksado.

Apa yang disebut lanting paring tak lain rakit bambu; terbuat dari susunan batang bambu, diikat kuat, di tengahnya diberi tempat duduk. Biasanya, bagian ujung diikat meruncing menyerupai kepala kapal. Tapi lanting yang kami naiki sederhana saja, dan hanya terdiri atas 16 batang bambu. Julak Acun mengaku membuatnya agak tergesa sebab kabar dari Pak Burhanuddin baru diterimanya sore sebelumnya. Untuk diketahui, lanting yang dipakai dari Loksado, tak bisa lagi digunakan sebab tak mungkin membawanya balik menyongsong arus.

Arus Sungai Amandit memang tak alang-kepalang! Deras, liar, berbatu dan penuh jeram. Meski debit air mulai menyusut seiring datangnya musim kemarau, toh suasananya tetap menantang. Begitu melewati depan pasar Loksado, arus yang deras segera menyambut. Lanting yang tadi tenang segera bergermeretak seiring gemuruh air, membuat tubuh kami terbanting, susah-payah mencari keseimbangan. Sang Joki cekatan mengendalikan arah dengan sebatang galah bambu. Ia harus menghindari kepala lanting bertubrukan dengan batu jika tak ingin tersekat atau dipelintir arus. Untunglah Julak Acun sudah berpengalaman.

Perjalanan tak selamanya diseret arus, selalu ada bagian sungai yang tenang. Saking tenangnya, sang Joki harus mendorong lanting dengan galah panjangnya. Geraknya jadi lambat. Tapi saat tenang begitulah kami bisa menikmati alam. Saya mengeluarkan kamera dari bungkusnya. Kesempatan memotret alam yang sangat indah. Bukit-bukit berderet biru di kejauhan.

Di bukit terdekat terlihat ladang penduduk ditanami hortikultura seperti karet, kayu manis, kemiri, durian dan nangka. Juga palawija semacam jagung dan terong. Tak ketinggalan hutan bambu yang jarang ada di tempat lain. Bukit batu Kantawan yang seperti ditata secara manual, tegak elegan dengan latar pegunungan biru-kelabu.

Kepalang basah, saya terjun dari lanting. Gedebur! Bak pepatah, air yang tenang itu dalam, jadi kesempatan terjun bebas dan berenang-renang di sisi rakit yang pelan.

”Awas, ada buaya!” seru teman saya. Saya kaget. Julak Acun tertawa,”Sungai sini tak ada buayalah, kecuali di kuala dekat rawa.”
Teman saya itu hanya tersenyum kalem. Dia sengaja menggoda saya rupanya. Kami lalu berhenti di tepi sungai, beristirahat menikmati suasana lebih akrab, setidaknya suara burung terdengar lebih jelas. Pohon-pohon besar seperti bengkirai, tarab dan binjai, masih terlihat kokoh di tepi sungai, meski tak banyak. Saya ingin melihat pohon ulin alias kayu besi, tapi Julak Acun menggelengkan kepala. ”Sudah tak ada di sini,” katanya.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Tak jarang kami bertemu peladang dan penangkap ikan. Ada juga sejumlah kampung yang sepi di tepi sungai, seperti Mandahin dan Ntarlagi. Yang disebut kampung ini tak lebih tiga atau lima rumah saja, dihubungkan jembatan gantung atau cukup pakai lanting. Sebelum finish, kami melewati tugu Proklamasi, tempat Hasan Basri mengumumkan kemerdekaan RI.

Setelah itu, kami mendarat dengan selamat di tepian Desa Tanuhi, tak jauh dari pemandian air panas. Di sana Khadafi telah menanti. Kami lalu masuk ke kompleks air panas, memesan makan-minum di kafetaria, untuk akhirnya berendam berlama-lama. O, eloknya Loksado yang penuh berkah!

Dari Tradisi Petani Bambu

Aktivitas wisata balanting paring atau bamboo rafting, bermula dari tradisi petani bambu di Loksado. Mereka biasa menjual bambu ke kota Kandangan dengan cara mengikatnya dalam bentuk rakit lalu dihanyutkan di Sungai Amandit. Satu rakit biasanya terdiri atas 50-70 batang bambu yang disusun bertumpuk. Tak jarang mereka membawa hasil bumi lainnya seperti kulit kayu manis, karet, atau durian. Mereka berangkat berkelompok dan memilih saat air tidak surut.

Tentu saja waktu tempuh Loksado-Kandangan lebih lama. Kalau lewat darat, perjalanan hanya memakan waktu sekitar dua jam, perjalanan mengarungi sungai membutuhkan waktu dua hari dua malam. Tak heran mereka pun menginap di jalan, di kampung-kampung terdekat di tepi sungai.

Seiring pertumbuhan fasilitas wisata seperti hotel, cottage, restoran, dan lapangan tenis di Loksado, jumlah wisatawan kian meningkat. Balanting paring pun lantas diminati sebagai salah satu atraksi wisata. Para petani atau pedagang bambu yang terlatih itu pun memiliki ”tambahan” profesi. Mereka ramai-ramai menjadi joki, dan bahkan menghimpun diri dalam sebuah organisasi resmi: Persatuan Joki Lanting.

Hasil menjadi joki pewisata yang melakukan balanting paring itu lumayan juga. Dalam sebulan, seorang joki bisa mengantar tiga atau lima trip wisatawan. Tarifnya Rp. 200.000 untuk rute pendek (Loksado-Tanuhi), waktu tempuh 2,5 jam; rute sedang Rp. 300.000 (Loksado-Muara Hatip), 3 jam waktu tempuh; dan sistem borongan untuk rute panjang Loksado-Kandangan, dua hari dua malam.
Namun rute panjang secara resmi hanya ada sekali setahun, yakni bulan Desember saat debit Sungai Amandit meningkat drastis. Secara kebetulan, Desember juga peringatan hari jadi Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Maka jadilah Dinas Pariwisata dan Budaya daerah ini menyelenggarakan event Festival Lanting. Lebih 50 lanting hias akan bertolak dari Loksado ke Kandangan, sambil mengarak pengantin balanting yang diiringi musik tradisional sepanjang sungai.

Acara utama festival tersebut adalah lomba balanting paring. Biasanya, ada tiga hal yang menjadi penilaian dalam lomba yang sangat menantang naluri petualangan seseorang. Yakni, bagaimana kemampuan peserta dalam menaklukkan derasnya jeram dari Loksado sampai ke Kota Kandangan, bagaimana kekompakan peserta dalam mengarungi jeram, dan bagaimana cara peserta menjaga lanting alias rakit mereka yang dihias hingga sampai garis finish yang ditentukan. Seru sekali.

Selain itu, mungkin karena kekhasannya, masyarakat Dayak di Loksado memiliki sebuah tarian bernama Balanting Paring yang terinspirasi dari aktivitas menghela bambu di sungai. Tarian itu biasanya dibawakan pada perayaan-perayaan masyarakat setempat. Yang pasti, tak keliru jika keelokan Loksado masuk daftar kunjungan Anda.

Seurce : Suara Merdeka
read more...

Senin, 13 Februari 2012

Air Terjun Srigethuk, Oase di Gunungkidul

Kabupaten Gunungkidul di Provinsi DI Yogyakarta makin terkenal dengan pantai-pantai barunya yang indah. Namun, selain pantai, wilayah ini juga dianugerahi dengan keindahan alam lain yakni gua dan air terjun. Air terjun Srigethuk adalah salah satu lokasi wisata baru yang menjadi buah bibir selama setahun terakhir ini.

Ketika saya berkunjung ke Srigethuk akhir pekan lalu, kesan pertama saya adalah adanya kemiripan dengan Green Canyon di Jawa Barat. Namun, tentu saja setiap lokasi memiliki keunikan sendiri-sendiri.

Pada dasarnya, inti objek wisata Srigethuk ini adalah tiga air terjun yang berada dalam satu lokasi. Ketiga air terjun tersebut jatuh di bebatuan yang sama kemudian bersama-sama mengalir di Sungai Oya. Masing-masing air terjun tersebut berasal dari tiga sumber mata air, yaitu Dong Poh, Ngandong, serta Bleberan. Selain ketiga air terjun utama, ada beberapa air terjun kecil — dalam bahasa Jawa disebut kriwikan — di lokasi tersebut.
Objek wisata ini masih cukup baru sehingga infrastruktur pun masih terbatas. Namun, jangan khawatir, sarana dasar seperti toilet dan warung makan sudah tersedia di sini. Hingga saat ini, objek wisata Srigethuk masih dikelola secara lokal oleh pihak Desa Bleberan.

Walaupun sarana masih terbatas, pihak pengelola telah membangun tangga batu dari tempat parkir menuju ke tepi sungai, sehingga wisatawan tidak perlu khawatir ketika menuruni tebing. Butuh waktu sekitar 5-10 menit untuk mencapai bibir sungai. Setibanya di pinggir sungai Oya, Anda akan dimanjakan dengan paduan warna kehijauan sungai serta tumbuh-tumbuhan yang mengelilinginya. Pohon-pohon kelapa menjulang tinggi tertiup angin.

Dari sini Anda tidak dapat langsung melihat air terjun utama, hanya sebuah air terjun kecil di kejauhan. Anda harus menaiki rakit untuk mencapai air terjun Srigethuk. Di sini Anda harus membayar Rp 5.000 per kepala untuk perjalanan pulang-pergi. Ada dua buah rakit yang beroperasi di sungai itu, yang mengangkut wisatawan secara bergantian.
Butuh waktu sekitar 10 menit untuk mencapai air terjun utama. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, namun rakit berjalan sangat lambat. Dari atas rakit Anda dapat mengabadikan pemandangan yang memang mayoritas didominasi warna hijau. Semakin dekat, air terjun Srigethuk (yang juga dikenal dengan nama Slempret) ini semakin menakjubkan. Ketiga air terjun jatuh dari ketinggian sekitar 25 meter. Ketiganya bergabung menjadi satu di bebatuan yang berwarna kekuningan di bawahnya.

Setelah turun dari rakit Anda harus menyeberangi batu-batu basah itu untuk mendekati air terjun. Rasakan sensasi mandi di bawah Srigethuk! Banyak wisatawan yang memanfaatkan waktu untuk mandi dan berenang di sungai sekitar air terjun. Hijaunya air di sini adalah karena lumut, bukan karena limbah, sehingga aman untuk mandi.

Beberapa bagian dari Gunungkidul merupakan tanah tandus sehingga air yang berasal dari Sungai Oya dan air terjun Srigethuk bagaikan oase di Desa Bleberan ini. Air dimanfaatkan untuk pengairan daerah pertanian penduduk setempat. Vegetasi yang umum di wilayah tersebut adalah jagung, jati, serta kayu putih.

Bila sudah puas bermain-main di air terjun, Anda dapat menumpang rakit untuk kembali. Apabila perut sudah melilit, ada beberapa warung makan di sekitar tangga menuju ke tempat parkir. Cobalah salah satu menu khas Gunungkidul, yaitu tiwul. Tiwul adalah makanan yang dibuat dari singkong. Secara umum, tiwul manis dimakan untuk makanan ringan.
Menuju ke Srigethuk

Dari Yogyakarta, Srigethuk dapat dicapai melalui jalan Yogya-Wonosari. Sebelum sampai di Wonosari, tepatnya setelah lapangan udara Gunungkidul, Anda harus membelok ke kanan menuju ke Playen. Sampai di pertigaan pasar Playen, Anda kembali membelok ke kanan untuk menuju ke arah Desa Bleberan. Setelah itu akan ada penanda arah untuk menuju ke Srigethuk.

Tanda-tanda yang tersedia cukup banyak. Jalanan dari Yogyakarta hingga ke mulut Desa Bleberan sangat baik, namun setelah itu cukup buruk karena banyak bagian yang belum diaspal. Setiap orang yang berkunjung ke Srigethuk dipungut biaya Rp 2.000 sementara mobil Rp 3.000. Biaya itu sudah termasuk ongkos parkir, jadi masih sangat murah!

Selain Srigethuk, Anda juga dapat berkunjung ke Gua Rancang yang berada di desa itu. Biaya yang Anda bayarkan sudah termasuk kedua lokasi wisata sehingga Anda tidak perlu membayar lagi. Nah, saatnya wisata hemat ke Gunungkidul!

foto-fotonya







read more...