Tampilkan postingan dengan label Sejarah Banjar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Banjar. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Mei 2013

Asal-Usul Banyu Barau Parincahan Hulu Sungai Selatan

Cerita tentang sikap perlawanan anak bangsa, putera Hulu Sungai Selatan yang ada di desa Parincahan (Banyu Barau sekarang) melawan penjajah Ulanda (Belanda) di masa itu.
Ketika itu pihak polisi Ulanda menerima laporan bahwa masyarakat desa Parincahan, tidak mentaati perintah dan tidak mau membayar pajak kepala. Perlawanan ini justru dipimpin oleh “pangerak” (jabatan setingkat Ketua LK sekarang) sendiri.

Atas laporan ini, komandan polisi Ulanda segera melaporkan ke Tuan Kantolor (asisten Kontroler), namun tuan Kantolor sedang berada di Banjarmasin. Sementara menunggu perintah dari tuan kantolor, komandan polisi melakukan konsolidasi dan koordinasi pasukan, guna menyusun siasat dan strategi penyerangan ke kampung Parincahan. Rencana penyerangan ini ternyata bocor dan diketahui oleh masyarakat setempat. Pangerak dan tetuha masyarakat Princahan segera mengadakan “pahadring” (rapat untuk membahas kesiapan menghadapi serangan ini.

Dalam rapat tersebut, disusun rencana yang cukup sederhana namun efektif. Di pinggiran desa arah ke jalan raya dibuat danau cukup luas, namun tidak terlalu dalam. Di sisinya dibuat jamban-jamban besar dari pohon kayu (batang) untuk keperluan MCK (mandi, cucui, kakus). Di tepi danau didirikan sebuah bangunan/balai yang sangat besar, dengan tiang-tiang tinggi terbuat dari pohon pinang. Di tengah bangunan tersebut digantung sebuah ayunan yang juga dalam ukuran besar. Beberapa buah drum minyak tanah tersedia berjejer di tepi danau. Kemudian masyarakat juga menumpuk paku besi dalam beberapa tumpukan di seberang danau laiknya tumpukan sayur.

Tertundanya waktu serangan, dikarenakan menunggu perintah tuan kantolor, memungkinkan masyarakat kampung untuk mengadakan persiapan tersebut.
Sementara itu polisi Ulanda mengumpulkan berbagai informasi tentang situasi desa dan masyarajatnya.
Waktu serangan pun tiba, polisi Ulanda di bawah pimpinan komandannya (satu-satunya Ulanda asli) tentara anggotanya kesemuanya “Ulanda hirang”), segera berangkat menuju desa Parincahan dengan bersenjatakan lengkap, yakni senapan “barujuk”, bayonet dan klewang.
Untuk menuju lokasi desa, pasukan polisi Ulanda dipandu oleh salah seorang warga, yang sebenarnya merupakan anggota kelompok masyarakat yang akan diserang.
Pasukan pun tiba di tepi danau buatan. Setibanya di sana mereka kaget dan tercengang menyaksikan pemandangan yang ada.

Di seberang danau, dibangunan besar, terlihat seorang anak bayi yang berwarna putih bertubuh sangat besar, sebesar orang dewasa, sedang “dipukung”/diayun. Mereka juga menyaksikan tumpukan paku di tepi danau, permukaan danan yang menyala dan jamban-jamban/batang dengan ukuran raksasa.
Dalam keadaan kaget dan ada rasa takut, segera menanyakan keanehan ini kepada penunjuk jalan.
Si penunjuk jalan menceritakan, bahwa:

1. Bayi yang sedang dipukung tersebut adalah anak pangerak.
2. Air danau yang menyala (banyu barau), memang merupakan kebutuhan air penduduk sehari-hari untuk minum, memasak dan mandi/cuci.
3. Jamban-jamban raksasa adalah tempat penduduk desa mandi, mencucui dan buang air.
4. Tumpukan paku merupakan bahan sayur-mayur untuk keperluan makan penduduk sehari-hari.
Mendengar penjelasan tersebut, komandan polisi Ualnda dan anggotanya merasa sangat takut. Rupanya penduduk desa Parincahan yang bakal mereka serang ini adalah para raksasa, dan bukan lawan mereka.
Komandan polisi Ulanda segera mengambil keputusan bahwa serangan dibatalkan, dan memerintahkan pasukan untuk kembali.

Desa tersebut akhirnya diberi nama desa Banyu Barau, dan sang bayi yang tidak lain adalah pangerak itu sendiri yang memamng berpostur tubuh besar, diberi gelar Datu Putih.
Ketika Datu Putih meninggal dunia, beliau dimakamkan di tempat beliau diayun dengan ukuran makam yang luas biasa besarnya, dan sampai sekarang tetap dibina oleh masyarakat setempat dan diberi cat warna putih. Makam ini dikenal dengan nama makam Datu Putih, dan sampai sekarang masih ada.

Seurce : Fiksi Kompasiana
read more...

Selasa, 09 April 2013

SEJARAH PEMBANGUNAN MASJID ASSU’ADA, WARINGIN, AMUNTAI

Oleh WAJIDI

Di Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara, tepatnya di desa Waringin, Kecamatan Haur Gading, terdapat masjid tua bernama Masjid Assu’ada yang selama ini tidak banyak diketahui masyarakat Kalimantan Selatan, lantaran lokasinya yang agak terpencil, dan prasarana jalan yang relative sempit untuk menuju masjid tersebut.  Lokasi masjid ini sebenarnya tidak terlampau jauh dari kota Amuntai, mungkin hanya sekitar 7 km, namun kendaraan roda empat hanya bisa sampai ke desa Teluk Keramat Haur Gading, selebihnya untuk menuju masjid ini harus memakai kendaraan roda 2 atau berjalan kaki sejauh kira-kira 1.5 km menelusuri jalan sempit di pinggiran sungai.
Masjid  Assu’ada memang masjid tua. H. Barkati, kepala desa Waringin yang juga juru pelihara masjid, masjid ini dibangun pada tahun 1901. Informasi ini diperolehnya dari kakeknya bernama H. Muslim. Pada saat masjid itu dibangun H. Muslim kecil berumur sekitar 7-10 dan sudah berakal dan berani berjalan sendiri ke pasar Ahad. Menurut H. Muslim salah satu tukang pembangun masjid itu adalah H. Ahmad bin Abu yang tidak lain adalah datuk H. Barkati.
Menurut versi lain sebagaimana terdapat dalam laporan pendokumentasian Masjid Assu’ada yang dilaksanakan oleh Bidang Permuseuman dan Kepurbakalaan Kanwil Depdikbud Provinsi Kalsel tahun 1987, masjid ini diperkirakan dibangun pada tahun 1886. Perkiraan ini didasarkan kepada inskripsi dengan aksara arab melayu pada cungkup  makam salah seorang ulama   sekaligus pendiri masjid yakni  H. Abdul Gani di Kampung Teluk Keramat. Pada kubah tertulis: Almarhum Syeikh Haji Abdul Gani wafat 15-4-1336 H, 19-1-1916 M. Kalau yang bersangkutan meninggal dalam usia 70 tahun, aktif membangun masjid dalam usia 40 tahun maka diperkirakan masjid berdiri pada tahun 1886 M.
Informasi lain menyatakan bangunan masjid di lokasi sekarang merupakan pindahan dari lokasi pertama yang berada di pinggir sungai Waringin (aliran Sungai Hanyar cabang Sungai Tabalong)  yang terancam longsor berada persis di arah barat  depan masjid sekarang (versi lain menyatakan lokasi pertama berada di seberang sungai). Berdasarkan keterangan tersebut, dapat diperkirakan bahwa masjid pertamakali dibangun sekitar tahun 1886 dengan lokasi di pinggir sungai Waringin. Karena pondasi masjid runtuh/lonsor akibat abrasi sungai, maka sekitar  tahun 1901 bangunan masjid dibongkar dan dipindah ke lokasi sekarang, tidak jauh dari lokasi pertama.
Bangunan pertama yang semula bertipe lantai panggung, ketika dibangun kembali di lokasi kedua lantainya tidak lagi ulin melainkan dengan tehel (ubin) yang didatangkan dari Singapura. Pada waktu itu, sebagian penduduk Waringin dan sekitarnya ada yang berprofesi sebagai pedagang antar pulau. Mereka berlayar hingga sampai ke pulau Jawa, Sumatera, bahkan Singapura dan Semenanjung Malaya, sehingga ketika kembali ke kampung halaman mereka membawa barang dagangan, atau bahan yang diperlukan untuk pembangunan masjid seperti ubin, dan  lain sebagainya.
Selain tokoh ulama dan sekaligus pendiri masjid yakni H. Abdul Gani (asal kelahiran Alabio), tokoh ulama lainnya yang berperan terhadap masjid ini adalah H. Nawawi, H. Durahman, dan H. Marhusin di Waringin,  serta H. Mahmudin dari Tengkawang. Mereka adalah juga tokoh ulama yang berperan penting dalam kegiatan ibadah sholat, pengajian,  dan  dakwah kepada masyarakat Waringi, Haur Gading, Tengkawang, dan sekitarnya.
Masjid ini merupakan masjid tertua dan satu-satunya di Waringin, dan Haur Gading. Waringin, dahulunya terdiri dari berbagai desa seperti Waringin, Tengkawang, Teluk Haur, dan Tuhuran. Sedangkan Haur Gading juga terdiri dari beberapa desa yakni Haur Gading, Keramat,  Jingah Bujur, Pulutan, dan Tambak sari Panji. Waringin dan Haur Gading, dahulunya hanya punya satu masjid yakni Masjid Assu’ada Waringin.
 Masyarakat desa-desa itu selalu menjalankan ibadah sholat Jumat di masjid ini. Bahkan di sinilah tempat dilaksanakan mengaji duduk, yang mana para jamah pengajian dari beberapa kampung dan bahkan konon dari kampung Negara datang ke Waringin dengan perahu tambangan untuk mengaji di Waringin yang saat itu tekenal memiliki ulama besar seperti halnya H. Abdul Gani. Oleh karena itu, ada yang mengaitkan bahwa asal nama desa Waringin karena dahulunya desa ini tempat beradanya ulama-ulama yang Wara’ yakni istilah bagi ulama yang apik dalam melaksanakan ibadah. Ada pula yang mengatakan bahwa dinamakan Waringin karena dahulunya di tepian sungai Waring ini tumbuh pohon beringin.
Pada saat didirikan untuk pertama kalinya dan ketika bangunan masjid ini dipindah ke lokasi sekarang ini, masjid ini dahulunya bernama Masjid Assuhada. Penamaan itu mungkin berkaitan dengan usaha para pendiri masjid yang berdakwah  menyebarkan Islam di daerah Waringin dan sekitarnya dan mendirikan masjid di sini. Perjuangan mereka dianggap jihad fi sabilillah dan mereka yang berada di jalan itu disebut sebagai syuhada atau syahid.
Kini masjid ini dinamakan Masjid Assu’ada. Assu’ada berasal dari kata Su’ada artinya ”beruntung”. Perubahan nama dari Assuhada menjadi Assu’ada menurut informasi H. Abdul Wahab (63 tahun) terjadi pada tahun 1965-an, yakni pada saat panitia masjid diketuai oleh H. Abdurrahman, seorang ulama lulusan Pesatren Gontor Ponorogo. Tidak diketahui secara pasti latar belakang perubahan nama tersebut.
Setelah sekian lama berdiri dan seiring semakin tuanya kondisi fisik masjid serta pertambahan jamaah masjid sehingga bangunan masjid tidak lagi mampu menampung jamaah sholat jumat, maka pada tahun 1970-an dilaksanakan renovasi oleh panitia masjid. Nama-nama panitia masjid saat itu antara lain: H. Asnawi, H. Syahdan, H. Husin, H. Tarman, Sar,ie. Renovasi dilakukan dengan memperluas bangunan induk dengan mengganti dinding dengan kayu ulin, serta memperluas ruang mikrab dengan bangunan beton.  Meski ruang  mikrab diperluas, model kubahnya tetap seperti semula yakni kubah model bawang dengan pataka.
Sehubungan atap masjid banyak yang telah bocor, maka pada tahun 2009 dilakukan lagi renovasi dengan mengganti atap sirap dengan atap metal zincalum/roof. Pada saat penggantian inilah, beberapa hiasan ujung talang atap  masjid (simbar, cabang) yang ada pada ketiga tingkatan atap masjid, dilepas atau tidak dikembalikan ke posisi semula.
Hiasan sejenis jamang (rumbai pilis, buntut hayam) pada Masjid Assu’ada Waringin yang lazim di sebut simbar, dapat dilihat pada atap Masjid Su,ada di desa Wasah Hilir Kabupaten Hulu Sungai Selatan, pada Masjid   Syekh Abdul Hamid Abulung  Sungai Batang, Martapura, Kabupaten Banjar, dan pada Masjid  Quba di Amawang Kanan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (kini sudah tidak ada lagi, dan hanya dapat dilihat pada foto masjid sebelum mengalami renovasi).
Pada tahun 2010, kembali  dilakukan pemugaran dengan mengganti bahan kayu sintok pada kubah bangunan induk menjadi kayu balangiran, serta membeton bangunan mikrab dan mengganti kubah migrab dengan bahan baru, meski bentuk kubahnya masih dipertahankan.
Bulan  April 2012,  masjid ini kembali direnovasi dengan  cara meninggikan lantai masjid, namun ubin tua tetap dipertahan. Peninggian lantai dilakukan karena sebelumnya telah pernah terjadi banjir pasang yang nyaris menenggelamkan lantai masjid. Biaya  meninggikan lantai masjid ini ditanggung sepenuhnya oleh warga keturunan Banjar asal Johor Malaysia, yang  orang tuanya dahulu berasal dari desa Waringin.
Keaslian yang dapat dilihat pada masjid ini selain konstruksi atap tumpang yang masih dipertahankan adalah adanya hiasan puncak kubah bangunan induk yang disebut pataka (mustaka, memolo) dengan beberapa hiasan ujung talang masjid (simbar, cabang). Selain itu tiang utama atau soko guru, mimbar, ubin, beduk, dan 2 buah  daun pintu dengan ukiran hiasan bermotif tumbuhan dan kaligrafi di sisi utara dan selatan juga masih dipertahankan. Dahulunya  daun pintu itu ada 3 yakni satunya lagi ada di dinding masjid sebelah timur. Inskripsi berupa kaligrafi pada pintu masjid itu berbunyi: abubakar umar wallahu khalakakum wama ta’ maluna lailahaillalahu muhammadarrasulullahu usman ali.
Hingga sekarang, masjid ini tetap dikeramatkan dan dikunjungi penziarah dari berbagai daerah.  Pengunjung yang berziarah selain untuk memenuhi nazar, juga tertarik dengan kekunoan masjid ini.  Saat berkunjung mereka biasa meletakkan untaian kembang di mimbar masjid. Sebagian pengunjung beranggapan bahwa atap masjid yang mempunya tiga tingkatan mempunyai makna: (a) Empat sahabat utama Rasul, yaitu Abubakar, Umar, Usman dan Ali; (b) empat mazhab besar dalam Islam yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali; (c). Empat tingkat menuju kesempurnaan keyakinan dalam Islam yaitu Syariat, Tharikat, Hakikat dan Ma’rifat.

Seurce : bubuhanbanjar
read more...

Selasa, 06 November 2012

Masjid Su'ada Termasuk Masjid Tertua di Kalimantan Selatan

Masjid Sua,ada termasuk masjid tua yang dibangun tahun 1908. Masjid ini terletak di Wasah Hilir, Simpur, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Pendiri masjid ini adalah Syekh Abbas bin Syekh Abdul Jalil dan Syeh Muhammad Said bin Syekh Sa’dudin, dibantu oleh H. Banan (Pambakal Wasah Hilir) dan H.Ishaq (Penghulu Wasah Hilir), Asmail, Burahat, Jala H. Aman, dan H. Mandu. Didirikan diatas tanah wakaf dari Mirun bin Udin dan Asmail bin Abdullah seluas 1047,25 m2. Semua bahan terdiri dari kayu ulin (kayu besi) yang dahulu masih banyak di rimba hutan Kalimantan.
 
 
Masjid Su'ada (Masjid Baangkat) difoto dari samping belakang.

Selasar keliling masjid yang dipagari.

 
Pagar ulin dengan motif kembang.

 
Pintu masjid sangat tinggi dengan kaligrafi dibagian atas.


Gambar dari sudut.



Masjid Sua'ada lebih terkenal dengan nama Masjid Baangkat, artinya masjid panggung, karena kontruksi tongkat masjid berupa panggung.

 
Karena berbentuk bangunan panggung, maka di pintu masuk ada tangga.

 
Plafon kubah yang sangat tinggi.

 
Bedug atau dauh (bahasa Banjar).

 
Tampak depan.

 
Ruangan induk masjid dengan tiang kayu ulin.



Mihrab masjid dengan ukiran motif bunga.

 
Gerbang ruangan imam dengan ukiran.



Penunjuk waktu sholat dengan bantuan sinar matahari. Tertulis Masjid Wasah Ilir tahun 1908 M.



Kontruksi atas bertumpang.


Kubah Syeh H. Abbas bin Syeh Abdul Jalil, yang juga cicit Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Beliau bersama Syeh Muhammad Said bin Syekh Sa’dudin (cicit Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari)
read more...

Jumat, 02 November 2012

Asal Mula Nama Marabahan


Marabahan adalah salah satu ibukota kabupaten di Kalimantan Selatan yaitu Kabupaten Barito Kuala. Kabupaten ini merupakan satu-satunya kabupaten yang 100% rawa-rawa, seluruh wilayahnya terletak di daerah aliran sungai Barito.
Asal nama Marabahan memiliki dua versi cerita. Versi pertama adalah sebagai berikut : nama Marabahan berasal dari kata Muara Bahan, karena letaknya di persimpangan sungai besar yaitu Sungai Barito dan Sungai Nagara. Setiap musim hujan air bah yang sampai ke Muara Bahan selalu membawa kayu-kayu hutan di hulu Barito yang hanyut sampai ke hilir. Oleh masyarakat setempat kayu-kayu ini diambil dan disimpan, saking banyaknya sehingga daerah ini terkenal dengan nama asal bahan-bahan kayu. Sehingga setiap orang menyebut daerah ini dengan Muara Bahan. Akhirnya setelah mengalami beberapa perubahan kata menjadilah nama Marabahan sebagai sebutan daerah tersebut.
Versi kedua adalah sebagai berikut :
Pada jaman dahulu di daerah hulu sungai yaitu disekitar Kandangan, tumbuh sebuah pohon ulin (kayu besi) yang sangat tinggi dan besar. Pada mulanya, masyarakat di sekitar pohon ulin merasa tidak terganggu, namun sejak kehadiran seekor burung besar yang bersarang di pohon tersebut, masyarakat merasa terganggu dengan suara burung yang terus memkik sepanjang malam. atas kesepatan masyarakat, akhirnya diputuskan pohon ulin tersebut di tebang dengan harapan burung besar tersebut akan berpindah.
dimulailah penebangan pohon ulin oleh masyarakat dengan alat tardisional. Karena pohon yang ditebang sangat besar, penebangan memakan waktu berminggu-mingu, namun masyarakat terus berupaya sampai akhirnya pohon ulin tersebut tumbang ke arah selatan. Saking tingginya pohon tersebut pucuknya sampai menimpa daerah yang sekarang dinamanakan Marabahan. Artinya daerah ini mengalami "karabahan" pohon ulin. Tempat tumbuhnya pohon ulin tersebut sekarang dinamakan Kampung Ulin, yaitu sekitar 7 km arah barat Kandangan.
Demikian legenda nama asal mula Marabahan, terlepa dari benar tidaknya cerita ini, Wallahu 'alam.

seurce
read more...

Kamis, 18 Oktober 2012

Hantu Anak Sima Bayi Pemakan Jantung ( Cerita rakyat pahuluan, Kalimantan Selatan )


Cerita rakyat Anak Sima ini penuh misteri, ada beberapa sumber yang saya temui menceritakan bahwa sewaktu beliau kecil memang pernah mendengar jeritan tangis Anak Sima. Cerita ini berkembang di daerah hulu sungai, waktu itu pernah menjadi cerita yang menghebohkan tetapi sekarang tidak banyak lagi anak muda yang mengetahui kisahnya.
Anak Sima berasal dari anak kapang (anak terlahir dari hubungan tidak sah), karena merupakan anak hubungan gelap maka ibu sang bayi membuangnya ke dalam hutan lebat setelah dilahirkan, untuk membuang rasa malu. Bayi yang baru lahir ini menangis sejadi-jadinya karena ia merasa lapar dan kedinginan. Berhari-hari menangis tidak ada seorang pun yang mendengar sehingga hampir mati.
Tiba-tiba saat itu lewatlah Takau (jenis hantu paling kuat dalam cerita rakyat Kalsel, bisa berubah bermacam bentuk dan ilmunya sangat tinggi). Takau yang lewat ini sangat kelaparan, saat ia mendengar tangisan bayi segera ia menuju ke sumber suara.
” aumm (takau dalam bentuk macan) laparnya ai parut ku, nyaman banar bisa bayi ngini lamun kumakan” geram Takau (lapar sekali perutku, sungguh lezat kalau bayi ini kumakan).
Takau pun segera mendekati bayi itu, bayi yang menangis disentuhnya tiba-tiba berhenti menangis. Takau terpesona melihat kecakapan anak ini. Rambutnya ikal,hidung mancung, matanya bulat, bibirnya merah delima, dan tersenyum dengan sangat manis. Takau berubah menjadi bentuk manusia, digendongnya dengan mesra bayi itu, di dalam hatinya tidak ada lagi maksud untuk memakan bayi ini.
“bah, baik ku bawa bulik haja bayi ngini, bungas banar, kujadiakan anakku, kusayangi wan kupalihara” kata Takau kegirangan (wah, sebaiknya kubawa pulang saja bayi ini, cantik sekali, aku jadikan anakku, aku sayangi dan aku pelihara). Bertahun-tahun Takau memelihara bayi yang diberinya nama Anak Sima, tetapi anehnya Anak Sima ini tidak bertambah dewasa bentuknya tetap seorang bayi. Karena dipelihara oleh hantu, maka Anak Sima pun memiliki ilmu hantu dari Takau. Takau dan Anak Sima selalu mengembara ke hutan-hutan, kadang digendong kadang dihambin(digendong di punggung/dibopong) Takau sangat menyayangi Anak Sima. Saat Anak Sima lapar maka ia akan pergi sendiri mencari makanannya. Jenis makanan yang paling disukai Anak Sima adalah jantung manusia hidup.
Anak Sima mempunyai ilmu yang lumayan hebat semacam ilmu pengasih, dengan tangisannya orang akan terpesona sehingga mencari-cari sumber suara, setelah orang itu mendekat Anak Sima dengan mesra akan memanggil orang itu ‘Uma-Uma’ (mama). Orang yang dipanggil akan merasa kasihan dan sayang sehingga tidak mampu menahan keinginan untuk menggendong Anak Sima.
Pada suatu ketika, ada seorang ibu tua yang sedang mengumpulkan kayu bakar memasak di hutan. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh bunyi suara tangisan bayi, meskipun dalam pikirannya bingung ada tangis bayi dalam hutan, tetapi tangisan itu sangat menggoda untuk dicari. Diperhatikannya sekeliling untuk mencari sumber tangisan itu, didekatinya, ketika sampai dibawah pohon dilihatnya ada seorang bayi yang sangat cantik rupanya.
“Uma” ujar bayi itu. Perempuan tua sangat terkejut mendengar panggilan itu. Langsung saja timbul rasa iba dan sayangnya pada bayi ini. Segera didekatinya bayi yang tadi memanggilnya dengan sebutan mama.
“kur sumangat, anakku” ujarnya (semacam panggilan orang Melayu Banjar, maksudnya mengembalikan semangat yang hilang). Bayi ini segera digendongnya, tetapi anehnya si bayi hanya mau dihambin. Kehendaknya dituruti oleh ibu tua, dalam perjalanan pulang ke rumah dihambinnya bayi ini yang tak lain adalah Anak Sima.
Semakin jauh perjalanan, si perempuan tua semakin merasakan punggungnya berat dan pedih, padahal si bayi badannya ringan. Karena tidak tahan lagi ia pun menengok ke belakang, tetapi yang dilihatnya sangat mengerikan, Anak Sima sedikit demi sedikit memakan daging punggungnya sampai berlubang setelah itu diambilnya jantung kemudian dimakannya. Perempuan tua yang sudah diambil jantungnya segera ditinggalkan lari ke dalam hutan.
Begitulah cara Anak Sima menjerat korbannya. Begitu banyak korban berjatuhan di dalam hutan karena terpesona oleh Anak Sima ini. Semua korban ditemukan dalam keadaan yang hampir sama, tubuh bagian belakang berlubang dan jantungnya telah hilang.
Di daerah yang menjadi sumber cerita ini, sering terdengar bunyi tangisan bayi di samping rumah. Bayi ini menangis sambil memanggil Uma kepada orang di dalam rumah. Bagi yang sudah tahu maka akan menyahut “Aku lainan uma ikam. Uma ikam di anu / di kampung anu” (aku bukan ibumu, ibumu di anu / di kampung anu). Maka Anak Sima yang mendengar jawaban tadi akan segera pergi ke tempat yang disebutkan oleh yang punya rumah. Sehingga terhindarlah mereka dari ancaman Anak Sima.
Menurut kepercayaan, rambut Anak Sima mampu memberi ilmu. Barangsiapa yang memiliki rambut Anak Sima akan mempunyai ilmu menghilang, kebal senjata, dan kaya raya. Tetapi sampai saat ini menurut cerita tidak ada seorang pun yang mampu menangkap Anak Sima untuk dipotong rambutnya.
read more...