Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Mei 2013

Datu Pujung Membangun Mesjid

Kalau kita ingin menceritakan tentang Datu Pujung, maka ceritanya cukup banyak. Tapi yang ingin saya ceritakan adalah kisah tentang Datu Pujung sewaktu beliau hendak mendirikan mesjid. Masjid yang didirikan masih ada sampai sekarang. Perlu diketahui bahwa Datu Pujung yang diceritakan ini termasuk orang yang berpengetahuan tentang agama.
Sebenarnya Datu Pujung kadang-kadang berada di daerah ini, kadang-kadang di negeri sebelah yaitu dunia datu-datu. Setiap datu tentu mempunyai kejayaan masing-masing, tetapi mereka tidak bermusuhan.
Pada suatu hari beliau datang ke desa Ulin kandangan, yaitu akan mengundang Datu Ulin untuk bergotong royong membangun mesjid, “Apa kabar?” kata Datu Ulin. “kabar baik”, “sesungguhnya lama kita tidak bertemu, mungkin ada yang ingin dibicarakan?”
Sebagimana dua orang saudara angkat yang lama tidak bertemu, maka keduanya asik bercakap-cakap. Ada-ada saja yang mereka perbicarakan, sehingga tidak terasa matahari sudah tinggi. Hampir setengah hari lamanya mereka bercakap-cakap.
Karena meresa perut sudah lapar, berkatalah Datu Ulin kepada sahabatnya, “sekarang apa yang kita lakukan?” “terserah.” Kata Datu Pujung. “aku sebagai tamu mengikuti saja apa yang diinginkan tuan rumah.” “kalau begitu kita masak nasi. Untuk lauknya kita menggulai paku.” “Baiklah”.
Datu Pujung menyangka, yang akan digulai Datu Ulin adalah paku pakis sebagaimana lazimnya. Tetapi ternyata Datu Ulin menggulai paku sungguhan, paku besi. Diam-diam saja karena merasa salah omong.
Setelah sekian lamanya, Datu Ulin segera mengajak sahabatnya itu untuk bersantap. Datu Ulin memakan paku itu dengan nikmatnya, keakan-akan paku itu benda yang lemas dan enak tanpa takut ketulangan. Maklumlah Datu Ulin seorang yang punya kesaktian. Tetapi Datu Pujung tidak berani berbuat demikian. Dalam hati ia berpikir, sungguh keterlaluan sahabatnya ini bergurau. Saya sendiri tidak pernah bebuat demikian. Tetapi ingat, pikir pujung dalam hati, nanti kamu merasa sendiri akibat dari perbuatan ini.
Setelah selesai makan, keduanya duduk-duduk sambil mengisap rokok. Tiba-tiba Datu Pujung berkata, “setiap yang berasal dari besi itu keras”. Sehabis ia mengatakan keras tersebut tiba-tiba paku yang dimakan Datu Ulin mengeras dan menembus perutnya. Tetapi tidak malu kalau dikatakan Datu Ulin seorang yang sakti, karena dengan satu tepukannya, paku-paku itu kembali lemas.
Datu pujung kemudian mengutarakan maksudnya untuk mendirikan mesjid dan mengundang Datu Ulin untuk datang membantu. Sementara itu orang-orang di kampung sudah mempersiapkan segala pekakas bangunan. Ada yang menyumbang tiang, batok, dan segala ramuan yang diperlukan untuk mendirikan mesjid. Papan dibeli dikota Negara. Sedangkan untuk keperluan atap, orang-orang bergotong royong mengumpulkan daun rumbia.setelah semua tersedia, Datu Pujung berkata, “besok kita akan mulai bekerja”.
Untuk melaksanakan pekerjaan, selain penduduk sana, dari tempat lain juga diundang orang-orang yang terkenal kekuatan tenaganya. Pada hari yang ditentukan semua sudah hadir, terutama untuk mendirikan tiang guru. Secara adat semua undangan ditanggung makan minumnya. Tambahan pula Datu Pujung terkenal sebagai Datuk Padi. Artinya dimana beliau berada maka di kampung itu hasil panen akan menjadi berlimpah ruah. Apabila beliau tidak berada ditempat itu maka hasil padi akan berkurang. Apa sebabnya demikian, tak seorang pun tahu. Jadi kalau sekiranya empat puluh orang yang dijamu hingga ratusan orang pun tidak merupakan persoalan besar. Dua tiga warga sudah dapat menyediakannya.
jadi semua orang giat bekerja. ada yang memahat, ada yang membuat pasak untuk tiang dan bermacam-macam pekerjaan lagi. Orang perempuan tidak mau ketinggalan. Mereka bermarai-ramai menghambit, yaitu membuat atap daun rumbia. karena pada zaman bahari yang ada hanya atap daun. Tak ada yang berpaku tangan untuk membangun mesjid tersebut. Orang-orang yang mempunyai tenaga besar, lain pula yang dikerjkannya. Kelihatan mereka saling memerlukan kekuatannya. Kalau dilihat seseorang mengankat tiang yang empat sampai liam depa panjangnnya, maka yang lain bukan hanya sebatang tetapi dua batang sekali angkat. Padahal tiang yang diangkat bukanlah kecil, bahkan ada yang sepemeluk besarnya. Apalagi yang dinamakan tiang guru. karena banyaknya perja yang bertanga besar luar biasa, hanya kira-kira sepuluh orang orang tiang itu sudah bisa diangkat dan didirikan. Setelah itu barulah membuat kuda-kuda belandar dan akhirnya siap untuk dipasang atap.
Hampir tidak terasa waktu lohor telah tiba. Pembangunan mesjid telah selesai. Lalu tibalah waktu untuk bersantap. Ketika akan menyiapkan hidangan, ternyata ikannya tidak cukup. Bagaimana akal. Ikan tidak cuku untuk semua yang hadir.
"Kalau demikian", kata Pujung, "Tunggulah sebentar. Kita tunda dulu makan tengah hari. Saya akan pergi sebentar mencari ikan". Semua orang tak ada yang berani menyangkal kemauan beliau, karena Datu Pujung yang menjadi pemimpin di sana.
"Ke mana datu akan mencari ikan?", tanya seseorang. Menurut cerita, waktu itu Pujung akan mencari ikan ke Negara.
Orang-orang sama bertanya-tanya satu sama lain. bagaimana mungkin tempat yang sejauh itu dapat dicapai pulang pergi dalam waktu singkat. Melihat keraguan orang-orang yang hadir, Pujung berkata, "jangan kuatir, sebentar saja aku sudah kembali".
"Baiklah".
Pujung kemudian menurunkan jukung ke air dan mengambil pengayuh. Menurut cerita, dia mengayuh jukung sangat laju. sekali menrangkuh dayung dia dapat melewati satu rantauan. Dengan kecepatan demikian, tidak lama kemudian sampailah ke Negara.
Sepeninggal Datu Pujung orang-orang kembali ramai membicarakan soal hidangan. Nasi sudah masak. Ditunggu seperempat jam hingga setengah jam, Datu Pujung belum juga tiba. Padahal undangan yang datang dari jauh perlu diberi makan lebih dahulu karena merak bermaksud akan pulang. Kalau demikian lebih baik dimakan seadanya dulu. Nanti apabila beliau datang barulah penduduk setempat makan bersama-sama. Yang penting undangan perlu didahulukan.
Kembali cerita kepada perjalanan Datu Pujung. Tidak berapa lama kemudian setibanya di daerah Negara dia mencari lubuk yang dalam dan banyak ikannya. Dengan membawa sebila rotan yang panjang dia menyelam ke dalam air. Ikan ditangkap denga tangan dan langsung ditusuk dengan rotan. Begitulah kejayaan Datu Pujung. Dia bisa bertahan dalam air, dan mengankap ikan tanpa mempergunakan tombak atau alat lainnya. Dipilihnya ikan yang besar-besar seperti tauman, haruan (gabus), baung dan bermacam-macam ikan lainnya. Tidak lama kemudian cukuplah ikan yang diperolehnya. Ikan dimasukkan ke dalam jukung, dan akhirnya datu pulang dengan kembali ke kampungnya.
Ketika Datu Pujung sampai di tempatnya semula, ternyata sebagian ada yang sudah selesai bersantap, tetapi ada pula yang belum. Melihat demikian Datu Pujung terkejut.
"Bah, ke mana saja orang-orang yang kita undang", seru Pujung. Orang-orang berpandang.
"Sebagian sudah pulang. Undangan yang jauh sudah pulang, tetapi penduduk belum lagi makan, dan masih berada di sekitar ini."
Rupanya beliau sangat marah. Ia bersusah payah mencari ikan ke tempat yang begitu jauh untuk kepentingan semua orang. Setelah ikan yang begitu banyak diperolehnya, ternyata seakan-akan tidak diperdulikan sama sekali.
"Susah kuktakan sedari tadi, tungguh aku dulu baru makanan dihidangkan. Mengapa tidak ada yang mau mendengar kataku. Kalau demikian berarti kalian sama sekali tidak memandang sebelah mata pun padaku. Berati kalian tidak memerlukanku lagi."
Setelah berkata demikian, Datu Pujung kemudian berdiri di muka mesjid yang baru dibangun itu, tidak ambil peduli terhadap orang banyak. Lalu Pujuk meletakkan sebelah kakinya ke mesjid itu, dan menekan ke bawah. Begitu pijakanya, sebagian lantainya amblas ke dalam tanah. Setelah melampiaskan kemarahannya demikian, ia pun menghilang. Orang tidak tahu ke mana perginya setelah itu.
Semua orang ribut dan saling menyalahkan, tetapi apa boleh buat, semua telah terlanjut. Dengan sedih mereka lalu membenahi sisa perkakas bangunan yang tidak terpakai.
Mesjid yang didirikan itu ialah mesjid yang terletak di kampung Banua Halat (dekat kampung penulis blog ini, yaitu di kampung gadung), tidak jauh dari Kota Rantau. Sampai sekarang mesjid itu masih berdiri. Menurut cerita, Datu Pujung kadang-kadang datang ke mesjid itu. Itulah sebabnya mengapa mesjid itu dikeramatkan orang. Kita dapat mengetahui kalau Datu Pujung berada di mesjid tersebut. Caranya. Pada malam Jum'at setelah sembahyang Isya, kipas yang ada di mesjid itu disisihkan ke tepi. Jangan ada yang ketinggalan. Besok, apabila di samping mimbar terdapat sebuah kipas berarti beliau datang bersembahyang disana. Apabila hingga pagi tidak terdapat perubahan, berarti beliau tidak datang bertandang.
Adapula sebuah cerita tentang mesjid Banua Halat yang dianggap keramat itu. Pada zaman penjajahan Belanda, pernah sepasukan tentara datang ke kampung Banua Halat. Ketika mereka melihat bangunan mesjid tersebut mereka bermaksud membakarnya. Tetapi mesjid yang dimaksud bukan mesjid yang dibangun oleh Datu Pujung, tetapi bangunan yang telah dibina untuk ketiga kalinya.
Ketika mereka menyulut mesjid itu dengan api, ternyata tidak mau terbakar. Apa akal. Salah seorang dari tentara Belanda itu mengambil lemak babi dan kemudian barulah mesjid itu dapat mereka bakar. Salah satu tiang yang hangus itu masih ada sampai sekarang. Bila kami masuk ke dalam mesjid itu sekarang, akan tetapi terlihat sebuah tiang yang berwarna hitam bekas terbakar itulah tiangnya.
 
read more...

Selasa, 09 April 2013

SEJARAH PEMBANGUNAN MASJID ASSU’ADA, WARINGIN, AMUNTAI

Oleh WAJIDI

Di Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara, tepatnya di desa Waringin, Kecamatan Haur Gading, terdapat masjid tua bernama Masjid Assu’ada yang selama ini tidak banyak diketahui masyarakat Kalimantan Selatan, lantaran lokasinya yang agak terpencil, dan prasarana jalan yang relative sempit untuk menuju masjid tersebut.  Lokasi masjid ini sebenarnya tidak terlampau jauh dari kota Amuntai, mungkin hanya sekitar 7 km, namun kendaraan roda empat hanya bisa sampai ke desa Teluk Keramat Haur Gading, selebihnya untuk menuju masjid ini harus memakai kendaraan roda 2 atau berjalan kaki sejauh kira-kira 1.5 km menelusuri jalan sempit di pinggiran sungai.
Masjid  Assu’ada memang masjid tua. H. Barkati, kepala desa Waringin yang juga juru pelihara masjid, masjid ini dibangun pada tahun 1901. Informasi ini diperolehnya dari kakeknya bernama H. Muslim. Pada saat masjid itu dibangun H. Muslim kecil berumur sekitar 7-10 dan sudah berakal dan berani berjalan sendiri ke pasar Ahad. Menurut H. Muslim salah satu tukang pembangun masjid itu adalah H. Ahmad bin Abu yang tidak lain adalah datuk H. Barkati.
Menurut versi lain sebagaimana terdapat dalam laporan pendokumentasian Masjid Assu’ada yang dilaksanakan oleh Bidang Permuseuman dan Kepurbakalaan Kanwil Depdikbud Provinsi Kalsel tahun 1987, masjid ini diperkirakan dibangun pada tahun 1886. Perkiraan ini didasarkan kepada inskripsi dengan aksara arab melayu pada cungkup  makam salah seorang ulama   sekaligus pendiri masjid yakni  H. Abdul Gani di Kampung Teluk Keramat. Pada kubah tertulis: Almarhum Syeikh Haji Abdul Gani wafat 15-4-1336 H, 19-1-1916 M. Kalau yang bersangkutan meninggal dalam usia 70 tahun, aktif membangun masjid dalam usia 40 tahun maka diperkirakan masjid berdiri pada tahun 1886 M.
Informasi lain menyatakan bangunan masjid di lokasi sekarang merupakan pindahan dari lokasi pertama yang berada di pinggir sungai Waringin (aliran Sungai Hanyar cabang Sungai Tabalong)  yang terancam longsor berada persis di arah barat  depan masjid sekarang (versi lain menyatakan lokasi pertama berada di seberang sungai). Berdasarkan keterangan tersebut, dapat diperkirakan bahwa masjid pertamakali dibangun sekitar tahun 1886 dengan lokasi di pinggir sungai Waringin. Karena pondasi masjid runtuh/lonsor akibat abrasi sungai, maka sekitar  tahun 1901 bangunan masjid dibongkar dan dipindah ke lokasi sekarang, tidak jauh dari lokasi pertama.
Bangunan pertama yang semula bertipe lantai panggung, ketika dibangun kembali di lokasi kedua lantainya tidak lagi ulin melainkan dengan tehel (ubin) yang didatangkan dari Singapura. Pada waktu itu, sebagian penduduk Waringin dan sekitarnya ada yang berprofesi sebagai pedagang antar pulau. Mereka berlayar hingga sampai ke pulau Jawa, Sumatera, bahkan Singapura dan Semenanjung Malaya, sehingga ketika kembali ke kampung halaman mereka membawa barang dagangan, atau bahan yang diperlukan untuk pembangunan masjid seperti ubin, dan  lain sebagainya.
Selain tokoh ulama dan sekaligus pendiri masjid yakni H. Abdul Gani (asal kelahiran Alabio), tokoh ulama lainnya yang berperan terhadap masjid ini adalah H. Nawawi, H. Durahman, dan H. Marhusin di Waringin,  serta H. Mahmudin dari Tengkawang. Mereka adalah juga tokoh ulama yang berperan penting dalam kegiatan ibadah sholat, pengajian,  dan  dakwah kepada masyarakat Waringi, Haur Gading, Tengkawang, dan sekitarnya.
Masjid ini merupakan masjid tertua dan satu-satunya di Waringin, dan Haur Gading. Waringin, dahulunya terdiri dari berbagai desa seperti Waringin, Tengkawang, Teluk Haur, dan Tuhuran. Sedangkan Haur Gading juga terdiri dari beberapa desa yakni Haur Gading, Keramat,  Jingah Bujur, Pulutan, dan Tambak sari Panji. Waringin dan Haur Gading, dahulunya hanya punya satu masjid yakni Masjid Assu’ada Waringin.
 Masyarakat desa-desa itu selalu menjalankan ibadah sholat Jumat di masjid ini. Bahkan di sinilah tempat dilaksanakan mengaji duduk, yang mana para jamah pengajian dari beberapa kampung dan bahkan konon dari kampung Negara datang ke Waringin dengan perahu tambangan untuk mengaji di Waringin yang saat itu tekenal memiliki ulama besar seperti halnya H. Abdul Gani. Oleh karena itu, ada yang mengaitkan bahwa asal nama desa Waringin karena dahulunya desa ini tempat beradanya ulama-ulama yang Wara’ yakni istilah bagi ulama yang apik dalam melaksanakan ibadah. Ada pula yang mengatakan bahwa dinamakan Waringin karena dahulunya di tepian sungai Waring ini tumbuh pohon beringin.
Pada saat didirikan untuk pertama kalinya dan ketika bangunan masjid ini dipindah ke lokasi sekarang ini, masjid ini dahulunya bernama Masjid Assuhada. Penamaan itu mungkin berkaitan dengan usaha para pendiri masjid yang berdakwah  menyebarkan Islam di daerah Waringin dan sekitarnya dan mendirikan masjid di sini. Perjuangan mereka dianggap jihad fi sabilillah dan mereka yang berada di jalan itu disebut sebagai syuhada atau syahid.
Kini masjid ini dinamakan Masjid Assu’ada. Assu’ada berasal dari kata Su’ada artinya ”beruntung”. Perubahan nama dari Assuhada menjadi Assu’ada menurut informasi H. Abdul Wahab (63 tahun) terjadi pada tahun 1965-an, yakni pada saat panitia masjid diketuai oleh H. Abdurrahman, seorang ulama lulusan Pesatren Gontor Ponorogo. Tidak diketahui secara pasti latar belakang perubahan nama tersebut.
Setelah sekian lama berdiri dan seiring semakin tuanya kondisi fisik masjid serta pertambahan jamaah masjid sehingga bangunan masjid tidak lagi mampu menampung jamaah sholat jumat, maka pada tahun 1970-an dilaksanakan renovasi oleh panitia masjid. Nama-nama panitia masjid saat itu antara lain: H. Asnawi, H. Syahdan, H. Husin, H. Tarman, Sar,ie. Renovasi dilakukan dengan memperluas bangunan induk dengan mengganti dinding dengan kayu ulin, serta memperluas ruang mikrab dengan bangunan beton.  Meski ruang  mikrab diperluas, model kubahnya tetap seperti semula yakni kubah model bawang dengan pataka.
Sehubungan atap masjid banyak yang telah bocor, maka pada tahun 2009 dilakukan lagi renovasi dengan mengganti atap sirap dengan atap metal zincalum/roof. Pada saat penggantian inilah, beberapa hiasan ujung talang atap  masjid (simbar, cabang) yang ada pada ketiga tingkatan atap masjid, dilepas atau tidak dikembalikan ke posisi semula.
Hiasan sejenis jamang (rumbai pilis, buntut hayam) pada Masjid Assu’ada Waringin yang lazim di sebut simbar, dapat dilihat pada atap Masjid Su,ada di desa Wasah Hilir Kabupaten Hulu Sungai Selatan, pada Masjid   Syekh Abdul Hamid Abulung  Sungai Batang, Martapura, Kabupaten Banjar, dan pada Masjid  Quba di Amawang Kanan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (kini sudah tidak ada lagi, dan hanya dapat dilihat pada foto masjid sebelum mengalami renovasi).
Pada tahun 2010, kembali  dilakukan pemugaran dengan mengganti bahan kayu sintok pada kubah bangunan induk menjadi kayu balangiran, serta membeton bangunan mikrab dan mengganti kubah migrab dengan bahan baru, meski bentuk kubahnya masih dipertahankan.
Bulan  April 2012,  masjid ini kembali direnovasi dengan  cara meninggikan lantai masjid, namun ubin tua tetap dipertahan. Peninggian lantai dilakukan karena sebelumnya telah pernah terjadi banjir pasang yang nyaris menenggelamkan lantai masjid. Biaya  meninggikan lantai masjid ini ditanggung sepenuhnya oleh warga keturunan Banjar asal Johor Malaysia, yang  orang tuanya dahulu berasal dari desa Waringin.
Keaslian yang dapat dilihat pada masjid ini selain konstruksi atap tumpang yang masih dipertahankan adalah adanya hiasan puncak kubah bangunan induk yang disebut pataka (mustaka, memolo) dengan beberapa hiasan ujung talang masjid (simbar, cabang). Selain itu tiang utama atau soko guru, mimbar, ubin, beduk, dan 2 buah  daun pintu dengan ukiran hiasan bermotif tumbuhan dan kaligrafi di sisi utara dan selatan juga masih dipertahankan. Dahulunya  daun pintu itu ada 3 yakni satunya lagi ada di dinding masjid sebelah timur. Inskripsi berupa kaligrafi pada pintu masjid itu berbunyi: abubakar umar wallahu khalakakum wama ta’ maluna lailahaillalahu muhammadarrasulullahu usman ali.
Hingga sekarang, masjid ini tetap dikeramatkan dan dikunjungi penziarah dari berbagai daerah.  Pengunjung yang berziarah selain untuk memenuhi nazar, juga tertarik dengan kekunoan masjid ini.  Saat berkunjung mereka biasa meletakkan untaian kembang di mimbar masjid. Sebagian pengunjung beranggapan bahwa atap masjid yang mempunya tiga tingkatan mempunyai makna: (a) Empat sahabat utama Rasul, yaitu Abubakar, Umar, Usman dan Ali; (b) empat mazhab besar dalam Islam yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali; (c). Empat tingkat menuju kesempurnaan keyakinan dalam Islam yaitu Syariat, Tharikat, Hakikat dan Ma’rifat.

Seurce : bubuhanbanjar
read more...

Selasa, 06 November 2012

Riwayat Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari ( Datuk Kelampayan )


Yang disebut Datu Kalampayan tidak lain adalah Maulana syekh Muhammad Arsyad bin Abbdullah Al-Banjari lahir 15 shafar 1122 H bertepatan dengan 19 Maret 1710 M di Lok Gabang,dan wafat di Dalam Pagar 6 syawaal 1227 H bertepatan dengan 13 Oktober 1812 h dalam usia 105 tahun dan dimakamkan di tanah kebun beliau yaitu desa Kalampayan ( sekitar 56 km dari Banjarmasin).

Maulana syekh Muhammad Arsyad adalah seorang ulama yang sangant berpengaruh dan mempunyai peran penting dalam sejarah pengembangan siar agana Islam,khususnya di bumi Kalimantan .Seorang yang sangat gigih mempertahankan dan mengembangkan faham Ahlus Sunah Wal jama'ah dengan faham Asy'ariah untuk Ilmu Tauhid,dan Mazhab Imam syafi'i untuk bidang Ilmu fiqih.Beliu juga seorang mufti (penasehat agama) pada Kesultanan Banjar,dan juga seorang penulis yang produktif.

Maulana syekh Muhammad Arsyad ketika kecilnya bernama Ja'far,adalah anak tertua dari lima bersaudara hasil perkawinan Abdullah dengan Siti Aminah.Adapun anak Abdullah dengan Siti Aminah adalah Muhammad Arsyad, Zainal Abidin, Abidin, Diang Panangah, dan
5. Normin

Sejak kecil, tepatnya paa umur sekitar 7 tahun Muhammad Arsyad kecil sudah fasih dalam membaca Al-Quran.Bakat tulis-menulis juga sudah mulai nampak terlihat padanya dikala itu.Karenanya beliau dipelihara dan dikumpulkan oleh sultan bersama dengan anak-anak dan cucu-cucu keluarga kerajaan

Karena bakat dan kepandaian beliau dalam mempelajari ilmu agama,maka menjelang usia 30 tahun Muhammad Arsyad diberangkatkan ketanah suci Mekkah untuk memperdalam ilmu agama dengan biaya sultan (kerajaan),karena sultan berharap dengan ilmu yang diperolehnya ditanah suci itu kelak akan dapat membimbing dan mengajarkan kepada rakyat Banjar dan sekitarnya dalam hal ke agamaan (Islam)

Di tanah Suci Mekkah dan Madinah beliau belajar kepada para ulama yang terkenal, antara lain:

1. Syekh Athaillah bin Ahmab Al-Mihsri Al-Azhar
2. Sekh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi.Madinah.(pengarang kitab Hawasyil
madaniyyah)
3. Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Sammany Al-Madany,dalam bidang
tasawuf yang akhirnya mendapatkan Ijazah dengan kedudukan Khalifah
(wakil).
4. Syekh Ahmad bin Abdul Mun'im Ad-Damanhuri.
5. Syekh Sayyid Abul Faydi Muhammad Murtadha' Az-Zabidi
6. Syekh Hasan bin Ahmad 'Akisy Al-Yamani
7. Syekh Salim bin Abdullah Al-Bashr.
8. Syehk Shiddiq bin Umar Khan.
9. Syekh Abdullah bin Hijazi bin Asy-Syarqawi
10. Syekh Abdurrahman bin Abdul Aziz Al-Maghrabi.
11. Syekh Sayyid Abdurrahman bin Sulaiman Al-Ahdal.
12. Syekh Abdurrahman bin Abdul Mubin Al-Fathani.
13. Syekh Abdul Ghani bin Syekh Muhammad Hilal.
14. Syekh 'Abid As-Shindi.
15. Syekh Abdul Wahab Ath-thanthawi.
16. Syekh Maulana Sayyid Abdurrrahman Mirghani.
17. Syekh Muhammad bin Ahmad Al-jawahir.
18. Syekh Muhammad Zayn bin Faqih Jalaludin Aceh.

Ketika di Mekkah beliau berkenalan dan bersahabat dengan penuntut-penuntut setengah air,antara lain: Abdul Wahhab Bugis dari Makasar,Abdus Samad dari Palembang (pengarang kitab Siyarus Salikin dan Hidayatus Salikin) dan Abdur Rahman Masri dari Betawi (jawi).Konon di Mekkah itu pula sempat berkenalan dan sekaligus berguru kepada Datu Sanggul (Abdus Samad),yang pada akhirnya beliu diberi kitab yang terkenal dengan sebutan Kitab Barencong oleh Datu Sanggul.

Setelah lebih 30 tahun belajar ditanah suci beliau akhirnya dapat menguasai keahlian diberbagai bidangilmu agama seperti:ilmu fiqih,ilmu tasawuf,usul fiqih,cabang -cabang bahasa Arab seperti: nahwu,sharaf,balaghah dan lain-lain,serta ilmu falak (astronomi) dan ilmu umum seperti politik serta pemerintahan . Selesai mempelajari yang disebut diatas beliau pulang ketanah air bersama kawan-kawannya.

Sebenarnya beliau dan kawan - kawan tidak ingin pulang ketanah air tetapi ingin melanjutkan belajar di Mesir,namun maksud tersebut terpaksa dibatalkan karena Syekh sulaiman Al-kurdi menyatakan bahwa ilmu mereka sudah dalam dan luas,lebih penting pulang ketanah air untuk memberi pelajaran dan membimbing masyarakat didaerah masing-masing.

akhirnya mereka menuruti nasehat guru mereka itu.Setiba ditanah betawi (Jakarta) Muhammad Arsyad dan kawan-kawan disambut oleh para ulama dan orang banyak dengan gembira. Selama 60 hari berada di betawi (jakarta),beliau berkunjung kebeberapa mesjid.Berikut beberapa karamah (keahlian)yang beliau miliki,beliau dapat membetulkan arah kiblat mesjid yang kurang tepat.mesjid yang beliau perbaiki arahkiblatnya adalah mesjid Jembatan Lima,Mesjid Luar Batang, dan Mesjid Pekojan.

Selanjutnyabeliau menuju banjar masin dengan menumpang kapal Belanda. Sampai ditengah laut jawa.kapten kapal bertanya. "ya Tuan haji besar! berapakah kedalaman laut jawa ini?" kata kapten kapal.(Haji Bear adalah gelar kehormatan bagi tuan guru yang menuntut ilmu di tanah Suci Mekkka). Sebelum menjawab beliau memandangi air laut jawa tersebut,kemudian beliau berkata "200 meter"jawab syekh Muhammad Arsyad.

Kapten kapal tersebut tidak langsung percya dengan jawaban Syekh Muhammad Arsyad itu,kemudian dia mengambil meteran panjang dan mengukur kedalaman air laut tersebut.Setelah diukur ternyata kedalaman air laut tersebut tepat 200 meter,sedikitpun tidak kurang atau lebih, Kapten kapal Belanda itu menggelengkan kepala mendengar jawaban Syekh Muhammad Arsyad. "tuan Haji Besar, asnda orang hebat !" puji kapten kapal..'Dari warna airnya,bila air laut berwarna putih kebiruan kedalamannya 200 meter,seperti laut jawa ini bila kebiru-biruan maka kedalamannya mencapai 2000 meter,dan bila berwarna biru kedalamannya mencapai 2000 meter lebih' jawab Syekh Muhammad Arsyad dengan mantap."Tuan ,Betul".kata kapten kapal belanda itu kagum akan kecerdasan dan ilmu yang dimiliki beliau.

Pada bulan Ramadhan 1186 h. (1773 M.) sampailah beliau ditanah Banjar. Kedatangan beliau disambut meriah oleh kerajaan beserta seluruh masyarakat.

Supaya Syekh Muhammad Arsyad leluasa mengembangkan ilmu yang telah diperolehnya ,oleh sultan Tahmiddulah II beliau diberi sebidang tanah belukar diluar kota Martapura ,tepat di tepi sungai menuju Banjarmasin.tanah belukar itu dijadikan perkampungan tempat tinggal dan ditempat itu pula beliau dapat mengajarkan ilmu-ilmu yang yang telah didapatnya dengan membuka pengajian-pengajian. Disamping mengajar beliau juga seorang pengarang yang produktif,beliau mengarang kitab-kitab agama untuk bahan pelajaran bagi para penuntut ilmu, seperti:
1. Sabillal Muhtadin. Berisi tentang fiqih.
2. Risalah ushuluddin. Kitab tauhid bahasa melayu tulisan arab.
Ditulis pada tahun 1188 H.
3. Tuhfatur Raghibin.Berisi tentang tauhid.ditulis pada tahun 1188 H.
4. Kanzul Ma'rifah.Berisi tentang ilmu tasawuf.
5. Luqthatul'Ajilan.Kitab khusus membahas fiqih tentang perempuan
6. Kitab Faraid.Berisi tentang tata cara pembagian waris.
7. Al-Qawlul Mukhatashar.Berisi tentang Imam Mahdi.
Ditulis pad tahun 1196 H.
8. Kitab ilmu falak.Berisi tentang astronomi.
9. Fatwa Sulayman Kurdi. Berisi tentang fatwa-fatwa guru beliau sulayman kurdi
10. Kitabun Nikah. Berisi tentang tata cara perkawinan dalam syariat islam.

Selain itu ada pula karya tulisan beliau dalam ukuran besar dan AL_QUR'AN
tulisantangan beliau dalam ukuran besar dan dengan khath yang sangat indah di Museum nasional Banjarbaru Kalimantan Selatan.

Kitab - kitab beliau tersebut sampai sekarang masih dijadikan bahan kajian dan pelajaan ,bahkan sebagai bahan pegangan dalam melaksanakan ibadat,terutama kitab Sabilal Muhtadin.Kitab Sabilal Muhtadin ini tersiar luas di Asia Tenggara bahkan sampai ke Mekkah dan Mesir , dan ini merupakan salah satu karamah ( kemulian ) beliau.

maulan Syekh Muhammad Arsyad Al-banjari mempunyai 11 (sebelas) orang istri,dan mempunyai 30 (tiga puluh ) orang anak,istri-istri beliau adalah:

1. Tuan Bajut.
2. Tuan Bidur.
3. Tuan Lipur.
4. Tuan Guwat.
5. Tuan ratu Aminah.
6. Tuan Gandar Manik.
7. Tuan Palung.
8. Tuan Turiah.
9. Tuan Daiy.
10. Tuan markidah.
11. Tuan Liyuh.

Karamah (Kemulian) beliau adalah makam beliau yang sampai sekarang sangat ramai diziarahi orang.Dengan ziarahnya orang-orang yang datang dari segala penjuru Kalimantan dan Luar Kalimantan,mereka membagi - bagikan hadiah pada penduduk Kalampayan yang ada disekitar makam itu.Hal ini adalah nikmat dan rizeki bagi masyarakat sekitar makam beliau,dengan kata lain,walau beliau sudah lama meninggal dunia, beliau masih dapat membantu penduduk kampung sekitar makam beliau.
read more...

Masjid Su'ada Termasuk Masjid Tertua di Kalimantan Selatan

Masjid Sua,ada termasuk masjid tua yang dibangun tahun 1908. Masjid ini terletak di Wasah Hilir, Simpur, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Pendiri masjid ini adalah Syekh Abbas bin Syekh Abdul Jalil dan Syeh Muhammad Said bin Syekh Sa’dudin, dibantu oleh H. Banan (Pambakal Wasah Hilir) dan H.Ishaq (Penghulu Wasah Hilir), Asmail, Burahat, Jala H. Aman, dan H. Mandu. Didirikan diatas tanah wakaf dari Mirun bin Udin dan Asmail bin Abdullah seluas 1047,25 m2. Semua bahan terdiri dari kayu ulin (kayu besi) yang dahulu masih banyak di rimba hutan Kalimantan.
 
 
Masjid Su'ada (Masjid Baangkat) difoto dari samping belakang.

Selasar keliling masjid yang dipagari.

 
Pagar ulin dengan motif kembang.

 
Pintu masjid sangat tinggi dengan kaligrafi dibagian atas.


Gambar dari sudut.



Masjid Sua'ada lebih terkenal dengan nama Masjid Baangkat, artinya masjid panggung, karena kontruksi tongkat masjid berupa panggung.

 
Karena berbentuk bangunan panggung, maka di pintu masuk ada tangga.

 
Plafon kubah yang sangat tinggi.

 
Bedug atau dauh (bahasa Banjar).

 
Tampak depan.

 
Ruangan induk masjid dengan tiang kayu ulin.



Mihrab masjid dengan ukiran motif bunga.

 
Gerbang ruangan imam dengan ukiran.



Penunjuk waktu sholat dengan bantuan sinar matahari. Tertulis Masjid Wasah Ilir tahun 1908 M.



Kontruksi atas bertumpang.


Kubah Syeh H. Abbas bin Syeh Abdul Jalil, yang juga cicit Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Beliau bersama Syeh Muhammad Said bin Syekh Sa’dudin (cicit Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari)
read more...

Jumat, 02 November 2012

Wisata Yang Ada Di Kabupaten Hulu Sungai Selatan

Di bumi Antaludin Kabupaten Hulu Sungai Selatan terdapat beraneka ragam obyek wisata, seperti obyek wisata air panas Tanuhi, air terjun Haratai, air terjun Hanai, goa Berangin Malutu, Goa Mandala, gunung Kentawan, Goa batu Bini, Kalang Hadangan, situs amuk Hantarukung, rumah bersejarah Durian Rabung, rumah Banjar Bumbungan Tinggi, Benteng Madang, pemaningan ikan, Mesjid baangkat, dan lain-lain. Pada masa-masa tertentu dan telah menjadi tradisi rakyat dilaksanakan kegiatan yang mampu menghasilkan gaya magnet untuk menarik wsnu dan wisman serta masyarakat sekitar, seperti aruh ganal, lomba perahu tradisional, begasing, layang-layang hias, layang-layang dandang, bagarakan sahun, malam takbiran, dan arung jeram.



Obyek-obyek wisata dan event tahunan tersebut terhampar pada sebelas kecamatan yang terdapat di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, diantaranya ada yang terletak di pegunungan, di daratan, di rawa, dan di sungai. Semua obyek wisata dan event tahunan yang berada di bumi Antaludin ini merupakan anugerah Allah Yang Maha Kaya, Tuhan sekalian alam yang teramat besar manfaatnya bagi kesejahteraan manusia jika dibina dan dikelola secara profesional.
Informasi tentang keberadaan dan kondisi obyek-obyek wisata dan event tahunan ini akan kami sajikan dengan rangkaian kata yang sederhana. Kedepan, buku informasi wisata ini akan selalu disempurnakan dan ditulis dalam dua bahasa (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) seiring dengan kebutuhan dan dinamika pembangunan kepariwisataan yang ramah lingkungan dan berorientasi pada sapta pesona.


Loksado terletak kurang lebih 40 Km di sebelah timur Kandangan, di kawasan Pegunungan Meratus merupakan wilayah yang menjadi tempat tinggal sisa-sisa masyarakat/orang banjar (orang dayak) yang sebagian besar masih menganut Kepercayaan animisme. Di sekitar Loksado terdapat sejumlah Desa yang dihuni oleh orang Dayak. Mereka tinggal di rumah panjang (Balai) yang merupakan rumah tradisional orang Dayak di wilayah ini. Kemajuan peradapan akibat dari arus informasi yang mengglobal menyebabkan orang-orang Dayak Loksado yang dulunya tinggal di Balai saat ini sebagian kecil sudah memiliki rumah sendiri sebagaimana kebanyakan rumah-rumah di pedalaman lainnya. Sehingga Balai digunakan mereka untuk melaksanakan Aruh Ganal.



Loksado merupakan desa pasar yang cukup penting bagi wilayah sekitarnya. Desa ini merupakan satu-satunya tempat yang masih bisa dicapai dengan mobil. Tempat ini merupakan titik awal bagi wisatawan untuk memulai trekking jika ingin mengeksplorasi wilayah ini.



Kurang lebih 8 Km sebelum Loksado terdapat sebuah desa yang memiliki sumber air panas bernama Air Panas Tanuhi. Di tempat ini telah dibangun cottage dengan arsitektur yang unik yang dilengkapi dengan kolam renang, kolam air panas berendam, kolam air panas gelembung, cafeteria, kantor pengelola, jalan dan jembatan, sanitasi dan loket pos jaga (security), lapangan tenis, tempat santai/istirahat, 10 buah cottage yang mampu menampung 20 orang wisatawan, lanscafe Area. Apabila kita berada di lokasi ini, maka kita akan banyak memperoleh keunggulan, karena disamping menikmati air panas, berenang, berolah raga, juga dengan leluasa dapat memandang alam Loksado yang dikelilingi dengan pegunungan. Di sini pikiran kita jadi jernih, hati kita terasa damai dan tubuh kita terasa nyaman. Oleh karena itu ayo kita tamasya ke Air Panas Tanuhi.



Obyek wisata ini terletak di desa Telaga Bidadari Kecamatan Sungai Raya dengan jarak kurang lebih 8 Km dari kota Kandangan yang dapat ditelusuri dengan mobil. Apabila kita jalan-jalan ke desa Telaga Bidadari kita akan menemukan sumur tua yang tidak akan kering walapun kemarau panjang yang disebut orang Telaga Bidadari.



Telaga ini berukuran 3 x 2 M dengan kedalaman 2 meter, terletak di kawasan tanah pematang yang diteduhi pepohonan. Disepanjang jalan menuju Telaga Bidadari terdapat berbagai macam home industri yang memproduksi ku kering, dodol, kuaci bigi waluh dan ketupat Kandangan. Cerita tentang Telaga Bidadari yang lebih terurai dapat dibaca pada buku Legenda Telaga Bidadari.



Jika anda jalan-jalan ke kecamatan Padang Batung sebalah utara akan bertemu dengan sebuah desa yang bernama Madang dengan dataran cukup tinggi menyerupai sebuah gunung. Dataran tinggi tersebut kemudian di tata dan dibuat oleh Tumenggung Antaluddin atas permintaan dari Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman kemudian dijadikan benteng pertahanan pasukan Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman dalam menghadapi serangan serdadu Belanda.
Tercatat ada lima kali serangan yang dilakukan oleh serdadu belanda dan semuanya dapat dikalahkan oleh pasukan Pangeran Hadayatullah dan Demang Lehman. Serangan-serangan serdadu Baelanda dilakukan pada tanggal 3,4,13,18 dan 22 september 1860. Pada serangan yang keempat tanggal 18 September 1860, pasukan infantry serdadu bgelanda yang dipimpin oleh Kapten Koch dihajar habis-habisan oleh pasukan Pangeran Hidayatullah dan Demang lehman, sehingga banyak serdadu Belanda yang tewas termasuk Kapten Koch.
Saat ini Benteng Madang telah ditata dan direnovasi oleh Pemda HSS dengan anak tangga lebih dari 400 buah dan dapat dijelajahi dengan menggunakan mobil dengan jarak ± 8 Km dari Kota Kandangan.



Jika anda ke Kabupaten Hulu Sungai Selatan, jangan lupa ke desa Hantarukung yang jaraknya ± 7 Km dari kota Kandangan dengan kondisi jalan yang cukup baik (beraspal).
Pada tanggal 18 September 1899 telah terjadi pemberontakan Amuk Hantarukung yang dipelopori oleh Bukhari, Landuk dan Matamin guna menjunjung titah Sultan Muhammad Seman putera Pangeran Antasari dengan semboyan “Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing”. Rakyat Hantarukung tidak bersedia lagi mengerjaka penggalian “garis” Amandit-negara yang diperintahkan oleh Kolonial belanda. Dalam peristiwa ini telah terbunuh Mr. Controler Domes dan Adspranti Wehonleshen serta seorang anak emasnya.
Kejadian terbunuhnya Controler dan Adspirant tersebut segera sampai kepada pejabat Belanda di Kandangan. Pejabat Belanda itu itu sangat marah dan pada tanggal 19 September sekitar pukul 13.00 siang pasukan Belanda datang untuk mengadakan pembalasan dan terjadilah pertempuran sengit antara pasukan Belanda dengan penduduk yang di pelopori oleh bukhari, Landuk dan H. Matamin
Peristiwa ini berlanjut dengan terjadinya pembersihan secara kejam oleh pasukan Belanda terhadap penduduk di Desa hantarukung, Hamparaya, Ulin, Wasah Hilir dan Simpur.
Pada pertempuran tersebut telah gugur sebagai kusuma bangsa dan insya Allah Syahid disisi Allah yakni Bukhari, H.Matamin, Landuk dan Pangeran Yuya. Selain mereka ada juga yang ditangkap oleh Belanda sebanyak 23 orang, diantaranya ada yang mati dalam penjara, ada yang mati digantung dan ada yang dibuang ke luar daerah. Mereka yang mati digantung dikuburkan dipekuburan “Bawah Tandui” di Desa Hantarukung dan dipekuburan “Telaga Gajah” di Desa Amparaya Kecamatan simpur.



Makam Tumpang Talu terletak di Kampung Parincahan Kecamatan Kandangan, berjarak sekitar 1 Km dari pusat kota Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Makam ini adalah makam tiga orang pejuang yakni Bukhari, Landuk dan H.Matamin dalam satu lubang yang gugur pada peristiwa pemberontakan Amuk Hantarukung tanggal 19 September 1899.



Rumah bersejarah ini terletak di desa Durian Rabung Kecamatan Padang Batung, berjarak sekitar 8 Km dari kota Kandangan. Rumah ini milik H.Abdul Kadir yang digunakan sebagai tempat Rapat Pimpinan Markas Besar ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan. Kadang-kadang Bapak Gerilya Kalimantan Brigjen H. Hassan Basry beristirahat di rumah ini.
Kondisi rumah besejarah ini sukup memprihatinkan dan secara bertahap telah direnovasi baik oleh Pemda Hulu Sungai Selatan maupun Pemda Propinsi Kalimantan Selatan tanpa merubah bentuk dantata ruang. Di halaman bagian depan rumah bersejarah ini telah dibangun Tugu Peringatan peristiwa Rapat Pimpinan markas Besar ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan.



Jika anda berwisata ke bumi antaludin, maka mampirlah di makam Al Allamah Syekh H. Sa’dudin (H.M Thayib) di Taniran Kecamatan angkinang yang jaraknya ± 8 km dari kota Kandangan. Beliau merupakan buyut dari pengarang kitab Sabilal Muhtadin, Datu Kelampayan Syekh Maulana H.Muhammad Arsyad Al Banjari. Beliau termasuk sala seorang wali Allah SWT yang sepanjang hidupnya digunakan untuk da’wah agama Islam guna menegakkan kalimat Tauhid agar manusia selamat dunia dan akhirat. Untuk lebih jelasnya mengenai keadaan beliau dimasa hidupnya dapat dipelajari melalui biografi atau manakib beliau.
Makam/kubah Datu Taniran ini merupakan makam yang paling sering dan banyak dikunjungi orang, jika dibandingkan dengan makam/kubah lainya yang terdapat di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.



Al Allamah Syekh H. Akhmad (Datu Akhmad) bin H. M. As’ad bin Syarifah binti Syekh Maulana H. Muhammad Arsyad Al Banjari merupakan ulama yang selama hidupnya mengabdikan diri kepada allah SWT yakni menegakkan dan menyebarkan agama Islam. Beliau mengajarkan Al Qur’an dan Ilmu Tauhid di Desa Balimau Kecamatan Kalumpang Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang letaknya pada daerah perairan yang diapit oleh sungan Balimau dan padang hutan persawahan.
Ibunya bernama Hamidah penduduk asli Desa Balimau, adapun kakak Datu Akhmad yaitu:
a. Al Allamah Syekh H. Abu Thalhah, meninggal dan di makamkan di Kutai, Kalimantan Timur
b. Al Allamah Syekh H. Abdul Hamid, meninggal dan di makamkan di Sampit, Kalimantan Tengah
c. Al Allamah Syekh H. M. Arsyad, meninggal dan di makamkan di Pagatan, Kalimantan Selatan
Sedangkan adik datu Akhmad yakni Al Allamah Syekh H. M. Thayyib (H.Sa’dudin), meninggal dan di makamkan di Taniran, Kecamatan Angkinan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, propinsi Kalimantan Selatan.
Al Allamah Syekh H. Akhmad, diperkirakan meninggal pada abad ke-18 dan dan di makamkan di Pematang Darat komplek kuburan umum. Tatkala akan diadakan haulan, maka pada suatu malam cucu beliau bernama H. Suleman Kuderi di Amuntai, bermimpi bahwa Datu Akhmad merasa kepanasan dan minta dipindahkanmakamnya ke tempat lain, setelah itu sang cucu Shalat sunat dua rakaat untuk meminta petunjuk Allah SWT, kemudian diperiksa di atas kuburan/makam ternyata terdapat tanda putih. Selanjutnya digalilah kuburan/makam tersebut, ternyata jasad/tubuhnya tetap utuh seperti semula. Kemudian kuburannya/makamnya dipindahkan ke Desa Balimau sekitar 40 m dari jalan raya Balimau berseberangan dengan Mesjid dan jauhnya ± 15 km dari kota Kandangan.
Pada tahun 1915 di atas makam itu dibangun kubah dengan ukuran 4 x 8 m. Saat ini makam tersebut sering dan banyak diziarahi ummat Islam, baik berasal dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan maupun luar Kabupaten Hulu Sungai Selatan, terutama pada tanggal 17 Rabiul Awal saat haulan dilaksanan yang dipimpin oleh Al Allamah al arifbillah K. H. Muhammad Zaini Gani guru sekumpul Martapura Kalimantan Selatan.



Mesjid Su’ada atau Mesjid baangkat didirikan oleh Al Allamah Syekh H. Abbas dan Al Allamah Syekh H. Said bin Al Allamah Syekh H. Sa’dudin pada tanggal 28 Zulhijjah 1328 H bersamaan dengan tahun 1908 M yang terletak di desa Wasah Hilir Kecamatan Simpur yang jaraknya ± 7 km dari kota Kandangan. Mesjid ini didirikan di atas tanah wakaf milik Mirun bin Udin dan Asmail bin Abdullah seluas 1047,25 m persegi.
Bentuk bangunan induk mesjid su’ada yakni persegi empat, bertingkat tiga, mempunyai loteng menutup gawang/puncah dan petala/petaka yang megah. Semua itu memunyai makna tertentu sebagai berikut:
a. Tingkat pertama mengandung makna Syariat
b. Tingkat kedua mengandung makna Thariqat
c. Tingkat ketiga mengandung makna Hakikat
d. Loteng mengandung makna Ma’rifat
e. Petala/petaka yang megah berkilauan yang dihiasi oleh cabang-cabang yang sdang berbunga dan berbuah melambangkan kesempurnaan Ma’rifat
Banyak peristiwa yang terjadi seolah-olah aneh, tidak rasional tapi nyata ketika akan dan sedang dalam pembangunan Mesjid tersebut, seperti angina topan bertiup luar biasa keras dan derasnya yang menyebabkan sebatang pohon asam yang besar telah condong sekali akan minmpa rumah Al Allamah Syekh H. M. Said (pendiri Mesjid Su’ada). Dilihat kejadian ini, Al Allamah tersebut mendekati pohon tersebut dan mendorongnya dengan berlawanan arah, maka dengan pertolongan Allah SWT angin topan yang dahsyat itu berbalik arah sehingga pohon asam ini tumbang dan selamatlah ulama tersebut.
Kejadian lain yakni salah satu tiang utama Mesjid kurang panjang ± 10 cm, sehingga mengalami kesulitan untuk pendirian bangunan Mesjid. Dengan izin Allah, keesokkan harinya tiang tersebut menjadi bertambah panjang sesuai kebutuhan. Peristiwa lainnya, yakni ditengah perjalanan antara Kalumpang dan Negara, rombongan Al Allamah Syekh H. M. Said kehabisan ikan untuk makan, tiba-tiba seekor ikan besar melompat ke perahu mereka dan akhirnya mereka mempunyai ikan untuk makan bersama. Kejadian lainnya yakni rombongan tersebut pada malam hari di perahu tidak bisa tidur karena kenyamukan, tiba-tiba dengan pertolongan Allah SWT, ternyata nyamuk tersebut menghilang, sehingga rombongan Al Allamah Syekh H. M. Said dapat tidur.

Wisata Budaya



Melalui intervieu berstruktur dengan pengurus PERMADA (Persatuan Masyarakat Dayak) Loksado dib alai Informasi (sekretarian PERMADA) diperoleh informasi bahwa ada tiga kalai aruh ganal yang dilaksanakan oleh masing-masing balai di atas pada setiap tahun. Aruh ganal tersebut dilaksanakan pada malam hari yaitu:
1. Aruh Basambu
Aruh ganal ini biasanya dilaksanakan pada bulan Februari, yakni ketika orang dayak selesai melaksanakan tanam padi (behuma / menugal).
2. Aruh Bawanang Lalaya
Aruh ganal ini biasanya dilaksanakan pada bulan Juni, yakni ketika masyarakat dayak melaksanakan panen padi.
3. Aruh Bawang Banih Halin
Aruh ganal ini biasanya dilaksanakan pada bulan September. Aruh ini merupakan aruh penutup karena masarakat dayak Loksado telah selesai melaksanakan panen padi.



Acara aruh ganal diisi dengan berbagai tarian adat yang lamanya antara 3 sampai 9 hari. Tarian adat yang disajikan pada aruh ganal tersebut seperti Batandik, tari Kanjar dan tari Bangsai. Perlengkapan yang dipergunakan pada tari batandik yakni sarung, ikat pinggang kain putih, gelang hiayang, laung, gendang, manyan, kapur, baju dan celana. Pada tari kanjar perlengkapan yang diperguanakan yakni baju lengan panjang, ikat pinggang kuning, laung dan celana, sedangkan pada tari bangsai dengan penarinya khusus wanita menggunakan baju kebaya, kakamban, dan tapih bahalai.

Kegiatan tradisional yang dimiliki oleh orang dayak Loksado yang masih akses sampai sekarang yakni:
1. Naik dari manau (bersifat ghaib)
2. Tari kurung-kurung
3. Basambui (orang sakit diobati secara kebathinan)
4. Sumbiyang (membuat orang jadi sakit kemudian disembuhkan).

Sekian dahulu informasi wisata di Kandangan, semoga di lain kesempatan informasi ini dapat di update dengan info terbaru.

Sumber: Dinas Pariwisata dan Budaya kabupaten Hulu Sungai Selatan.
read more...

Asal Mula Nama Marabahan


Marabahan adalah salah satu ibukota kabupaten di Kalimantan Selatan yaitu Kabupaten Barito Kuala. Kabupaten ini merupakan satu-satunya kabupaten yang 100% rawa-rawa, seluruh wilayahnya terletak di daerah aliran sungai Barito.
Asal nama Marabahan memiliki dua versi cerita. Versi pertama adalah sebagai berikut : nama Marabahan berasal dari kata Muara Bahan, karena letaknya di persimpangan sungai besar yaitu Sungai Barito dan Sungai Nagara. Setiap musim hujan air bah yang sampai ke Muara Bahan selalu membawa kayu-kayu hutan di hulu Barito yang hanyut sampai ke hilir. Oleh masyarakat setempat kayu-kayu ini diambil dan disimpan, saking banyaknya sehingga daerah ini terkenal dengan nama asal bahan-bahan kayu. Sehingga setiap orang menyebut daerah ini dengan Muara Bahan. Akhirnya setelah mengalami beberapa perubahan kata menjadilah nama Marabahan sebagai sebutan daerah tersebut.
Versi kedua adalah sebagai berikut :
Pada jaman dahulu di daerah hulu sungai yaitu disekitar Kandangan, tumbuh sebuah pohon ulin (kayu besi) yang sangat tinggi dan besar. Pada mulanya, masyarakat di sekitar pohon ulin merasa tidak terganggu, namun sejak kehadiran seekor burung besar yang bersarang di pohon tersebut, masyarakat merasa terganggu dengan suara burung yang terus memkik sepanjang malam. atas kesepatan masyarakat, akhirnya diputuskan pohon ulin tersebut di tebang dengan harapan burung besar tersebut akan berpindah.
dimulailah penebangan pohon ulin oleh masyarakat dengan alat tardisional. Karena pohon yang ditebang sangat besar, penebangan memakan waktu berminggu-mingu, namun masyarakat terus berupaya sampai akhirnya pohon ulin tersebut tumbang ke arah selatan. Saking tingginya pohon tersebut pucuknya sampai menimpa daerah yang sekarang dinamanakan Marabahan. Artinya daerah ini mengalami "karabahan" pohon ulin. Tempat tumbuhnya pohon ulin tersebut sekarang dinamakan Kampung Ulin, yaitu sekitar 7 km arah barat Kandangan.
Demikian legenda nama asal mula Marabahan, terlepa dari benar tidaknya cerita ini, Wallahu 'alam.

seurce
read more...

Kamis, 18 Oktober 2012

Hantu Anak Sima Bayi Pemakan Jantung ( Cerita rakyat pahuluan, Kalimantan Selatan )


Cerita rakyat Anak Sima ini penuh misteri, ada beberapa sumber yang saya temui menceritakan bahwa sewaktu beliau kecil memang pernah mendengar jeritan tangis Anak Sima. Cerita ini berkembang di daerah hulu sungai, waktu itu pernah menjadi cerita yang menghebohkan tetapi sekarang tidak banyak lagi anak muda yang mengetahui kisahnya.
Anak Sima berasal dari anak kapang (anak terlahir dari hubungan tidak sah), karena merupakan anak hubungan gelap maka ibu sang bayi membuangnya ke dalam hutan lebat setelah dilahirkan, untuk membuang rasa malu. Bayi yang baru lahir ini menangis sejadi-jadinya karena ia merasa lapar dan kedinginan. Berhari-hari menangis tidak ada seorang pun yang mendengar sehingga hampir mati.
Tiba-tiba saat itu lewatlah Takau (jenis hantu paling kuat dalam cerita rakyat Kalsel, bisa berubah bermacam bentuk dan ilmunya sangat tinggi). Takau yang lewat ini sangat kelaparan, saat ia mendengar tangisan bayi segera ia menuju ke sumber suara.
” aumm (takau dalam bentuk macan) laparnya ai parut ku, nyaman banar bisa bayi ngini lamun kumakan” geram Takau (lapar sekali perutku, sungguh lezat kalau bayi ini kumakan).
Takau pun segera mendekati bayi itu, bayi yang menangis disentuhnya tiba-tiba berhenti menangis. Takau terpesona melihat kecakapan anak ini. Rambutnya ikal,hidung mancung, matanya bulat, bibirnya merah delima, dan tersenyum dengan sangat manis. Takau berubah menjadi bentuk manusia, digendongnya dengan mesra bayi itu, di dalam hatinya tidak ada lagi maksud untuk memakan bayi ini.
“bah, baik ku bawa bulik haja bayi ngini, bungas banar, kujadiakan anakku, kusayangi wan kupalihara” kata Takau kegirangan (wah, sebaiknya kubawa pulang saja bayi ini, cantik sekali, aku jadikan anakku, aku sayangi dan aku pelihara). Bertahun-tahun Takau memelihara bayi yang diberinya nama Anak Sima, tetapi anehnya Anak Sima ini tidak bertambah dewasa bentuknya tetap seorang bayi. Karena dipelihara oleh hantu, maka Anak Sima pun memiliki ilmu hantu dari Takau. Takau dan Anak Sima selalu mengembara ke hutan-hutan, kadang digendong kadang dihambin(digendong di punggung/dibopong) Takau sangat menyayangi Anak Sima. Saat Anak Sima lapar maka ia akan pergi sendiri mencari makanannya. Jenis makanan yang paling disukai Anak Sima adalah jantung manusia hidup.
Anak Sima mempunyai ilmu yang lumayan hebat semacam ilmu pengasih, dengan tangisannya orang akan terpesona sehingga mencari-cari sumber suara, setelah orang itu mendekat Anak Sima dengan mesra akan memanggil orang itu ‘Uma-Uma’ (mama). Orang yang dipanggil akan merasa kasihan dan sayang sehingga tidak mampu menahan keinginan untuk menggendong Anak Sima.
Pada suatu ketika, ada seorang ibu tua yang sedang mengumpulkan kayu bakar memasak di hutan. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh bunyi suara tangisan bayi, meskipun dalam pikirannya bingung ada tangis bayi dalam hutan, tetapi tangisan itu sangat menggoda untuk dicari. Diperhatikannya sekeliling untuk mencari sumber tangisan itu, didekatinya, ketika sampai dibawah pohon dilihatnya ada seorang bayi yang sangat cantik rupanya.
“Uma” ujar bayi itu. Perempuan tua sangat terkejut mendengar panggilan itu. Langsung saja timbul rasa iba dan sayangnya pada bayi ini. Segera didekatinya bayi yang tadi memanggilnya dengan sebutan mama.
“kur sumangat, anakku” ujarnya (semacam panggilan orang Melayu Banjar, maksudnya mengembalikan semangat yang hilang). Bayi ini segera digendongnya, tetapi anehnya si bayi hanya mau dihambin. Kehendaknya dituruti oleh ibu tua, dalam perjalanan pulang ke rumah dihambinnya bayi ini yang tak lain adalah Anak Sima.
Semakin jauh perjalanan, si perempuan tua semakin merasakan punggungnya berat dan pedih, padahal si bayi badannya ringan. Karena tidak tahan lagi ia pun menengok ke belakang, tetapi yang dilihatnya sangat mengerikan, Anak Sima sedikit demi sedikit memakan daging punggungnya sampai berlubang setelah itu diambilnya jantung kemudian dimakannya. Perempuan tua yang sudah diambil jantungnya segera ditinggalkan lari ke dalam hutan.
Begitulah cara Anak Sima menjerat korbannya. Begitu banyak korban berjatuhan di dalam hutan karena terpesona oleh Anak Sima ini. Semua korban ditemukan dalam keadaan yang hampir sama, tubuh bagian belakang berlubang dan jantungnya telah hilang.
Di daerah yang menjadi sumber cerita ini, sering terdengar bunyi tangisan bayi di samping rumah. Bayi ini menangis sambil memanggil Uma kepada orang di dalam rumah. Bagi yang sudah tahu maka akan menyahut “Aku lainan uma ikam. Uma ikam di anu / di kampung anu” (aku bukan ibumu, ibumu di anu / di kampung anu). Maka Anak Sima yang mendengar jawaban tadi akan segera pergi ke tempat yang disebutkan oleh yang punya rumah. Sehingga terhindarlah mereka dari ancaman Anak Sima.
Menurut kepercayaan, rambut Anak Sima mampu memberi ilmu. Barangsiapa yang memiliki rambut Anak Sima akan mempunyai ilmu menghilang, kebal senjata, dan kaya raya. Tetapi sampai saat ini menurut cerita tidak ada seorang pun yang mampu menangkap Anak Sima untuk dipotong rambutnya.
read more...

Minggu, 18 Maret 2012

Asal Usul Nama Banjarmasin

Pada zaman dahulu berdirilah sebuah kerajaan bernama Nagara Daha. Kerajaan itu didirikan Putri Kalungsu bersama putranya, Raden Sari Kaburangan alias Sekar Sungsang yang bergelar Panji Agung Maharaja Sari Kaburangan. Konon, Sekar Sungsang seorang penganut Syiwa. la mendirikan candi dan lingga terbesar di Kalimantan Selatan. Candi yang didirikan itu bernama Candi Laras. Pengganti Sekar Sungsang adalah Maharaja Sukarama. Pada masa pemerintahannya, pergolakan berlangsung terus-menerus. Walaupun Maharaja Sukarama mengamanatkan agar cucunya, Pangeran Samudera, kelak menggantikan tahta, Pangeran Mangkubumi-lah yang naik takhta.
Kerajaan tidak hentinya mengalami kekacauan karena perebutan kekuasaan. Konon, siapa pun menduduki takhta akan merasa tidak aman dari rongrongan. Pangeran Mangkubumi akhirnya terbunuh dalam suatu usaha perebutan kekuasaan. Sejak itu, Pangeran Tumenggung menjadi penguasa kerajaan.
Pewaris kerajaan yang sah, Pangeran Samudera, pasti tidak aman jika tetap tinggal dalam Lingkungan kerajaan. Atas bantuan patih Kerajaan Nagara Daha, Pangeran Samudera melarikan diri. Ia menyamar dan hidup di daerah sepi di sekitar muara Sungai Barito. Dari Muara Bahan, bandar utama Nagara Daha, mengikuti aliran sungai hingga ke muara Sungai Barito, terdapat kampung-kampung yang berbanjar-banjar atau berderet-deret melintasi tepi-tepi sungai. Kampung-kampung itu adalah Balandean, Sarapat, Muhur, Tamban, Kuin, Balitung, dan Banjar.
Di antara kampung-kampung itu, Banjar-lah yang paling bagus letaknya. Kampung Banjar dibentuk oleh lima aliran sungai yang muaranya bertemu di Sungai Kuin.
Karena letaknya yang bagus, kampung Banjar kemudian berkembang menjadi bandar, kota perdagangan yang ramai dikunjungi kapal-kapal dagang dari berbagai negeri. Bandar itu di bawah kekuasaan seorang patih yang biasa disebut Patih Masih. Bandar itu juga dikenal dengan nama Bandar Masih.
Patih Masih mengetahui bahwa Pangeran Samudera, pemegang hak atas Nagara Daha yang sah, ada di wilayahnya. Kemudian, ia mengajak Patih Balit, Patih Muhur, Patih Balitung, dan Patih Kuin untuk berunding. Mereka bersepakat mencari Pangeran Samudera di tempat persembunyiannya untuk dinobatkan menjadi raja, memenuhi wasiat Maharaja Sukarama.
Dengan diangkatnya Pangeran Samudera menjadi raja dan Bandar Masih sebagai pusat kerajaan sekaligus bandar perdagangan, semakin terdesaklah kedudukan Pangeran Tumenggung. Apalagi para patih tidak mengakuinya lagi sebagai raja yang sah. Mereka pun tidak rela menyerahkan upeti kepada Pangeran Tumenggung di Nagara Daha.
Pangeran Tumenggung tidak tinggal diam menghadapi keadaan itu. Tentara dan armada diturunkannya ke Sungai Barito sehingga terjadilah pertempuran besar-besaran. Peperangan berlanjut terus, belum ada kepastian pihak mana yang menang. Patih menyarankan kepada Pangeran Samudera agar minta bantuan ke Demak. Konon menurut Patih Masih, saat itu Demak menjadi penakluk kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa dan menjadi kerajaan terkuat setelah Majapahit.
Pangeran Samudera pun mengirim Patih Balit ke Demak. Demak setuju nnemberikan bantuan, asalkan Pangeran Samudera setuju dengan syarat yang mereka ajukan, yaitu mau memeluk agama Islam. Pangeran Samudera bersedia menerima syarat itu. Kemudian, sebuah armada besar pun pergi menyerang pusat Kerajaan Nagara Daha. Armada besar itu terdiri atas tentara Demak dan sekutunya dari seluruh Kalimantan, yang membantu Pangeran Samudera dan para patih pendukungnya. Kontak senjata pertama terjadi di Sangiang Gantung. Pangeran Tumenggung berhasil dipukul mundur dan bertahan di muara Sungai Amandit dan Alai. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Panji-panji Pangeran Samudera, Tatunggul Wulung Wanara Putih, semakin banyak berkibar di tempat-tempat taklukannya.
Hati Arya Terenggana, Patih Nagara Dipa, sedih melihat demikian banyak korban rakyat jelata dari kedua belah pihak. Ia mengusulkan kepada Pangeran Tumenggung suatu cara untuk mempercepat selesainya peperangan, yakni melalui perang tanding atau duel antara kedua raja yang bertikai. Cara itu diusulkan untuk menghindari semakin banyaknya korban di kedua belah pihak. Pihak yang kalah harus mengakui kedaulatan pihak yang menang. Usul Arya Terenggana ini diterima kedua belah pihak.
Pangeran Tumenggung dan Pangeran Samudera naik sebuah perahu yang disebut talangkasan. Perahu-perahu itu dikemudikan oleh panglima kedua, belah pihak. Kedua pangeran itu memakai pakaian perang serta membawa parang, sumpitan, keris, dan perisai atau telabang.
Pangeran Samudera Asal Mula Nama Kota BanjarmasinMereka saling berhadapan di Sungai Parit Basar. Pangeran Tumenggung dengan nafsu angkaranya ingin membunuh Pangeran Samudera. Sebaliknya, Pangeran Samudera tidak tega berkelahi melawan pamannya. Pangeran Samudera mempersilakan pamannya untuk membunuhnya. Ia rela mati di tangan orang tua yang pada dasarnya tetap diakui sebagai pamannya.
Akhirnya, luluh juga hati Pangeran Tumenggung. Kesadarannya muncul. la mampu menatap Pangeran Samudera bukan sebagai musuh, tetapi sebagai keponakannya yang di dalam tubuhnya mengalir darahnya sendiri. Pangeran Tumenggung melemparkan senjatanya. Kemudian, Pangeran Samudera dipeluk. Mereka bertangis-tangisan.
Dengan hati tulus, Pangeran Tumenggung menyerahkan kekuasaan kepada Pangeran Samudera. Artinya, Nagara Daha ada di tangan Pangeran Samudera. Akan tetapi, Pangeran Samudera bertekad menjadikan Bandar Masih atau Banjar Masih sebagai pusat pemerintahan sebab bandar itu lebih dekat dengan muara Sungai Barito yang telah berkembang menjadi kota perdagangan. Tidak hanya itu, rakyat Nagara Daha pun dibawa ke Bandar Masih atau Banjar Masih. Pangeran Tumenggung diberi daerah kekuasaan di Batang Alai dengan seribu orang penduduk sebagai rakyatnya. Nagara Daha pun menjadi daerah kosong.
Sebagai seorang raja yang beragama Islam, Pangeran Samudera mengubah namanya menjadi Sultan Suriansyah. Hari kemenangan Pangeran Samudera atau Sultan Suriansyah, 24 September 1526, dijadikan hari jadi kota Banjar Masih atau Bandar Masih.
Karena setiap kemarau landang (panjang) air menjadi masin (asin), lama-kelamaan nama Bandar Masih atau Banjar Masih menjadi Banjarmasin.
Akhirnya, Sultan Suriansyah pun meninggal. Makamnya sampai sekarang terpelihara dengan baik dan ramai dikunjungi orang. Letaknya di Kuin Utara, di pinggir Sungai Kuin, Kecamatan Banjar Utara, Kota Madya Daerah Tingkat II Banjarmasin.
Setiap tanggal 24 September Wali Kota Madya Banjarmasin dan para pejabat berziarah ke makam itu untuk memperingati kemenangan Sultan Suriansyah atas Pangeran Tumenggung. Sultan Suriansyah adalah sultan atau raja Banjar pertama yang beragama Islam.
read more...

Cerita Rakyat Banjar : Puteri Junjung Buih

Oleh: Nurbaidah Hanifah Al-Banjari
 
            Tersebutlah kisah sebuah kerajaan bernama Amuntai di Kalimantan Selatan. Kerajaan itu diperintah oleh dua bersaudara. Raja yang lebih tua bernama Patmaraga, atau diberi julukan Raja Tua. Adiknya si Raja muda bernama Sukmaraga. Kedua raja tersebut belum mempunyai putera ataupun puteri.
 
      Namun di  antara keduanya, Sukmaraga yang berkeinginan besar untuk mempunyai putera. Setiap malam ia dan permaisurinya memohon kepada para dewa agar dikarunia sepasang putera kembar. Keinginan tersebut rupanya akan dikabulkan oleh para dewa. Ia mendapat petunjuk untuk pergi bertapa ke sebuah pulau di dekat kota Banjarmasin. Di dalam pertapaannya, ia mendapat wangsit agar meminta istrinya menyantap bunga Kastuba. Sukmaraga pun mengikuti perintah itu. Benar seperti petunjuk para dewa, beberapa bulan kemudian permaisurinya hamil. Ia melahirkan sepasang bayi kembar yang sangat elok wajahnya.

             Mendengar hal tersebut, timbul keinginan Raja Tua untuk mempunyai putera pula. Kemudian ia pun memohon kepada para dewa agar dikarunia putera. Raja Tua bermimpi disuruh dewa bertapa di Candi Agung, yang terletak di luar kota Amuntai. Raja Tua pun mengikuti petunjuk itu. Ketika selesai menjalankan pertapaan, dalam perjalanan pulang ia menemukan sorang bayi perempuan sedang terapung-apung di sebuah sungai. Bayi tersebut terapung-apung diatas segumpalan buih. Oleh karena itu, bayi yang sangat elok itu kelak bergelar Puteri Junjung Buih.
 
            Raja Tua lalu memerintahkan pengetua istana, Datuk Pujung, untuk mengambil bayi tersebut. Namun alangkah terkejutnya rombongan kerajaan tersebut, karena bayi itu sudah dapat berbicara. Sebelum diangkat dari buih-buih itu, bayi tersebut meminta untuk ditenunkan selembar kain dan sehelai selimut yang harus diselesaikan dalam waktu setengah hari. Ia juga meminta untuk dijemput dengan empat puluh orang wanita cantik.
 
           Raja Tua pun lalu menyayembarakan permintaan bayi tersebut. Ia berjanji untuk mengangkat orang yang dapat memenuhi permintaan bayi tersebut menjadi pengasuh dari puteri ini. Sayembara itu akhirnya dimenangkan oleh seorang wanita bernama Ratu Kuripan. Selain pandai menenun, iapun memiliki kekuatan gaib. Bukan hanya ia dapat memenuhi persyaratan waktu yang singkat itu, Ratu Kuripan pun menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat mengagumkan. Kain dan selimut yang ditenunnya sangatlah indah. Seperti yang dijanjikan, kemudian Raja Tua mengangkat Ratu Kuripan menjadi pengasuh si puteri Junjung Buih. Ratu Kuripan  ikut berperanan besar dalam hampir setiap keputusan penting menyangkut sang puteri.
read more...